Semacem Catetan tentang Krisis

Tak ada yang lebih intim dalam kehidupan manusia modern ketimbang krisis. Hari-hari ini kita terbiasa mendengar segala bentuk wacana tentang krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, moral hingga krisis total. Modernitas barangkali memang tak dapat dilepaskan dari kesadaran akan krisis. Dalam arti tertentu, yang terakhir itu tak lain dari intuisi dasar modernitas itu sendiri. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (juga segala yang memungkinkan terwujudnya kehidupan yang ideal) merayap pula kepekaan akan krisis. Krisis, horor itu, justru melaju berbanding lurus dengan kemajuan ilmu dan peradaban.

Namun krisis tak bermula dari modernitas; ia lebih purba ketimbang itu. Dalam narasi-narasi kosmologis di fajar peradaban, kesadaran akan krisis telah muncul dan mewarnai setiap degup langkah peradaban. Plato, misalnya, melukiskan dalam Timaeus bahwa pada mulanya adalah khaos, suatu kekacauan primordial yang hanya tunduk pada hukum ”keniscayaan” (anankÄ“) yang irasional. Terhadapnyalah Demiurgos, Sang Seniman Ilahi, mengimposisikan tatanan rasional yang mengubah khaos itu menjadi kosmos. Dalam narasi kosmogonis seperti Enuma Elish, dunia tercipta dari pertempuran para dewa, antara Marduk dan Tiamat. Dari tubuh Tiamat yang tercincang itulah Marduk menciptakan dunia. Selalu ada yang bermasalah, selalu ada pertemuan (atau pertempuran) antara dua sifat yang berlawanan, pada setiap narasi penciptaan.

Krisis barangkali sama tuanya dengan umur peradaban itu sendiri. Tak akan ada agama, tak akan ada ajaran moral, politik dan pengetahuan secara umum tanpa kesadaran akan krisis. Setiap wejangan religius selalu bermula dari sense of crises. Para nabi mewartakan hidup kekal karena melihat kehidupan fana sebagai krisis bagi hakikat manusia. Setiap ajaran moral juga bertumpu pada konsep krisis. Masyarakat mesti ditata berdasarkan kaidah-kaidah moral-normatif agar tak terburai dalam anomie yang tak lain merupakan state of crises bagi eksistensi masyarakat sebagai masyarakat. Konsep krisis ini juga dipakai dalam pelbagai historiografi atau penulisan sejarah untuk menandai suatu peralihan dari suatu era ke era yang baru. Setiap propaganda politik (setiap politik) selalu memakai konsep krisis sebagai basis legitimasi bagi program-program yang ingin ditawarkannya. Tak ada demagog yang tak memulai demagoginya dengan kalimat “Kita sedang mengalami masa yang gelap” atau “Dalam era krisis dimana moral diabaikan dan agama disepelekan seperti ini”,kita telah bosan mendengarnya sejak agitprop Nazi di akhir era republik Weimar dan, baru-baru ini, dalam mars kaum Neokonservatif. Dalam bentuknya yang paling populer, kesadaran akan krisis juga terdiseminasi ke segala penjuru melalui karya sastra dan sinema. Setiap cerita yang bertutur dalam irama “konflik – resolusi konflik” telah berperan dalam mengakrabkan krisis ke sekitar kita. Disadari atau tidak, krisis adalah udara yang kita hirup tiap hari, sinetron yang kita tonton tiap malam, Tuhan yang kita sembah tiap kali.

Secara mendasar, krisis muncul karena adanya deprivasi, adanya suatu kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang semestinya ada, antara das Sein dan das Sollen. Deprivasi adalah elemen dasar dari setiap krisis. Krisis ekonomi zaman kita, misalnya, tak akan kita anggap sebagai krisis ekonomi jika kita memandang situasi perekonomian kita sekarang ini sebagai situasi yang sudah pas dan tepat. Maka itu, krisis juga selalu terkait dengan horizon ekspektasi. Jika jurang antara apa yang senyatanya ada dan apa yang diimajinasikan menutup dan berkoinsidensi, maka tak ada krisis.

