Sempat Timbul Ketegangan

Edisi 26 Maret 1998

Aksi Keprihatinan Unpar, 26 Maret 1998:

Sekelompok aktivis Unpar menggelar aksi keprihatinan berupa pementasan jeprut dan pembacaan puisi di plaza GSG. Aksi ini berlangsung singkat di bawah pengawalan ketat anggota Menwa (Resimen Mahasiswa) dan Satpam (Satuan Pengamanan). Sempat pula ada instruksi dari PR III Unpar, Budiwidodo Pangarso, agar aksi ini dibubarkan.

Karena alasan teknis acara ini baru dimulai pukul 14.30 atau molor satu setengah jam. Beberapa mahasiswa dari STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) dan Stema-ITB (Studi Teater Mahasiswa) ikut berpartisipasi dalam bentuk pementasan jeprut. Tema yang diangkat dalam pementasan jeprut: krisis.

Dengan dada terbuka, hanya mengenakan sarung, dan mulut diplester, para jepruter tampil memukau di hadapan sekitar 200 mahasiswa. Di dada mereka terpampang poster bertuliskan: Hancurkan Saya, Jangan Bicara, Bungkam Saya, dsb. Ada juga seorang yang bertelanjang dada dan hanya memakai sarung berkeliling sambil membawa terung, pisang dan mentimun. Bak seorang pedagang sayur keliling, ia menawarkan barang dagangannya. “Pisang cuma 500 ribu, pete 700 ribu. Ngga ambil untung, bener, deh,” katanya.

Sempat timbul ketegangan antara Henry Ismail (mahasiswa Unpar yang beberapa waktu lalu menggelar aksi mogok makan) dengan salah seorang anggota Satpam. “Anda diminta menghadap PR III, sekarang,” ujar Satpam tersebut sembari memperlihatkan secarik surat dari PR III. “Kalau ingin bicara, ya, di sini saja,” jawab Henry. Beberapa mahasiswa lain setuju. “Di sini saja, biar semua dengar,” ujar mereka. Namun, dialog ini tak kunjung terlaksana.

Dalam suratnya, PR III meminta aksi ini dibubarkan saja karena tanpa ijin rektor, dan Henry diminta bertanggung jawab atas acara ini. Memang, beberapa minggu lalu sempat keluar peraturan agar setiap kegiatan di kampus harus seijin rektor. Namun, Henry mengatakan sehari sebelum acara, dirinya telah memberitahu PR III. “Waktu itu PR III tidak setuju. Beliau mau acara ini atas nama lembaga kemahasiswaan. Padahal kita semua tahu, lembaga kan mandul,” kata seorang mahasiswa lain yang turut mendampingi Henry saat menghadap PR III.

Tak lama kemudian, salah seorang mahasiswa tampil membacakan puisi berjudul “Puisi Gemetar”. “Berikan kepalamu. Berikan untuk negeri ini. Berikan darah keringatmu. Berikan untuk negeri ini. Kacaukan langit kerakusan. Kacaukan penindasan. Hapuskan semua ragu untuk mencintai kekerasan,” demikian penggalan puisi tersebut. Seusai membacakan puisi, mahasiswa tersebut sempat diperiksa KTM-nya oleh Satpam.

Di bagian akhir acara, seorang mahasiswa lain tampil membacakan pernyataan sikap Kelompok Tanah Air-Universitas Katolik Parahyangan. “Aksi ini bukan politik praktis dan bukan politik amatiran, melainkan aksi koreksi dan menyuarakan nurani rakyat,” katanya.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menentang segala bentuk monopoli dan menyatakan rakyat berhak mengetahui kekayaan pejabat tinggi negara sebagai suatu manifestasi kontrol sosial terhadap pemerintah. Mereka juga prihatin atas perlakuan keras aparat keamanan terhadap aksi-aksi keprihatinan mahasiswa di berbagai kampus di seluruh Indonesia. Selain itu, mereka menuntut ketegasan pemerintah dalam mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia secara konsisten, jelas dan transparan.

Seusai acara (pukul 15.00), Henry menyatakan kekecewaannya terhadap sikap rektorat. “Inilah bukti tidak ada kebebasan mengeluarkan aspirasi di kampus ini,” katanya. Ia juga menolak pendapat yang mengatakan aksi ini berlangsung singkat karena ada intervensi rektorat. “Emang cuma segitu acaranya,” ujar Henry. (Paulus Winarto/PW)

Related posts

*

*

Top