Selebrasi Kebhinekaan: Liputan Intrex 2011 ‘Nidhana Nusantara’

Media Parahyangan (MP) – “Embrace Our Local Inheritance!!”, kira-kira begitu seruan ketua panitia di awal acara. Mempromosikan kebudayaan Indonesia menjadi salah satu misi utama INTREX 2011

INTREX, singkatan dari International Expo, merupakan kegiatan tahunan mahasiswa-mahasiswi HI UNPAR di bawah naungan divisi eksternal HMPSIHI. Tahun ini INTREX 2011 diadakan pada hari Selasa (26/4) di GSG (Gedung Serba Guna) UNPAR dan mengusung tema Nidhana Nusantara, yang berarti kekayaan nusantara. Terdapat dua arena pada INTREX 2011, yaitu pameran kebudayaan dan bazaar makanan.

Fokus INTREX tahun ini adalah mengangkat keragaman budaya lokal Indonesia terlihat dari jumlah booth kebudayaan lokal yang mendominasi keseluruhan booth yang ada di GSG. Dari total 23 booth, terdapat 11 booth yang berisi penggiat kebudayaan lokal. Para penggiat ini antara lain: Sanggar Tari dan Karawitan Ardhanari, Komunitas Hong, Bandung Heritage Society, Tembi Pusat Budaya, Komunitas Aleut, Kandura Keramik, Karinding Attack, Rumah Garuda, Unit Kesenian Jambi, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Papua. Berbagai komunitas ini memamerkan pernak-pernik yang berbau kedaerahan, seperti contoh pakaian adat, aksesoris, instrumen musik, juga beragam kerajinan. Beberapa komunitas menyediakan informasi kegiatan rutin dalam bentuk pamflet dan brosur.

Sebagian besar komunitas memiliki pusat kegiatan di Bandung, termasuk komunitas-komunitas yang pusat kegiatannya di kampus, dalam hal ini ITB. Salah satunya adalah Unit Kesenian Jambi yang menjual bermacam hasil industri rumah dari Jambi, misalnya anyaman kalung, bros, dodol nanas, sampai balsem. Hampir setiap unit kesenian daerah yang berpusat di ITB digagas oleh para mahasiswa perantauan yang berkuliah di ITB. Selain Jambi terdapat pula komunitas-komunitas dari Aceh, Sulawesi Selatan, dan Papua. Menurut keterangan yang didapat Media Parahyangan (MP), tiap komunitas dari ITB ini belum pernah melakukan pameran bersama di luar kampus mereka selain di INTREX tahun ini. Seorang panitia divisi materi bernama Ayu menyebutkan pada awalnya hanya satu komunitas daerah ITB yang diundang mengisi booth INTREX. “Awalnya hanya Unit Kesenian Sul-Sel,” jelasnya. “Tapi akhirnya bertambah karena ada beberapa target pengisi booth yang tidak tercapai.”, lanjutnya. Ayu juga menambahkan memang jumlah booth akhirnya bertambah menjadi 23 dari target 20 booth.

Sisa dari total booth diisi oleh lembaga kebudayaan asing, perwakilan kedutaan asing, organisasi internasional antar pemerintah, lembaga studi mahasiswa antar kampus, dan sponsor. Terdapat perbedaan mencolok antara pengisi booth yang merupakan perwakilan kebudayaan asing dan penggiat kebudayaan lokal Indonesia. Perwakilan-perwakilan kebudayaan asing tersebut tidak menghias booth-nya dengan ‘cantik’. Hal ini paling jelas terlihat pada perwakilan kedutaan asing, terutama kedutaan besar RRC. Umumnya mereka mengisi booth dengan informasi tentang negaranya dalam bentuk booklet dan majalah. Mungkin yang paling ‘niat’ di antara perwakilan asing hanya Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre, karena selain perlengkapan standar booklet dan majalah booth ini juga dilengkapi oleh aksesoris-aksesoris kebudayaan India seperti instrumen musik dan kerajinan, sehingga tampak ‘ramai’. Cukup disayangkan, karena tidak ada orang asing sebagai penjaga booth, sehingga ajang pertukaran info lintas budaya tidak maksimal di INTREX 2011.

Meski didominasi penggiat kebudayaan yang berbau kedaerahan, INTREX 2011 juga menyediakan ruang bagi penggiat kebudayaan yang progresif macam Rumah Garuda yang berpusat di Yogyakarta. Berawal dari kecintaannya terhadap berbagai benda yang berbentuk lambang negara itu, Nanang R. Hidayat membentuk Rumah Garuda sebagai wadah kegiatannya. Sejak tahun 2003, ia aktif mengumpulkan benda-benda berbentuk garuda serta mendokumentasikan keberadaan lambang negara yang tersebar di seantero nusantara. Ia juga memamerkan hasil karyanya yang unik, yaitu wayang yang bertemakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Upaya memajukan kesenian Jawa menjadi lebih evolusioner dengan memasukkan tema modern sangat unik dan berbeda dibandingkan penggiat kebudayaan lainnya. “Pelestarian kesenian lokal tidak harus selalu baku dan ortodoks.”, ujar Pak Nanang. Rumah Garuda berhasil menjadi angin segar di pameran kebudayaan INTREX 2011.

