Sental-sentil Homo Jakartanesis

dok. Goodreads dok. Goodreads

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris

Seno Gumira Ajidarma

tiadaokel

Penerbit: Mizan, 210 halaman, 2015

Sental-sentil Homo Jakartanesis

Oleh: Kristiana Devina*

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris merupakan kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma (SGA) dari buku-buku terdahulunya yaitu “Affair”, “Kentut Kosmopolitan”, dan Majalah Djakarta! Free Mag. Buku ini membahas mengenai ibu kota Jakarta dengan masyarakatnya yang menjalani kehidupan secara plural, cepat, dan tergesa-gesa. Buku ini memuat 40 esai yang kronologinya dimulai dari tahun 2000 hingga 2013. Meskipun sudah beberapa tahun lamanya namun permasalahan yang terjadi di Jakarta masih relevan dewasa ini. Tulisan-tulisan yang sengaja menyentil kebiasaan hidup masyarakat Jakarta atau yang sering ia sebut sebagai Homo Jakartanesis. Terdapat beberapa tulisan yang membuat kita sebagai pembaca melontarkan kalimat “oh iya ya benar juga”.

Obrolan ringan mengenai Jakarta dan masyarakat urban dalam buku ini sangat menarik untuk dibaca, sensitivitas penulis akan lika-liku kehidupan di Jakarta bisa dibilang sangat tinggi. Dalam buku ini penerbit sengaja membuatnya tidak beraturan atau tidak ditata secara kronologis, ketidakberaturan ini menggambarkan masyarakat urban yang berjalan cepat dan multitasking. Terdapat gambar-gambar kuno seni rakyat nan apik yang disisipkan disetiap penggalan bab baru. Gambar tersebut merupakan koleksi SGA bersama karibnya, Antyo Rentjoko.

Tiada Ojek di Paris, judul buku ini merupakan pertanyaan yang dilontarkan oleh SGA pada saat sebulan terkurung di Paris. Pernahkah kita melihat terdapat ojek yang mangkal disekitaran Menara Eifel?  Jawabannya adalah tentu ojek tidak dibutuhkan di Paris, bagi orang Paris berjalan kaki bukanlah masalah yang terlalu berarti. Para Homo Parisiensis ini merupakan manusia yang terhegemoni ideologi bahwa berjalan kaki itu sehat dan dapat dilangsungkan secepat-cepatnya, dengan kesimpulan bahwa berjalan kaki itu baik.

SGA mencoba membandingkan Paris dengan Jakarta yang di setiap sisi jalan tidak lain tidak bukan berjejer motor dengan plang “Ojek”, kadang-kadang dibubuhi “jalur bebas”. Di Jakarta ojek sering termanfaatkan sebagai kurir yang sangat efektif di tengah kemacetan dalam kota. Para eksekutif muda berdasi menurutnya biasa menggunakan ojek untuk menerobos kemacetan kota kosmopolitan pada jam-jam macet, kemudian di saat seperti ini tukang ojek adalah The Transporter. Jadi, kesimpulan dari perbandingan ini adalah Homo Jakartanesis adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kersa atau ogah berjalan kaki. Satu kalimat penutup yang membuat saya nyengir saat membaca adalah salah satu doa SGA agar supaya Tuhan memberkati para tukang ojek.

Tidak jauh terlepas dari kehidupan para ojek, dalam jalan-jalan raya yang tidak lain tidak bukan disesaki oleh beribu-ribu mobil, SGA menamakan manusia Jakarta adalah manusia Mobil. Tulisan ini sangat menarik bagi saya, selain karena senang mengejek teman-teman yang hidup di Jakarta dengan dunia ketiganya ternyata manusia mobil juga sudah mulai menjalar pada kehidupan manusia Bandung. Tak kurang dari sepertiga waktu dalam hidup manusia Jakarta habis dalam mobil. Menurutnya manusia dan mobil dalam sintesis kemacetan ternyata melahirkan semesta yang unik. Sehingga waktu bagi manusia di Jakarta dibagi menjadi tiga yaitu waktu di kantor, waktu di rumah, dan waktu dalam perjalanan- yang bagi sebagian manusia Jakarta hal itu berada di dalam mobil-. Dalam esainya yang ini SGA sempat berterimakasih pada kemacetan Jakarta yang sudah menjadi dunia ketiga bagi para Homo Jakartanesis.

Masih seputar jalanan, satu esai yang menggelitik untuk dibaca adalah “Zebra Cross”. SGA tidak memberikan dialektika dua sisi hitam putih antara penyebrang jalan dan para pengendara bermotor. Pengendara bermotor selalu tampak garang dalam mengendari dan kerap kali menghadang zebra cross tanpa mengindahkan fungsinya, begitu juga penyebrang jalan yang seenaknya menyebrang baik di zebra cross maupun tidak. Di Jakarta, para pejalan kaki yang mau menyebrang selalu melihat kendaraan yang lewat sebagai ancaman.

Seringkali saat hendak menyebrang dan berpandangan mata dengan pengendara, mereka seakan-akan berkata “Mau menyeberang? Gue dulu, dong!” atau “Sedang menyeberang? Gue tabrak baru tahu lu!”. Saya rasa kejadian tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga di beberapa daerah seperti Bandung. Kejadian tersebut merupakan hal yang sering saya rasakan pada saat akan menyebrang, sehingga terkadang terselip keraguan yang menjadikan saya sebagai penyebrang jalan kebingungan dan muncullah suara klakson yang menghakimi saya bahwa saya telah mengganggu perjalanannya.

Orang-orang bermobil atau bermotor tidak memiliki toleransi terhadap pejalan kaki, alias kelas atas tidak peduli pada kelas bawah. Kelas bawah atau yang digambarkan sebagai pejalan kaki seakan harus mengalah dan memberi jalan, mereka berjuang di luar peraturan yang dibuat kelas atas, yakni berkelebat di sela lalu lintas kehidupan dengan resiko tertabrak. Jelas terlihat, bukan hanya bahasa menunjukkan bangsa, perilaku di jalanan menunjukkan siapa diri kita.

Kamuflase kehidupan masyarakat urban yang serba cepat dan tidak memberikan waktu untuk rehat sejenak mengakibatkan lahirnya persepsi-persepsi mengenai dimensi ruang dan waktu. Begitu pun menurut SGA mengenai masyarakat modern yang tertipu dan terkurung dengan modernitas yang ternyata dibuatnya sendiri. “Kota bukanlah hutan beton, kota adalah kebun binatang manusia” begitu kata Desmond Morris dalam bukunya “The Human Zoo”.

*Tentang Penulis:

Penulis adalah mahasiswi jurusan ilmu hukum angkatan 2013. Penulis aktif dalam keanggotaan sekaligus menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Media Parahyangan. Penulis dapat dihubungi pada alamat email kristianadevina@yahoo.com.

Related posts

*

*

Top