Sebuah Percakapan

Oleh : Eko Sembiring (Kontributor MP)

(8-10-2010, suasana break sidang RUU Sisdiknas di FH UI Depok Ruangan Prf. Djoko Soetono)

Jose : Ko, orang ini suka filsafat, alirannya postmodern tepatnya nihilisme.

Eko : Oh gitu, ya? Namanya siapa, bung?

Yusuf : Nama saya Yusuf Ausie, bung sendiri?

Eko : Nama saya Eko, bung. Suka belajar filsafat, ya?

Yusuf : Iya bung, saya sangat tertarik dengan konsep nihilisme Albert Camus.

Eko : Tampaknya saya sangat familiar dengan konteks nihilisme itu sendiri, bung. Bukankah hal tersebut terkait dengan destruksi nilai diri secara total? Karena internalisasi nilai mengakibatkan akumulasi nilai dan menjadi monster nilai, sehingga kita menyembahnya dan tunduk terhadapnya. Dengan demikian nilai tersebut harus didestruksi secara total, karena internalisasi nilai ini terjadi di luar kesadaran kita sendiri (false awareness). Pada titik tertentu kita akan merasakan suatu kekosongan atau kenihilan akibat destruksi total dari nilai-nilai tersebut.

Yusuf : Betul, bung. Di sisi lain, konsep nihilisme itu berkaitan erat dengan masyarakat posmodern, misalnya masyarakat Eropa, Amerika, dan Jepang di mana mereka telah mencapai tingkatan tertinggi dalam bidang teknologi dan sistem produksi sehingga hubungan masyarakatnya sangat mekanistik. Tidak ada nilai (value) sama sekali dalam hubungan itu. Artinya, mereka sudah mengalami suatu kekosongan nilai. Pada titik terekstrim, mereka hanya berhubungan dengan mesin-mesin pabrik bisa dibilang mereka sudah terintegrasi dengan mesin-mesin itu.

Hubungannya sudah tidak manusiawi satu sama lain, penuh absurditas dan monolog. Itupun kalau itu bisa disebut sebagai suatu hubungan. Saya ulangi lagi bung, bentuk kebudayaan yang tidak manusiawi, mungkin.

Eko : Lantas, bagaimana mereka mengisi kenihilan itu, bung?

Yusuf : Pertanyaan yang sangat menarik, bung. Contohnya Jepang, mereka mengisi kekosongan tersebut dengan nilai-nilai kebudayaan yang sangat feodalistik dan fasistik. Mereka mampu melakukannya karena teknologi dan sistem produksi dipakai sebagai alat pengendali nilai-nilai yang feodalistik dan fasistik sebagai pengisi kekosongan itu. Di situlah letak pertahanan nilai-nilai kebudayaan mereka, bung. Dan kebudayaan mereka tidak akan dianggap sebagai kebudayaan yang primitif. Lagi-lagi teknologi dan sistem produksi yang menjadi landasannya, padahal kebudayaan mereka masih sangat primitif.
Mereka cukup cerdas memainkan alat-alat itu dalam mengisi kekosongan nilai-nilai itu.

Eko : Lantas bagaimana menurut bung sendiri mengenai masyarakat Indonesia?