Tentunya pameran kebudayaan INTREX 2011 tidak ‘sunyi’ di dalam GSG. Sejak acara dimulai, beberapa band asal mahasiswa-mahasiswa UNPAR bergantian mengisi panggung utama yang terletak di salah satu sisi GSG. Lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi pengiring massa pengunjung INTREX 2011 yang cair, tidak terkonsentrasi pada satu titik saja. Di panggung ini acara talkshow pertama diselenggarakan. The Body Shop yang juga pengisi booth dalam GSG menggelar kampanye anti-trafficking dengan fokus kampanye penanggulangan perdagangan anak dan remaja untuk tujuan seksual di Indonesia. Beberapa panitia INTREX 2011 diperbantukan untuk menggalang petisi dari pengunjung sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap bahaya trafficking sekaligus bahan riset bagi upaya advokasi dan audiensi kepada pemerintah dan lembaga non-pemerintah terkait dari kampanye ini.

Selain panggung utama, terdapat juga panggung kecil yang terletak di dalam arena bazaar makanan di plaza baru GSG. Sekitar pukul 10.00 pagi, panggung kecil tersebut diisi workshop gerabah oleh Kandura Keramik. Peserta workshop diajarkan untuk membuat sejenis mangkuk dari bahan gerabah. Salah satunya Aaron, seorang mahasiswa pertukaran pelajar Hubungan Internasional asal Australia. Ia adalah satu-satunya wajah asing yang tampak di INTREX 2011 sebelum jeda makan siang.

**********

Kekayaan nusantara juga tercermin melalui keberagaman cita rasa Indonesia. Divisi bazaar panitia INTREX tampaknya memahami betul keistimewaan ini. Seperti diakui oleh koordiantornya, Dan, divisi ini beranggotakan empat orang yang semuanya tukang jajan. “Untuk bazaar INTREX tahun ini kami selektif dalam memilih pengisi stand, karena kami sangat mementingkan kualitas.”, ujar Dan. Memang pilihan makanan yang ditawarkan di INTREX 2011 sangat beragam.

Jenis-jenis makanan yang mengisi arena bazaar di plaza baru GSG dapat dikategorikan ke dalam tiga bagian yaitu makanan besar/berat (main course), hidangan medium, dan camilan. Untuk makanan berat terdapat masakan Padang Natrabu, sop konro Marannu, sate Madura Pak Haji Iman, Lapo Siagian, nasi liwet dan nasi gudeg Jogja, nasi campur Madiun, betutu Bali, dan ikan bakar khas Minahasa. Sedangkan untuk hidangan medium terdapat Bakso Semar dan Pempek Pak Raden. Sisanya kategori camilan diisi oleh Es Duren Pak Aip, Cendol Pak Juanda, serta Surabi Hade Pa’ Alvino. Hampir semua pengisi sudah memiliki cabang di Bandung.

Dan sempat menceritakan beberapa cerita yang berkesan dalam usaha mencari penjaja makanan lokal berkualitas kepada MP. Sebagai tim yang tidak asing dalam berwisata kuliner, divisi bazaar sudah ‘mengantongi’ beberapa kandidat yang berpamor tinggi, paling tidak bagi daerah Jakarta dan Bandung, untuk setiap jenis hidangan yang dikehendaki. Namun tidak semua penjaja tersebut berminat mengisi stand bazaar INTREX 2011, sebab mereka sangsi dapat meraup keuntungan yang memuaskan dalam acara yang hanya berlangsung sehari. Salah satu cerita yang lucu bagi MP adalah bagaimana divisi bazaar berhasil mendapatkan Lapo Siagian. “Pada awalnya mereka tidak bersedia,” jelasnya. “Tapi abis tahu kalau ada panitia yang datang bersama kami boru-nya Hutabarat juga, si pemilik jadi terharu dan menangis. Kemudian akhirnya dia setuju.”, tambahnya.

Animo pengunjung bazaar sudah mulai terlihat sejak pukul 10.00 pagi, ketika cukup banyak mahasiswa berseliweran di arena bazaar INTREX 2011 selepas jadwal kuliah pagi. Menjelang jam makan siang, arena bazaar semakin dipadati pengunjung. Sejumlah meja yang disediakan panitia penuh, begitu pula dengan sarana lesehan. Keramaian ini bertahan sampai kurang lebih tiga jam. Setelah itu, arena bazaar tetap terlihat ramai, namun pengunjung lebih cair.

