September Hitam

September Hitam Event September Hitam Event

ADVERTORIAL MP, UNPAR – September Hitam dalam konteks Indonesia bukan hanya peristiwa berdarah satu babak. Ia menjelma menjadi sebuah monumen peringatan yang tak diakui sampai hari ini. September Hitam di Indonesia adalah sebuah penjelasan ketidakbecusan sebuah negara melindungi hak-hak dasar warga negaranya. Lebih dari itu, monumen ini pula membuktikan Ketidakmampuan dan ketidakmauan sebuah negara mengungkapkan kebenaran dan menegakan konstitusi.

September Hitam dalam konteks Indonesia adalah monumen Tragedi kemanusiaan yang hingga kini tak dapat atau tak mau diselesaikan oleh negara.Di babak yang pertama, monumen ini mengisahkan 3 juta orang yang diduga berafiliasi dengan PKI dibantai oleh militer di bulan September 1965. Di babak yang kedua, puluhan warga dihabisi aparat di jalanan puluhan warga dihabisi aparat di jalanan di bulan September 1984. Bulan September 1999 adalah babak ketiganya di mana moncong senjata militer diarahkan ke mahasiswa hingga mengakibatkan pertumpahan darah. Dan puncaknya adalah bulan September 2004, ketika seorang aktivis pembela HAM, Munir Said Thalib, dibunuh dengan racun arsenik. Sebagai penutup, monumen ini bercerita bahwa tidak satu pun dari tragedi-tragedi tersebut yang diselesaikan melalui proses hukum. Tidak, negara tidak mau.

Acara ini bertujuan sebagai sarana kampanye peristiwa-peristiwa Pelanggaran Ham masa lalu dan yang saat ini sedang terjadi sebagai fakta yang harus diungkap oleh pemerintahan Jokowi-JK. Acara ini adalah bagian dari gerakan untuk mensosialisasikan jenis pelanggaran HAM sosial yang saat ini terus bergulir. Acara ini juga mendorong agenda penuntasan Kasus Pelanggaran Ham masa lalu untuk dijadikan prioritas dalam perumusan agenda Kebijakan Tim Transisi Jokowi-JK. Dalam konteks mahasiswa, acara ini ingin mengajak mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi secara langsung menyuarakan kasus pelanggaran HAM melalui media alternative.

Berangkat dari besarnya peran generasi muda semenjak terwujudnya Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat hingga perjuangan revolusi 1998. Karena sejatinya HAM itu melekat pada setiap individu. Sudah seharusnya generasi muda sebagai agent of change untuk mengetahui HAM sebagai sebuah konsep yang lebih mendalam serta implementasinya dan berdiri dibarisan terdepan untuk memperjuangkan keberlangsungannya.

Bertempat di bandung, acara ini juga ingin mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dengan cara yang berbeda, yakni dengan kampanye melalui penyampaian gagasan dengan bentuk “seni” dan kreativitas yang dilihat dapat lebih mudah dimengerti oleh khalayak luas.

 

Tempat dan Waktu 

Kamis, 18 September 2014

Pukul 12.00-22.00 WIB

Gedung Serba Guna Univeristas Katolik Parahyangan, Bandung

Penyelenggara

    Media Parahyangan, Perpustakaan Jalanan, KontraS, Kamisan Bandung

Berikut adalah agenda acara Bandung Melawan Lupa September Hitam:

Diskusi Publik

 Nasib Penegakan HAM di pemerintahan Jokowi-JK

Media Alternatif Kampanye Isu HAM

Pertunjukan Musik

Teman Sebangku

Ukeba

Nada Fiksi

Tetangga Pak Gesang

Vagina Otoritasku

Masturbasi Distorsi

Super Sucker

The Sickness

13%

Senja

Beling

 

Pameran Karya

Berupa Artwork, lukisan dan film hasil kerja kolektif komunitas seni di Bandung yang bertemakan HAM

Pertunjukan Seni

Pantomime Wanggihoed, Pertunjukan seni Act Move, Pertunjukan seni Burdum.

Screening Film 

Payung Hitam, Kiri Hijau Kanan Merah, Kubur Kabar Kabur (AJI Bandung), Bekasi Bergerak (LBH Bandung)

Lapak Media Alternatif

Komunitas-komunitas di kota Bandung Pengisi Lapak Komunitas:

Komunitas Taman Kota, Komunitas Perpus jalanan, Komunitas Perpuszine Bandung, Komunitas pirata, Komunitas OBR, Pers Mahasiswa Bandung Raya, SorgeMagazine, KKBM, Ultimus, dll

Related posts

*

*

Top