Sanksi Bagi Pelaku Tindak Kecurangan Ujian Belum Jelas

Sanksi bagi pelaku kecurangan ketika ujian masih belum jelas. Ini antara lain karena tidak dicantumkannya peraturan tersebut secara tertulis dalam jutlak.

Kecurangan saat ujian yang baru saja terjadi pada semester genap kemarin dan melibatkan 27 mahasiswa di salah satu jurusan UNPAR cukup menyita perhatian para mahasiswa dan juga para dosen. Pasalnya, selain membuat malu mahasiswa yang bersangkutan, sanksi yang dijatuhkan sesuai dengan peraturan fakultas pun terhitung berat, yaitu digugurkan satu semester.

“Saya masih bingung untuk menjatuhkan sanksi tersebut, masalahnya jumlah mahasiswa yang terlibat jauh dari perkiraan, dan juga peraturan tersebut tidak tercantum pada jutlak melainkan hanya ada pada dokumen dosen saja”, ujar Wakil Dekan I fakultas tersebut saat diminta konfirmasi mengenai kasus tersebut. Hingga pada akhirnya saat keputusan keluar, sanksi yang diberikan lebih ringan yaitu digugurkan satu mata kuliah saja, alih-alih satu semester sesuai dengan peraturan fakultas tersebut.

Dari kasus tersebut dapat diketahui bahwa kecurangan saat ujian seperti mencontek atau bekerja sama merupakan hal yang sering kita dengar terjadi di kalangan mahasiswa. Kebanyakan mahasiswa yang melakukan kecurangan mengatakan kurangnya persiapan pada saat akan ujian adalah alasan utama mereka. Mereka tahu hal tersebut salah, tapi banyak diantara mahasiswa yang tidak tahu bahwa konsekuensi dari tindakan tersebut berat,yaitu digugurkan satu mata kuliah, atau bahkan satu semester untuk beberapa jurusan.

Memang peraturan tersebut sudah menjadi peraturan akademik universitas, tetapi peraturan tersebut tidak disebutkan secara tertulis pada juklak yang merupakan pedoman mahasiswa untuk mengetahui peraturan-peraturan, baik peraturan akademik maupun peraturan mengenai sanksi-sanksi, sehingga terjadi ketidakpastian di kalangan mahasiswa terhadap sanksi yang akan dijatuhkan.

Beberapa mahasiswa mengetahui tentang peraturan tersebut, tapi tidak melalui dosen atau peraturan tertulis universitas, melainkan dari mulut ke mulut, seperti FZN (nama disamarkan) mahasiswa hukum angkatan 2008 yang mengaku mengetahui hal tersebut dari pemberitaan orang-orang di fakultasnya, atau HY mahasiswa teknik industri angkatan 2008 yang mengaku mengetahui hal tersebut dari mahasiswa angkatan atas.

Beberapa mahasiswa juga ada yang tidak tahu konsekuensi dari tindakan tersebut. “Saya bahkan tidak tahu sama sekali konsekuensi dari tindak kecurangan tersebut”, menurut penuturan MR, mahasiswa Administrasi Bisnis angkatan 2009, atau RF mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2008 yang tidak tahu konsekuensinya dan yang dia hanya tahu hukumannya akan berat jika terjadi hal seperti itu.

Beberapa mahasiswa juga mengetahui hal tersebut dari dosen, seperti DCR mahasiswa Teknik Industri angkatan 2008, atau NE, mahasiswa Manajemen angkatan 2010 yang mengaku tahu hukuman dari tindak kecurangan saat diterangkan oleh salah satu dosen pada saat OSPEK. (Annisa Rahmah)

Related posts

2 Comments

  1. bakti (alumnus fisip 2002) said:

    semenjak dulu juga gak ada tuh namanya sanksi seberat digugurkan satu semester. harusnya cukup digugurkan “satu” mata kuliah pas dia mencontek aja..

  2. Larry (TS angkatan 2004) said:

    Sejak sy masuk kuliah, ancaman sanksi digugurkannya 1 semester jika melakukan tindakan curang saat ujian, selalu dibacakan oleh pengawas sebelum soal ujian dibagikan.. dan terbukti telah beberapa kali saya menyaksikan bahwa ada rekan dari TS yang terpaksa digugurkan seluruh mata kuliah yang ditempuhnya semester itu karena kecurangan yang dia perbuat.
    Namun, saya rasa peraturan itu memang tidak memiliki efek jera yang tepat, karena kecurangan yang sama akan dilakukan oleh teman-temannya walaupun sudah menyaksikan kasus tersebut.. bahkan dilakukan kembali oleh orang yang pernah menemerima sanksi tersebut.
    Lalu apa alasannya? kurikulum kah? banyak dosen yang saya kenal, yang dengan bangga mengatakan: “dulu mata kuliah ini adalah 3SKS, saat ini hanya 2SKS, padahal banyak materi yang harus saya sampaikan.. jadi saya akan tetap menyampaikan smua materi yang setara dengan bobot 3SKS” Pertanyaannya: Ada berapa banyak dosen seperti itu di UNPAR? Ada berapa banyak matakuliah yang dikurangi bobotnya dalam kurikulum yang baru? Sudahkah dikaji kembali kurikulum yang ada?

*

*

Top