Review Album: Mount Eerie – A Crow Looked at Me

Cover Album Mount Eerie – A Crow Looked at Me Cover Album Mount Eerie – A Crow Looked at Me

Ketika ditinggal seseorang terdekat, duka adalah respon yang normal. Umumnya ada 5 tahap dalam berduka yang dialami tiap orang, yaitu denial, anger, bargaining, depression, dan sadness. Namun dalam menghadapi dan rentang waktunya, tiap orang tidaklah sama. Mungkin ada yang butuh waktu sebulan, ada pula yang butuh waktu bertahun-tahun. Ada yang memilih untuk membiarkan kesedihan memenuhi, ada yang memilih untuk menyibukkan diri untuk mengalihkan perhatian. Phil Elverum memilih untuk membuat album tentang kematian istrrinya.

Elverum, sosok dibalik Mount Eerie, ditinggal Geneviève Castrée akibat kanker pada Juli 2016. Castrée adalah seorang ilustrator dan musisi. Selang 2 bulan kemudian, berbekalkan berbagai instrumen seperti gitar, bass, akordion, ampllifier, termasuk kertas milik istrinya, Elverum mulai menulis lagu. Modalnya adalah buku harian yang selama ini ia gunakan. Ia menjelaskan bahwa proses menulis lebih ke mengumpulkan tulisan yang ada.

Alhasil, 11 lagu yang ditulis dengan sangat personal, dan seperti membaca diari pribadi Elverum. Sangat rapuh dan duka yang masih baru sangat terasa. Kita bisa tahu langsung bahwa lagu-lagu ini ditulis tidak lama setelah Castrée meninggal. Sangat straight forward, tidak berusaha puitis. Gaya penulisannya juga membuat kita bisa mengetahui secara jelas pemandangan dan suasana Elverum saat itu juga.

Saya belum pernah tahu ada musisi lain yang dapat menangkap dan bercerita tentang kedukaan dengan segamblang ini. Album berdurasi 42 menit ini mampu dengan sangat jelas menggambarkan berbagai kekalutan yang dirasakan. Kita sebagai pendengar dibawa dalam suatu perjalanan yang menyesakkan dan ikut merasakan apa yang dirasakan Elverum saat menulis lagu-lagu di album ini. Ketika pertama kali mendengarnya, saya harus berhenti di lagu ke dua, karena tidak kuat menahan kesedihan. Saya kira kalau anda tidak menangis pada di titik manapun sepanjang album ini, Anda tidak memiliki hati.

Dibuka dengan Real Death kekasaran duka Elverum tergambar jelas. Kematian Castrée membuatnya kacau dan ia sulit menerimanya. “I don’t want to learn anything from this,” nyanyinya. Lagu kedua langsung diawali dengan “Our daughter is one and a half. You have been dead eleven days.” Bisa dibayangkan bagaimana keseluruhan album ini akan terdengar.

Mulai dari pertama kali Castrée meninggal, takut hilangnya kenangan akan Castrée, mengingat kembali apa yang dialami bersama, tidak berani masuk ke kamar, keputusasaan, kehampaan, semua tersaji di album ini.

Dan pada akhirnya tiap orang yang ditinggal harus menghadapi hidup. Walaupun di awal cukup menyakitkan seperti harus mengurus anak, membuang sampah di malam hari, hingga berbelanja di supermarket, hal itulah yang membantu Elverum. Di lagu terakhir, Crow, pertama kalinya Elverum menyanyikan lagu untuk anaknya, bukan istrinya.

Kejujuran dan keberanian Elverum untuk membuat album ini harus diapresiasi. Meskipun pengalaman menyakitkan, namun anehnya album ini merupakan sesuatu yang indah. Seperti diambil dari laman bandcampnya, ia ingin menunjukkan bahwa ia mencintai istrinya dan ini merupakan cara untuk mengabadikannya. A Crow Looked at Me adalah tribut yang apik dan merupakan salah satu album terbaik di 2017 yang patut anda dengarkan.

 

Tentang Penulis :

Zico Sitorus

Hubungan Internasional 2013, dapat dihubungi di @zicositorus

Related posts

*

*

Top