Saatnya Kembali Konfrontasi

Maraknya diskusi mengenai mulikulturalisme terutama di berbagai kota besar membangkitkan rasa kegelisahan akan kehidupan kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara. Bukan apa makna dan guna dari multikulturalisme itu yang menarik minat, namun kegelisahan dari setiap hadirin yang terasa disetiap diskusi yang diselenggarakan. Kegelisahan yang rasanya tak pernah bisa hilang semenjak proyek Indonesia dipancangkan dalam bentuk negara bangsa melalui proklamasi 17 Agustus 1945. Sejak itu manusia-manusia yang hidup dalam kumpulan ribuan pulau di belahan Asia Tenggara itu memulai sebuah proyek besar, sebuah proyek pembentukan nasion, negara-bangsa yang merdeka, baik kejiwaan maupun fisik dalam satu nama Indonesia dan dalam suatu proses besar; Revolusi. Setengah abad lebih berselang kegelisahan yang sama terasa namun tidak seperti ketika gema revolusi masih terasa dekat (1945-1966), saat ini kekuatan dan kemampuan mobilisasi nasional terasa demikian melemah, terasa demikian terpecah. Setelah 10 tahun berlalu sejak peristiwa Reformasi 1998, kita merasa tak juga melangkah menuju perbaikan. Kebebasan dan keterbukaan yang terselenggara justru malah menimbulkan perasaan ketakutan dan kegelisahan. Demokrasi yang tadinya didewa-dewakan sekarang mulai diberi tuduhan sebagai sumber persoalan dari segala keruwetan. Demokrasi perlahan telah membuka tabir perbedaan. Perbedaan yang memang hadir dan hidup berkembang secara nyata dan paradoks dalam masyarakat kita. Perbedaan kelas, gender, budaya, etnis, agama dan lain sebagainya. Demokrasi membawa kita secara perlahan berhadapan dengan diri kita yang sesungguhnya. Sebuah cermin yang menghasilkan bayangan teramat menyeramkan yang tak lain adalah bayangan diri kita sendiri!

Demokrasi sebagai sistem terbuka memang memberikan perlindungan dan ruang hidup bagi musuh-musuhnya sendiri. Sebuah tawaran kemudian dilontarkan. Sebuah tawaran untuk dimainkan bersama, suatu upaya menghapuskan rasa kegelisahan yang senantiasa menyergap akibat ketidakpastian masa depan, suatu ajakan untuk kembali ke masa lalu dalam tema, kembali ke UUD 45 (mengingatkan pada masa Dekrit Soekarno 1959). Masa di mana semua berada dalam satu warna, dalam satu iman, dalam satu kesatuan yang terpimpin dan tak terpisahkan. Suatu masa di mana kita hidup tanpa cermin. Masa lalu dipandang lebih memberikan rasa aman dibandingkan upaya untuk terus berhadapan dengan segala tantangan dan rintangan masa depan. Kita seolah-olah berjalan dan bergerak maju ke depan namun sejatinya kita, paling tidak secara kejiwaan, bergerak ke belakang. Gramsci menyebutnya sebagai resigramento! Suatu gerak mundur!

Inikah yang kita rasakan? Suatu gerak mundur? Kalaulah benar demikian adanya, bukankah kebebasan dan keterbukaan juga memberikan sejumlah langkah positif? Bukankah kebebasan sudah semestinya menghadirkan ekspresi sejati yang menjadi fondasi bagi kretivitas dan inovasi kehidupan manusia? Dalam kesusasteraan sebagai salah satu indikator perkembangan kebudayaan masyarakat, cukup banyak bukti bahwa manusia Indonesia khususnya generasi-generasi mudanya cukup banyak menghasilkan olah karya. Belum lagi bidang kebudayaan popular lainnya seperti musik, seni rupa,seni tari, film dan lain sebagainya. Memang demikian adanya dan harus kita akui pula reformasi dan demokrasi telah banyak memberikan ruang bagi berbagai bentuk kretifitas dan inovasi budaya generasi muda muncul kepermukaan. Namun tampaknya apa yang telah dicapai belumlah cukup mampu memberikan suatu keadaan kejiwaan yang dibutuhkan bagi kita untuk berhadapan dengan tantangan dan rintangan masa depan. Suatu keberanian, suatu keadaan jiwa merdeka, bebas dari rasa takut, suatu keadaan self-determination kejiwaan manusia-manusia Indonesia.

Dalam sebuah tulisannya Prof.Dr. Jakob Sumardjo (Paradoks Manusia Indonesia) menggambarkan pola pandangan hidup dan rasionalitas sebagian besar masyarakat Indonesia pada dasarnya masih melibatkan dirinya pada pola-pola primordial feudal. Pola primordial feudal ini menghasilkan pola pandangan hidup dan rasio yang paradoksal. Sumardjo mengatakan cara berpikir paradoksal manusia Indonesia adalah warisan dari kebudayaan purba bangsa Indonesia yang tersebar di wilayah suku-suku. Cara berpikir paradoks melahirkan cara bersikap yang paradox pula.

