Sebuah Cerita tentang Ke-tidak aktif-an Mahasiswa: Polemik Mahasiswa, LKM, dan Rektorat

Wakaji, Feb 08 – Dari Kampanye Cinta Kampus LKM hingga program  Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa Rektorat. Semua gagasan berawal dari sebuah pertanyaan, “mengapa mahasiswa aktif jumlahanya sedikit?”.

Saat semua sudah muak melihat bayangan diri dalam cermin, saat semua mulai menunjuk jari ke sesamanya, di saat itu juga sebuah permainan dimulai.

Mungkin kita bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat aturan permainan ini. Tutup matamu dan mulailah menunjuk, itulah satu-satunya aturan main yang berlaku. Tetapi tawa itu akan terhenti ketika kita melihat siapa yang bermain, yaitu mahasiswa, LKM, dan Rektorat.

Tuntut!’, kata sandi yang harus terlebih dahulu diucapakan dalam permainan ini. Tanpa kata itu, permainan ini tidak akan bisa dimulai. Ada dua pilihan bagi masing-masing pemain untuk menuntut. Kemungkinannya adalah mahasiswa menuntut rektorat dan LKM, LKM menuntut mahasiswa dan rektorat, dan rektorat menuntut mahasiswa dan LKM. Permainan yang sangat mudah.

“Berpikirlah dewasa dan berhentilah menuntut. Tapi marilah kita selalu coba menggagas. Dalam arti menggagas, mari kita ajukan banyak solusi daripada selalu menuntut. Karena pengkabulan tuntutan tidak akan kunjung datang. Tapi yang namanya solusi, kita menjadi mitra yang baik dalam setiap pengambilan keputusan” pesan Ari selaku Presiden Mahasiswa. “Berhentilah menuntut, tapi marilah kita sama-sama menggagas” tuntut LKM kepada dua kawan mainnya, yaitu mahasiswa dan rektorat. Sungguh aneh, ajakan untuk berhenti menuntut datang dari lembaga mandataris MPM, dimana pemenuhan akan tuntutan mahasiswa menjadi kewajiban utama lembaga tersebut.

Mari kita teliti pesan tersebut lebih jauh, terutama pada kata ‘menuntut’ dan ‘menjadi mitra’. Ada logika yang berbeda yang tak bisa disamakan antara dua kata tersebut. Kata ‘tuntut’ berhubungan erat dengan yang namanya hak dan kewajiban. Sebuah tuntutan merupakan ekspresi dari hak yang tak terpenuhi. “kami butuh fasilitas yang memadai, kami butuh birokrasi yang memudahkan kami, bukan malah sebaliknya” tuntut mahasiswa kepada dua kawan mainnya. Mahasiswa telah menjalankan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu membayar uang SKS dan BRP setiap semester. adalah kewajiban rektorat dan LKM untuk memenuhi apa yang menjadi hak bagi mahasiswa-mahasiswi Persatuan Mahasiswa Unpar. Bukankah sedari TK (Taman Kanak-kanak) kita sudah mempelajari apa yang namanya pemenuhan hak dan kewajiban?

Kata ‘menjadi mitra’  bisa kita definisikan sebagai bentuk kesejajaran antara dua pihak atau lebih yang berjalan bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kaitannya dengan kehidupan demokrasi di kampus adalah mengenai pengambilan keputusan. Adalah kodratnya mahasiswa sebagai stakeholder inti di kampus ini diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan, apalagi keputusan besar dimana pengimplentasiannya memberi dampak bagi seluruh mahasiswa itu sendiri.

Menuntut merupakan ekspresi mahasiswa yang muncul akibat dari hak yang tidak terpenuhi, dan tiada siapapun dari lembaga manapun mempunyai wewenang untuk membungkamnya. Dan menjadi mitra dalam pengambilan keputusan sekali lagi adalah kodrat yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kedua hal tadi sejak awal memang milik mahasiswa.

“Hey mahasiswa, aktiflah berkegiatan” tuntut rektorat pada mahasiswa. ”bantu kawanmu agar dia bisa berkegiatan secara optimal” katanya pada LKM.  Awal Februari lalu, rektorat mendatangi  dua kawan mainnya dan menawarkan suatu program yang dinamakan Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM). Jika program tersebut sah dijalankan, keterlibatan setiap mahasiswa dalam kegiatan merupakan suatu keharusan. Positifnya, jumlah mahasiswa yang aktif optimis meningkat. Negatifnya, Mahasiswa terlibat dalam suatu kegiatan dengan perasaan terpaksa, karena pada dasarnya memang dipaksa.

Jika aturan main dimana kita harus menutup mata dikesampingkan, mungkin rektorat bisa bercermin pada organisasinya sendiri. Jika rektorat adalah seorang pribadi, mungkin dia bisa menanyakan pada dirinya sendiri : “Tugas apa yang belum saya penuhi? Kewajiban apa yang belum saya jalani?”. Tentu dua kawan mainnya adalah orang yang dirasa paling tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bedasarkan polling yang disebar oleh MP, dapat dilihat bahwa masalah-masalah yang dihapadapi oleh sebagian besar UKM maupun himpunan adalah biaya, fasilitas, dan birokrasi.

Rupanya permainan tuntut-menutut ini tidak akan kunjung selesai jika seluruh pemain masih menutup mata dan masih alergi terhadap cermin. Satu hal yang unik yang saya amati bermula dari sebuah acara Kampanye Cinta Kampus. Pada hari H acara tersebut, mahasiswa diajak untuk mengenakan baju putih untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap kampus. Berdasarkan hasil pengamatan saya, banyak sekali orang yang mengenakan baju putih pada hari itu. Beberapa hari kemudian saya baru mengetahui inti gagasan acara tersebut. Intinya adalah kita sebagai mahasiswa harus tetap menunjukkan rasa cinta terhadap kampus ditengah banyaknya perasaan tidak puas terhadap kampus kita sendiri.

Mengetahui inti gagasan acara tersebut, entah mengapa saya jadi teringat pada salah satu lelucon orde baru favorit Arief Budiman. Arief Budiman adalah seorang aktifis angkatan ’66, kakaknya Soe Hok Gie.

Lelucon tersebut berbunyi demikian : “Orang-orang Indonesia pada zaman Soeharto mempunyai tiga sifat dasar : pintar, jujur, dan pro-pemerintah. Tiap-tiap orang Indonesia hanya bisa memiliki dua saja. Kalau dia pintar dan pro-pemerintah, berarti dia tidak jujur. Kalau dia jujur dan pro-pemerintah, berarti dia tidak pintar. Kalau dia pintar dan jujur, dia pasti anti-pemerintah.”

Tulisan ini menjadi sebuah pengantar dari berita yang akan ditampilkan di dalam warta ini. Sebuah cerita tentang keaktifan mahasiswa tidak berakhir disini. Cerita ini berakhir diatas suatu perubahan dan diatas suatu implementasi dan pemenuhan.  (Ananda Wardhana Badudu)

Related posts

One Comment;

  1. Pingback: Media Parahyangan » Kolom Parahyangan : (Sekali Lagi) Menagih Cinta

*

*

Top