Sejarah yang Ramah Bagi Pembaca

Buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karangan Ernst H. Gombrich/dok. Vincent Fabian Buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karangan Ernst H. Gombrich/dok. Vincent Fabian

 

Judul Buku : Sejarah Dunia Bagi Pembaca Muda

Pengarang : Ernst H. Gombrich

Penerjemah : Elisabeth Soeprapto-Hastrich

Penerbit : Marjin Kiri dan Katalis

Tahun Terbit : 2015

Ukuran Dimensi Buku : 20 x 16 cm

Tebal Buku : Xxii + 370 halaman

 

Oleh: Vincent Fabian Thomas 

Bagi sejumlah orang, belajar sejarah tentu menjadi hal yang memuakkan. Sepertinya wajar juga mengingat luka lama sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Guru-guru dengan tampang seram tengah mengajar di saat yang sama Anda berterima kasih karena membantu Anda tidur. Penjelasan panjang lebar nan membosankan diperburuk dengan menghafal nama dan tahun menjadi mimpi buruk kala ujian menyergap mereka yang tidak siap.

Akan tetapi barangkali seorang penulis bernama Ernst H. Gombrich menepis pandangan umum itu. Tidak seperti guru sejarah pada umumnya, ia tidak memaksa Anda duduk tegap mendengar ceramah apalagi mengerjakan butiran soal ujian. Sebaliknya, ia bercerita kepada Anda. Tepatnya bercerita melalui buku yang berjudul Sejarah Dunia Bagi Pembaca Muda.

Dari sampul buku  dengan warna hijau susu, terpampang sebuah gambar yang mewakili lambang peradaban dunia. Sebut saja dinausaraus, manusia purba, Mesir, Yunani, Buddha, Arab, Romawi, dan Kristen. Sejumlah peradaban dunia yang kira-kira berlangsung selama 5000 tahun itu jugalah yang dibahas dalam 300-an halaman buku ini.

Cerita peradaban pun dimulai melalui gambaran mengenai dunia yang mula-mula dihuni oleh hewan yang aneh. Ernst pun menggambarkannya sebagai hewan yang tidak mungkin muat ditaruh di rumah baik dengan satu maupun dua kamar. Jika diukur maka diperoleh setinggi pohon yang paling tinggi dan ekornya sama panjang dengan separuh lapangan sepak bola. Ia menyebutnya dinausaurus.

Berangkat dari zaman hewan raksasa, ia melanjutkan ceritanya memasuki zaman yang mendahului sejarah. Ia menggambarkannya sebagai zaman yang tidak memiliki nama, angka tahun yang pasti, bahkan perhitungan terakurat pun menggunakan kata seperti ‘sekitar’ atau ‘kurang lebih’. Suatu zaman yang baru mengenal bicara, baru menemukan api, dan perkakas sederhana mulai dari batu hingga pada akhirnya menggunakan logam. Ia menyebutnya sebagai zaman prasejarah.

Zaman prasejarah pun berkembang hingga kisah sejarah pun dimulai. Diawali dengan suatu peradaban yang telah mengenal aksara bernama hieroglif, menyembah banyak dewa, mengenal kertas melalui tumbuhan papirus, dan seorang raja yang ingin dimakamkan dengan megah. Peradaban itu dinamakan Mesir Kuno.

Tidak jauh dari Mesir, di sekitar sungai Efrat dan Tigris pun berdiri suatu peradaban bernama Mesopotamia. Suatu peradaban yang telah lebih dahulu mengenal pembuatan batu bata bahkan sebelum bangsa Mesir. Penemuan lain yang menghantarkan penduduknya mengenal bintang-bintang dan memujaya selayaknya dewa berikut untuk meramalkan masa depan yaitu astrologi. Dari penemuan itulah kelima planet dan dua benda langit menghantarkan kita untuk mengenal hari-hari dalam sepekan. Misalnya (Sun-day ‘Hari matahari dan Mon-Day ‘Hari Bulan’).

Selain kedua peradaban mula-mula itu dikenal juga peradaban lain yang pernah bertahan menghadapi pertempuran yang tidak seimbang. Mereka adalah bangsa Sparta dan Athena yang bertahan menghadapi gempuran tentara Persia yang sebelumnya mengalahkan kerajaan Babilonia. Dari kedua bangsa itulah kita mengenal istilah politik (urusan kota-polis) dan demokrasi berikut ide menyelenggarakan pertandingan olahraga dengan nama olimpiade.

Tidak jauh dari zaman itu tokoh seperti Gautama mendapatkan pencerahan dan mengawali kepercayaan yang dinamakan Buddha. Disamping itu, jauh di Timur tokoh bernama Lao Tzu dan Khonghucu menuangkan ajarannya yang bijaksana mengenai kehidupan. Seorang pahlawan perkasa dari Mesapotamia yang bernama Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) mendapatkan kejayaannya setelah menaklukan wilayah yang luas membentang dari Mesir hingga India.