Fenomena universal dari krisis sebagai deprivasi ini menampak dalam kesadaran akan hilangnya tolok ukur. Tolok ukur itu sendiri tidaklah mesti hilang. Kesadaran akan hancurnya standar evaluasi itulah, rasa ngeri itulah, yang merupakan krisis. Dibahasakan secara lain, krisis muncul dari kesadaran bahwa kita telah melewati batas yang semestinya. Pengalaman akan krisis adalah pengalaman akan pelintasan batas. Dalam khazanah Yunani Antik, misalnya, melewati batas adalah sebuah sikap ”pongah” (hubris) yang niscaya akan berakhir dengan tragedi. Oedipus melanggar batas hukum keluarga, dengan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya, dan oleh sebab itu tragedi merengkuhnya di baris-baris penghabisan. Orestes dan Elektra melintasi batas, dengan bersekongkol membunuh ibunya, dan para Erinyes, kaum penegak hukum keluarga, kaum penjaga tolok ukur, memburunya hingga ke lembah maut. Ada tidaknya batas atau tolok ukur itu sendiri bukanlah hal yang penting di sini. Yang jadi soal adalah kesadaran akan keberadaannya yang hampir runtuh. Kesadaran inilah yang menghukum dirinya sendiri dan menciptakan rasa bersalah (guilt), suatu mekanisme dasar dari oto-destruksi, suatu kecenderungan sado-masokhis, dari masyarakat itu sendiri. Inilah pengalaman akan krisis atau apa yang disebut Nietzsche sebagai nihilisme.

Namun krisis tak pernah datang dari luar dan tak pernah muncul ex nihilo. Krisis selalu sudah dipersiapkan oleh masyarakat itu sendiri (dalam bentuk hukum, moral dan Weltanschauung). Krisis tidak tercipta semata dari pelanggaran tolok ukur oleh oknum-oknum tertentu, melainkan juga, dan terutama, oleh masyarakat secara keseluruhan. Konsep krisis telah selalu inheren dalam konsep masyarakat. Dengan harapan-harapan dan pembatasan-pembatasannya, masyarakat menciptakan krisis. Tolok ukur (misalnya hukum dan moral) tidak datang dari luar masyarakat; ia diciptakan oleh masyarakat. Oleh karenanya, krisis, sebagai kesadaran akan kehancuran tolok ukur, juga telah selalu diciptakan oleh masyarakat. Krisis bukanlah sesuatu yang aksidental; ia substansial dalam memori kolektif dan imajinasi masyarakat sebagai masyarakat. Dengan menciptakan harapan-harapan idealnya, masyarakat memproduksikan pula penggali kuburnya sendiri, mimpi buruknya sendiri, krisis. Imajinasi yang disadari akan utopia adalah juga imajinasi yang tak disadari akan distopia.

Kesadaran akan krisis adalah kesadaran akan yang-problematis. Sadar akan krisis berarti sadar bahwa ada yang problematis. Karena problem selalu relatif terhadap sudut pandang atas suatu hal, maka krisis juga pada dasarnya bersifat cair dan dapat senantiasa berubah seturut perspektif atau bahkan, secara hipotetis, dihilangkan. Problem muncul karena kita memandangnya sebagai problem, begitu juga dengan krisis. Setiap problem, setiap krisis, telah selalu terjangkarkan pada suatu perspektif tertentu. Dengan demikian, krisis selalu bersifat fabrikatif: ia diproduksi, tidak muncul serta-merta.

