Sebelum Ditembak, Harindaka Berkelahi Dengan Perampok

Peristiwa penembakan yang menewaskan Harindaka Maruti (20), mahasiswa Fakultas Hukum Unpar angkatan 2010 Jumat (20/4) lalu bukan terjadi tanpa perlawanan. Seorang saksi mata bernama Retno Praitno mengatakan sempat terjadi perkelahian sebelum akhirnya Harindaka, yang akrab dipanggil Hari, tewas ditembak.

“Saya dipanggil warga yang baru selesai shalat jumat, bahwa ada yang berantem,” ujar Retno saat ditemui di Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada Sabtu (21/4) siang.

Retno saat itu berdiri sekitar 50 meter jauhnya dari lokasi perkelahian. Setelah dipanggil warga ia berencana melerai perkelahian. Tapi ia urung mendekat ke lokasi perkelahian setelah mendengar suara tembakan pistol.

“Saya dengar suara tembakan, saya tidak jadi lerai,” Retno menambahkan. Sayangnya Retno tidak bisa jelas melihat terjadinya penembakan karena keadaan jalanan saat itu sedang ramai.

Penembakan tersebut berpangkal dari kasus pencurian di rumah Hari yang terjadi sekitar pukul 11.00. Saat itu rumah korban di jalan Cigadung Indah ditinggal dalam keadaan kosong dan tidak terkunci. Saat itulah pelaku yang berjumlah empat orang menyatroni rumah korban.

Aksi para pelaku sempat kepergok pembantu rumah korban bernama Sri. Sri, yang baru kembali dari warung, mendapati pelaku menunggu di depan rumah. Pelaku yang berada di depan rumah segera membunyikan klakson memberi isyarat kepada kawannya yang di dalam untuk segera kabur.  Sri mencoba mengejar namun gagal. Perampok berhasil menggasak uang sebesar US$6000 dan satu unit laptop milik kakak korban, Danandaka Mumpuni (HI FISIP 2007).

Sri segera memberi kabar tentang keadaan rumah pada Suwarni, istri Prof. Koerniatmanto yang saat itu sedang berada di luar bersama Danandaka. Danandaka, yang akrab dipanggil Danan, segera memberitahukan Hari yang sedang berada di kampus. Sesampai di rumah, Danan dan Hari memutuskan untuk mencari kawanan pelaku menggunakan sepeda motor.

Sekitar 200 meter dari rumah, Hari dan Danan berhasil menemukan kawanan pelaku yang sedang duduk-duduk di depan rumah warga, sesuai dengan ciri yang diberikan oleh Sri. Keadaan sekitar relatif sepi, karena beberapa warga sedang melaksanakan shalat jum’at.

Hari meminta salah seorang pelaku untuk memperlihatkan isi tas yang mereka bawa. Alih-alih memperlihatkan isi tas, salah seorang pelaku malah menodongkan pistol ke arah Hari dan Danan. Danan mengangkat tangan isyarat menyerah, sementara Hari melawan. Tak berapa lama Hari kemudian ditembak pelaku.

Perkelahian itu sendiri berlangsung di depan gang sempit yang menjorok ke arah jalan Cigadung Raya Barat, jalan yang tidak terlalu lebar dan hanya bisa di isi 2 mobil. Diapit oleh dua rumah warga, salah satunya sedang tidak berpenghuni dan berseberangan langsung dengan sebuah bengkel kayu.

Hari adalah putra bungsu dari Prof.Koerniatmanto Soetoprawiro, dosen Fakultas Hukum Unpar. Rencananya Jenazah Hari akan dikubur pada Minggu 22 April 2012 di Tempat Pemakaman Umum Pandu.

(Anugrah Wahyudi / Risa Efriani)

Related posts

*

*

Top