Selanjutnya Sumardjo juga menulis, bahwa pola rasional paradoks berhadapan vis-a-vis dengan pola rasionalitas modern. Baginya Indonesia hari ini masih berada dalam tahap campur aduk antara dua pandangan dunia (world view) ini. Yang kemudian muncul adalah masyarakat terpelajar modernis yang ternyata seringkali bersikap primordial tanpa disadari. Orang yang menganggap dirinya modernis kerap masih sangat komunalis, paradoks, sekarang mengakui besok menolak, suka berseragam, suka keroyokan dan kerap mengucilkan atau mengasingkan yang tidak sama. Dalam dunia kampus sebagai ruang-ruang intelektual utama kehidupan bangsa, sikap semacam ini hidup subur baik dikalangan mahasiswanya maupun para staf tenaga pengajarnya. Dua pandangan dunia, dua macam rasionalitas yang bertentangan bercampur-baur di Indonesia. Manusia Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang ramah tamah penuh sopan santun yang luhur tetapi juga tidak segan-segan melakukan pembantaian massal atas sesamanya. Kebebasan agama diakui tetapi pembakaran tempat-tenpat ibadah terus saja terjadi. Satu agama bebas membangun rumah ibadah tetapi yang lain tidak bebas. Di depan memuji-muji di belakang mencaci-maki. Munafik, hipokrit, paradoks inilah keadaan kejiwaan kebanyakan dari kita manusia Indonesia.

Kepemimpinan nasional kita terjebak di dalamnya atau bahkan memang sengaja ‘menjebakkan’ diri kedalamnya. Alam pikir yang serba campur menawarkan, mengiming-imingkan sesuatu yang sulit ditolak yaitu kestabilan kekuasaan melalui permainan serba muslihat atas konflik. Kepemimpinan nasional kita di isi oleh orang-orang yang sebagian besarnya bersikap oportunis, mengambil keuntungan dari bercampur-baurnya dua pandangan, dua rasionalitas ini. Kalau klaim primordial menguntungkan dirinya, ia akan bela alam pikir primordial. Jika klaim modernitas menguntungkan dirinya maka akan ia bela alam modernitas. Berbicara kebebasan, kemanusiaan, kebangsaan namun menerbitkan surat yang melarang kepercayaan pada suatu keyakinan dari sekelompok orang, merampas hak-hak warga negaranya. Menyatakan diri sebagai negara hukum namun mepertontonkan impunitas secara telanjang. Konflik adalah sesuatu yang dipelihara untuk stabilitas kekuasaannya, suatu paradoks. Maka telihat jelaslah kepemimpinan nasional kita hingga saat ini dari semenjak zaman kemerdekaan hingga sekarang, tak ada yang benar-benar mampu memberikan jawaban, suatu solusi yang mengatasi krisis percampuran dua rasionalitas ini. Inilah akar dari krisis kita! Krisis yang terus berlanjut berakar urat dalam proses keindonesian hingga sekarang. Di saat kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda, saatnya kita cukupkan keberlanjutan krisis ini hanya sampai di sini!

Kita tak dapat membiarkan keadaan ini menetap terus dalam kejiwaan kita. Suatu pemberontakan harus diselenggarakan secara semesta. Pemberontakan yang datang dari kaum muda pembaharu yang membawa nilai-nilai dan semangat zamannya. Suatu kaum muda yang membawa elan rasionalitas modern tanpa kehilangan jejak historitasnya, keindonesiaan. Pemberontakan ini akan membawa kita pada pertarungan. pertarungan antara mereka yang tetap bertahan dalam alam rasionalitas campuran (tradisional-modernis) dengan kita kaum rasionalitas modern yang sadar akan historitasnya. Yang pertama adalah mereka yang tua dan yang terakhir adalah kita yang muda. Pertarungan ini akan sangat jauh lebih berat dan melelahkan bahkan jika dibandingkan 100 revolusi kemerdekaan! Dekontruksi adalah langkah awal untuk kemudian menjalankan jejak rekonstrusi, membuka kembali kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh emansipasi (sesuatu yang dinyatakan telah mati oleh mereka kaum posmo!). Suatu strategi kebudayaan! Strategi kebudayaan tidak dicanangkan sebagai program panjang yang serba ideologis, suatu blue-print namun dalam program-program jangka pendek di mana keyakinan sesuatu yang dapat salah adalah selalu suatu kemungkinan. Di sini imajinasi menjadi kebutuhan untuk senantia membawa kita melarikan diri dari lingkaran kejumudan dan sesat pikir. Demokrasi menjadi perangkatnya di mana hukum menjadi safety belt-nya. Manusia-manusia Indonesia muda ini sebagai agen perubahan menetapkan posisi tegasnya, posisi historitasnya terhadap manusia-manusia Indonesia tua yang lestari dalam dekadensi dan kemandekan percampuradukan dua alam pikir. Pertarungan tampaknya adalah pilihan yang tak terhindarkan! Melalui tulisan ini penulis memberanikan diri untuk mendeklarasikan pernyataan sikap: saatnya telah datang bagi yang tua harus menepi, yang muda maju memimpin. Saatnya kembali konfrontasi! (Budi Yoga Soebandi)

Related posts

*

*

Top