Seni sebagai Media Perlawanan, Stimulus untuk Pergerakan Pemuda

Para pembicara diskusi. MP/Fiqih Purnama Para pembicara diskusi. MP/Fiqih Purnama

STOPPRESS MP, UNPAR – Pada Jumat (23/10) lalu, Pamflet bekerjasama dengan Media Parahyangan, Yayasan Tifa, dan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar melaksanakan diskusi “Anak Muda & HAM, Mengapa Kita Harus Melawan Lupa dan Seni sebagai Media Perlawanan,” di Co-Op Space, Unpar. Tujuan acara ini ialah untuk membangunkan para pemuda untuk peduli dan mau beraksi.

“Kita ingin mengetahui apa sih yang bisa dilakukan oleh pemuda? Dan kita berharap bisa menjadi stimulus atas pergerakan pemuda tersebut lewat diskusi,” ujar Raka Ibrahim, selaku moderator dan anggota pamflet ketika diwawancara seusai acara.

Diskusi ini terbagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi pemaparan dari para pembicara tentang apa itu HAM dan mengapa kita harus melawan lupa, serta sesi tanya jawab. Pembicara pada malam hari itu adalah Ucok (ex. Homicide), Syaldi Sahude (aktivis HAM), dan Wanggi Hoed (seniman pantomim). Di tengah jalannya acara, Raka memperkenalkan Mulyono, salah seorang korban tragedi 1965 yang malam hari itu turut hadir. Anggota keluarganya hingga saat ini hilang.

Diskusi ini berjalan dengan menarik, terlihat dari adanya adu argumentasi antar peserta diskusi mengenai bagaimanakah aksi pemuda saat ini. Namun menariknya diskusi ini terganggu oleh waktu yang sempit. “Diskusinya seru, tapi waktunya terlalu singkat, dan ketika topik pembicaraan semakin menarik, kesempatan untuk peserta bersuara semakin kecil,” ujar Dio, mahasiswa Hukum Universitas Padjadjaran 2014 seusai acara.

Acara diskusi ini merupakan akhir dari rangkaian acara “Ren(i)ovasi Memori” yang dibuat oleh Pamflet. Sebelumnya acara serupa dilaksanakan di Magelang, Banjarmasin, dan Jakarta. Pamflet merupakan organisasi nirlaba yang berfokus pada aksi pergerakan anak muda, serta mendorong munculnya inisiatif baru bagi perubahan di bidang sosial dan budaya.

FIQIH PURNAMA | ZICO SITORUS

Related posts

*

*

Top