Setelah kematian Alexander Agung, kedua peradaban dunia tengah muncul ke permukaan. Kembali jauh di Timur suatu tembok besar untuk menangkal gerombolan penjahat dan sejumlah wilayah disatukan menjadi suatu kerajaan di bawah dinasti C’in (Asal kata Cina). Sedangkan jauh di Barat, di pulau Italia, Kerajaan Romawi telah mengenal hukum tertulis dan taktik berperang yang canggih tengah menguasai sebagian besar wilayah Eropa Barat dan Timur Tengah.

Dari peradaban Romawi, perhitungan kalender pun berubah setelah kelahiran juruselamat umat Kristen bernama Yesus Kristus. Perhitungan tahun tidak lagi menggunakan SM (Sebelum masehi), melainkan cukup masehi dihitung dari tahun kelahiran sang Juruselamat.  Kerajaan Romawi pun mengalami perpecahan disusul dengan datangnya bangsa Barbar (bangsa Hun dari Timur) dipimpin oleh Attila menaklukan sebagian besar wilayah Eropa. Sekitar 600 masehi, Muhammad sang utusan Allah berkhotbah di Mekah dan kita mengenal agama Islam.

Setelah itu, abad pertengahan Eropa pun dimulai. Puri-puri istana seperti kastil dalam dongeng berikut kesatria berkuda mendominasi gambaran masa itu. Perjalanan zaman pun terus diwarnai perpecahan dan perebutan kekuasaan di dalam keluarga kerajaan di Eropa. Bahkan, melibatkan perebutan kekuasaan atas umat Kristen dan negara dengan Paus.

Ernst pun menilai zaman yang tengah berlangsung terus menerus diwarnai perang dan perpecahan terutama akibat hidup mewah keluarga kerajaan, perebutan kekuasaan dan wilayah, dan bangkitnya rakyat menentang penguasa kerajaan menuntut penghidupan yang lebih layak. Sejumlah peristiwa terkenal seperti reformasi gereja, revolusi Perancis, revolusi Industri, dan kelahiran Marxisme turut diceritakan. Ernst pun mengakhiri perjalanan sejarah dunia yang ia tulis dengan pecahnya Perang Dunia I dan secuil sejarah yang ia alami sendiri yang tidak lain Perang Dunia II.

Selain itu, walaupun membahas sejarah, buku karangan Ernst ini tergolong berbeda dengan buku sejarah pada umumnya. Sejarah dunia yang berkisar 5000 tahun itu digubahnya dalam bahasa yang ramah. Alhasil ketika membaca, seakan-akan ia sedang bercerita langsung pada pembaca. Pembaca juga tidak perlu khawatir akan dimabukkan dengan tahun dan nama-nama sebab ia lebih berfkus pada jalannya sejarah tersebut. Tidak hanya itu, walaupun sejarah-sejarah itu diperoleh dari sumber tertulis, ia juga berhasil menghadirkan kesan seolah-olah ia berada di sana dan menerka suasana yang digambarkan. Selain ramah dalam gaya bahasa, istilah-istilah rumit dijelaskan dengan gaya yang menarik. Alih-alih menggunakan definisi kamus atau para ahli yang kaku, Ernst menggunakan metode deskripsi seperti ketika ia mendeskripsikan dinausaurus atau arti prasejarah. Sembari menuliskan peristiwa, ia pun juga turut berkomentar terkait zaman itu sehingga terkadang setiap babnya sarat dengan nilai kemanusiaan.

Walaupun menghadirkan sejarah yang menarik, amat disayangkan jika buku ini masih tergolong menghadirkan sejarah yang bersifat Eropa-sentris. Hal itu terlihat ketika peristiwa sejarah yang diramu hanya terbatas pada yang pernah bersentuhan langsung dengan orang Eropa meskipun sesekali menyinggung sedikit benua Amerika, Asia Timur (Cina dan Jepang), dan Timur Tengah. Kiranya hal ini dapat dimaklumi sebab sumber-sumber rujukan yang digunakan berada d Eropa dan buku ini ditulis pada tahun 1935 dan terbit pada 1936 meskipun sempat direvisi pada 1985. Oleh karena tahun penulisan itulah yang juga membatasi pembahasan hanya pada Perang Dunia I dan II.

Terakhir, buku ini menghadirkan dimensi sejarah yang ramah dan praktis hingga dapat dinikmati oleh para pembaca muda seperti pada judul buku. Buku ini juga tergolong tepat bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah dunia tanpa harus membolak-balik ratusan halaman buku-buku tebal berikut dengan bahasa tingkat tingginya. Buku ini layak mengajak kita merenungkan perbedaan keadaan di masa kini dan masa lalu. Ernst pun menulis, “Kita semua mengharapkan masa depan yang lebih baik, masa depan itu harus lebih baik! Sudahkah tiba masa depan yang lebih baik itu?” Tentu pembaca dapat menilainya. Melalui usaha memahami dan mempelajari sejarah, kita dapat belajar juga untuk tidak mengulangi yang buruk dan menghidupkan hal-hal baik.

 

Tentang Penulis: 

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Teknik Industri angkatan 2014. Menjabat sebagai Redaksi Pelaksana di Media Parahyangan dan aktif menulis di kompasiana. Bisa berkunjung ke www.kompasiana.com/vincentftd

Related posts

*

*

Top