Yusuf : Cukup dua kata untuk menggambarkan masyarakat kita,” Masyarakat Pramodern.”
Begini bung, setelah Revolusi Prancis, Napoleon berhasil mengkodifikasikan undang-undang, khususnya code civil, dan Belanda mengadopsinya dengan nama yang berbeda, namun dengan substansi yang sama yaitu, Wetboek van Straafrecht. Di mana kita ketahui bahwa Belanda pada saat itu adalah salah satu negara jajahan Prancis, dan Belanda juga menjajah Indonesia. Dengan berdasar pada asas konkordansi, hukum yang sama diberlakukan Belanda kepada Indonesia.
Pada saat itulah Wetboek van Straafrecht mulai diberlakukan, yang kini kita kenal dengan nama Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia (KUHP) dan menjadi hukum positif di Indonesia hingga saat ini.
Mengenai hal tersebut, saya sering berdikusi dengan salah satu dosen FH UI, beliau telah 10 tahun tinggal di Prancis dan suatu saat ia menerjemahkan KUHP ke dalam Bahasa Prancis dan mengirimkan drafnya kepada seorang kawan di Prancis untuk diperiksa. Setelah dianalisis, sang kawan berkata bahwa ia tidak bisa membayangkan bahwa orang Indonesia masih hidup dalam hukum positif yang seperti itu, karena isi KUHP hanya dianggap masih relevan bagi masyarakat pramodern. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia hidup sebagai masyarakat pramodern.
Mari kita tengok kota Jakarta. Apakah Jakarta pantas disebut sebagai kota metropolitan dan apakah pantas anak-anak ibukota ini menyombong dan menganggap diri modern?
Saya telah lama tinggal di Jakarta bung, tapi dengan tegas saya menyatakan bahwa Jakarta itu hanya suatu kampung besar dengan masyarakat yang masih primitif di antara kampung-kampung lainnya. Atau diperhalus saja istilahnya, “Pramodern” (sambil tertawa).

Eko: Benar juga apa yang dikatakan Gramsci mengenai teori hegemoninya di mana masyarakat kelas bawah terpesona oleh kebudayaan masyarakat kelas atas. Dalam istilah Freire, seringkali dikatakan makhluk dualis eksistensial (manusia terbelah).
Secara vertikal, mereka menjadi budak-budak kapitalis, tapi secara horizontal mereka menjadi penindas bagi sesamanya. Lebih tepatnya lagi, mereka menjadi penindas bagi bangsanya sendiri.
Seperti kata Sukarno, “Waspada terhadap kapitalisme bangsa sendiri.”

Yusuf : Tepat sekali, bung! Sistem mekanisme pasar kapitalistik itu kan sangat jahat bung. Pada tingkat mikro, terjadi penjajahan dari satu manusia atas manusia lainnya. Tetapi mereka membenarkannya dengan statement, “Ini kan Sumber Daya Manusia (SDM)”. Yang menjadi pertanyaannya adalah, “Apa itu SDM?” Masa posisi kaum proletar yang awalnya adalah subjek diubah menjadi objek. Lebih parah lagi, objek yang dieksploitasi! Mereka bukanlah objek, tapi subjek! Itulah SDM yang sesungguhnya.
Lagi-lagi liciknya kapitalisme, mereka melakukan kamuflase atas bobroknya suatu sistem. Mereka menggambarkannya dalam bentuk kurva-kurva seolah-olah supply dan demand terdistribusi secara merata. Padahal kita tahu bahwa mereka sedang melakukan akumulasi modal. Dan lagi lagi, corporate lawyer menjadi kaki-tangannya.

Eko : Yah, itulah dunia pendidikan kita, bung. Pendidikan kita diatur sedemikian rupa sehingga menjadi pelanggeng struktur kapitalisme itu sendiri, bung.

(Diskusi terhenti karena acara Bergerak Hukum Indonesia dilanjutkan kembali)

Related posts

5 Comments

  1. Josye said:

    sebenarnya sadar tidak sadar, kita sudah menjadi oposisi didalam kampus bung..oposisi yang akan terus menjelajah hakikat diri kita sebenarnya meskipun banyak orang yang ujung2nya akan menganggap kita Tidak waras…tetapi itu semua berangkat dari keyakinan bung..Katakan Hitam adalah hitam, Katakan Putih adalah putih untuk kebenaran….

  2. BYS said:

    Okay, lalu apakah gerak dialektika pemikiran kalian berhenti sampai menemukan manusia medioker yang kita sebut manusia Indonesia?
    apa tawaran kalian?

  3. Eva said:

    Eko pulang bawa banyak oleh2 yah nampaknya..

    like thissss…

*

*

Top