Krisis, persis karena ia difabrikasi, selalu merupakan situs pertarungan interpretasi. Hitler menafsirkan kondisi republik Weimar sebagai krisis, Bush memaklumatkan terorisme sebagai krisis, kaum fundamentalis religius memandang kehidupan sekuler sebagai krisis, para aktivis kiri mendedahkan fenomena kapitalisme global sebagai krisis: semuanya bertarung pada satu aras yang sama: wacana tentang krisis. Yang berbahaya namun tak terhindarkan dari fakta ini adalah abolutisasi krisis dan monopoli krisis. Krisis diabsolutkan dengan menampilkannya sebagai satu-satunya persoalan dan krisis dimonopoli dengan penentuan sepihak tentang apa-apa saja yang menyebabkan terjadinya krisis. Namun krisis tak akan pernah absolut; ia selalu bersifat parsial karena ciri interpretatifnya. Krisis tak pernah menjadi absolut karena krisis sudah selalu terarah pada resolusi. Cara pendefinisian krisis itu sendiri sudah merupakan bagian dari penyelesaian krisis, yaitu dengan mengangkatnya, sebagai krisis, dalam terang disputasi. Dengan kata lain, pada detik ketika suatu krisis diproklamirkan, krisis itu telah diselesaikan sebagian (yaitu dengan identifikasi atasnya). Krisis absolut hanya dimungkinkan jika kita sama sekali tak mengetahui (dan tak mengidentifikasi) adanya krisis. Namun karena krisis tak pernah lepas dari kesadaran atau pengalaman akan deprivasi seperti yang telah kita lihat sebelumnya, maka ketiadaan kesadaraan akan krisis sama halnya dengan ketiadaan krisis itu sendiri. Maka itu, krisis absolut tak pernah mungkin. Krisis selalu bersifat relatif, parsial dan interpretatif.

Mengikuti alur argumentasi ini, yaitu dengan melihat krisis sebagai sesuatu yang fabrikatif, interpretatif dan relatif pada kesadaran, maka kita dapat mengatakan bahwa krisis melaju berbanding lurus dengan kemajuan peradaban. Semakin maju ilmu pengetahuan, semakin canggihlah produksi krisis. Ini adalah anathema dari pandangan kaum Positivis yang percaya bahwa kemajuan ilmu akan menyelesaikan segala persoalan manusia. Peradaban tidak bermula dari begitu banyak krisis dan problem lantas menemukan pemecahannya melalui terang rasio di kemudian hari. Justru sebaliknya. Peradaban memproduksi, mendistribusi dan mengkonsumsi krisis. Tanpa krisis, kemajuan ilmu pengetahuan tak terpikirkan. Diversifikasi ilmu adalah diversifikasi krisis. Kesadaran akan masalah, kesadaran akan krisis, adalah motor penggerak ilmu pengetahuan dan peradaban. Menemu-kenali permasalahan, menemu-kenali krisis, adalah intuisi dasar dari seluruh sikap ilmiah. Dengan demikian, krisis adalah raison d’être dari setiap ilmu pengetahuan sekaligus kontribusi yang dihasilkannya bagi kemajuan ilmu itu sendiri. Dalam arti ini, konsep krisis tak dapat dipisahkan dari konsep kritik. Sikap kritis, sebagai mentalitas peradaban modern, identik dengan keterarahan-akan-krisis, dengan rasa haus akan krisis.

Oleh karena itu, terasa tak adil jika kita selalu menggunakan kata ”krisis” secara peyoratif. Dari laboratorium yang dingin dan steril, melalui tumpukan buku dan traktat-traktat ilmiah, dengan gulungan analisa statistik yang akurat, kita memproklamirkan adanya suatu krisis di dunia luar jendela. Padahal, di luar jendela, di seberang bukit dan lembah melankoli, selalu ada yang tak berkata-kata, selalu ada yang cuma ada. Terhadapnya kita kumandangkan krisis dan terulanglah ritual itu: identifikasi sumber-sumber krisis, pemberlakuan program penanggulangan krisis, pembentukan organisasi, pendataan ulang, pengetikan laporan, penyusunan statistik, analisa tabel, pendataan ulang lagi, pembelian kertas, stempel dan materai, pendataan ulang lagi, rehat minum kopi, dan sebagainya, dan sebagainya. Sementara kita sering alpa bahwa masalahnya tak selalu hanya di luar sana, sebagaimana juga tak selalu hanya di dalam sini. Krisis bersifat inheren dalam kemanusiaan itu sendiri; ia universal sekaligus partikular. Krisis dapat diproduksi (dalam sense yang non-peyoratif) oleh siapapun, oleh seorang peneliti dari LIPI dengan sebaris proposisi dan segepok lampiran, begitu juga oleh seorang petani yang dengan segenggam pacul berupaya menggali terowongan menembus bukit cadas agar air turun mengaliri sawah-sawah di dataran. Sang petani tahu: krisis, bukit cadas itu, tak perlu dikutuki, ia hanya perlu dikenali dan dijalani.

Related posts

*

*

Top