Komunitas Hong yang berfokus pada pelestarian mainan anak-anak khas Sunda berhasil mencuri perhatian pengunjung di arena bazaar. Saat jam makan siang, perwakilan komunitas ini yang kebanyakan anak-anak kecil berjalan-jalan di dalam GSG dan bazaar dengan egrang. Sekitar pukul 13.00 siang, komunitas Hong memberikan workshop kepada pengunjung bazaar tentang membuat anyam-anyaman dari janur. Anak-anak kecil itu berbaur dengan pengunjung di arena bazaar untuk membuat kekerisan, burung-burungan, ikan-ikanan, serta udang-udangan dari janur.

Meskipun arena bazaar cukup lama dipadati pengunjung, ternyata tidak semua penjaja kuliner mendapatkan keuntungan yang memuaskan. Hal ini diakui oleh Pak Wendi, yang mewakili rumah makan Padang Natrabu. Berpusat di Jalan Sabang di Jakarta Pusat, Natrabu telah bertahan selama 35 tahun dan popularitasnya sampai ke negeri jiran. Apa daya, di INTREX 2011 Natrabu yang menyajikan rendang dan dendeng sebagai menu andalan tidak ramai pengunjung. “(Pengunjung) lebih banyak milih makanan yang lebih simpel kayak bakso atau sate.”, tukasnya. Kebetulan stand tempat Natrabu memang berdekatan dengan stand Sate Pak Haji Iman dan Bakso Semar.

**********

Acara yang menjadi ujung tombak INTREX 2011 adalah talkshow kedua dengan tema “Our Generations for Indonesia, Efforts and Realization Towards a Bright Indonesia.” Pembicara yang diundang dalam talkshow ini adalah seniman pembuat GWK Nyoman Nuarta dan Dirjen Kemenlu RI untuk Asia Pasifik dan Afrika Teuku Mohammad Hamzah Thayeb. Tiba-tiba di hari-H, Nyoman Nuarta mendadak berhalangan hadir karena sakit. Mungkin karena absennya Nyoman Nuarta, konteks kebudayaan pada talkshow kedua jadi sangat minim.

Teuku Mohammad Hamzah lebih banyak bercerita mengenai pengalamannya selama berkarir di Kemenlu RI dan pendapat-pendapatnya tentang situasi dunia internasional terkini. Meski tidak banyak berbicara tentang kebudayaan, ia tetap mengingatkan pentingnya upaya pelestarian kebudayaan lokal Indonesia karena kebudayaan lokal Indonesia menjadi salah satu elemen penting dalam diplomasi Indonesia di dunia internasional. Beliau juga mengucapkan salut terhadap upaya pelestarian kebudayaan lokal yang dilakukan oleh golongan akar rumput di Indonesia. Kekosongan perspektif budaya pada talkshow ini sangat disayangkan, karena sebenarnya talkshow ini menjadi tumpuan kekuatan tema besar INTREX 2011. Tanpa adanya perspektif kebudayaan, talkshow ini kehilangan substansi.

**********

Dari tahun ke tahun format acara INTREX tidak banyak berubah. Namun melihat pengunjung yang lebih banyak berkerumun di arena bazaar pada INTREX 2011, format acara berfokus pameran-bazaar-talkshow mulai terasa usang. “Orang-orang yang dateng cenderung nyobain makanan-makanan, konsekuensinya crowd di dalam GSG jadi kurang. Ini sudah nggak bisa dihindari lagi dan acara harus tetap jalan.”, ujar Nayaka Diasa yang mengurusi sponsor. Miris juga rasanya melihat acara talkshow dimana panitia harus mengisi kursi-kursi audiens agar tidak terlihat kosong. Pemandangan ini adalah pertanda bahwa INTREX sebagai salah satu program utama HIMAHI belum memiliki daya tarik maksimal, juga bagi mahasiswa HI sendiri.

Kerja panitia INTREX 2011, terutama divisi materi dan bazaar, patut diacungi jempol. Secara keseluruhan, INTREX 2011 berlangsung tanpa gangguan yang signifikan. Keputusan panitia untuk menjadikan acara INTREX 2011 sehari saja rasanya cukup tepat, mengingat para penerus harus mencari format acara INTREX yang lebih ‘segar’.

(Kania Mamonto, Yusti Siregar, Rangga Wiraspati)

Related posts

One Comment;

  1. muhammad sadat gitaris Komunal said:

    Wah yang bikin kania ! S.E.G.A.N

*

*

Top