[Resensi] Touché Amoré : Stage Four

Album Of The Week: Touché Amoré Stage Four. Dok/Stereogum. Album Of The Week: Touché Amoré Stage Four. Dok/Stereogum.

Kematian adalah keniscayaan. Seberapa tak terbantahkannya hal itu, seberapa dipersiapkannya hal itu, ketika kita dihadapkan dengannya, kita tetap tidak akan pernah siap. Hal ini tergambar jelas pada “Stage Four”, album penuh ke empat Touché Amoré. Album yang dirilis September lalu ini sangatlah personal, berkisah tentang duka akibat kematian ibu dari Jeremy Bolm, sang vokalis, pada 2014 lalu dikarenakan kanker stadium 4 (alasan penamaan judul album), dan bagaimana ia menghadapinya.

Dengan durasi sekitar 37 menit, album ini merupakan album terpanjang mereka. Hanya ada 2 lagu berdurasi di bawah 2 menit, itupun salah satunya 1 menit 56 detik. Musik mereka semakin melodius, dan secara seimbang mampu membuat kita fokus dengan lirik  yang banyak berkisah tentang kesedihan, kehilangan, duka, keputusasaan, dan rasa bersalah. Bolm bahkan juga bernyanyi di beberapa lagu.

Toh perubahan musik mereka ini tidaklah drastis, secara gradual bisa kita dengarkan perubahannya mulai dari “…To the Beat of a Dead Horse”, “Parting the Sea Between Brightness and Me”, “Is Survived By”, dan akhirnya “Stage Four”. Contoh paling ekstrem ada di video klip “Palm Dreams”. Bila kita melihat video itu  untuk pertama kalinya tanpa suara, saya yakin tidak akan ada yang mengira itu video band hardcore. (Entah apakah tepat menyebut mereka sebagai band hardcore, saya tidak ingin memulai perdebatan terkait genre).

Bolm bercerita mulai dari ketika ia menemani ibunya saat kesehatannya melemah, berada di atas panggung saat ibunya meninggal, berusaha menyembunyikan dan beradaptasi dengan kesedihan, hingga membereskan berbagai barang di rumah ibunya ketika rumah tersebut hendak dijual. Semua ditulis dengan gaya bercerita yang membuat kita dapat membayangkan apa yang terjadi dan ia rasakan, serta seberapa besar kejadian ini mempengaruhinya.

Di satu titik ia bercerita secara detail bagaimana ia bahkan tidak bisa lagi mendengar beberapa lagu seperti  “I Can’t Live Without My Mother’s Love” dari Sun Kil Moon atau “What Sarah Said”-nya Death Cab for Cutie. Atau menyampaikan kekesalannya kepada sosok tuhan yang “dipuja” ibunya.

Berulang kali rasa bersalah tergambar di beberapa lagu, setidaknya di “New Halloween” dan lagu paling agresif di album ini,“Eight Seconds”. Penyebab utamanya adalah Bolm sedang di atas panggung ketika ibunya meninggal, diperparah dengan ia tidak mengangkat telpon. “Anything to prolong the chances, before confronting she was really gone,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan tentang ketidakberanian untuk mendengarkan pesan suara terakhir yang ditinggalkan ibunya.

Di lagu kesebelas, Skyscraper, Touché Amoré memilih untuk menutup album ini dengan kenangan baik. Bagaimana kota New York mengingatkan tentang kebahagiaan, kenangan ketika Bolm mengajak ibunya berlibur di bulan-bulan terakhirnya. Tidak hanya itu, pesan suara tadi turut disertakan di penghujung lagu. Menyalahkan diri sendiri merupakan hal yang wajar dalam berduka, seperti tergambar pada 10 lagu awal.  Semoga dengan pemilihan lagu penutup ini, Bolm dan siapa pun yang mendengar album ini serta merasakan hal yang sama dapat berdamai dengan duka dan kesedihan.

 

Tentang Penulis :

Zico Sitorus

Hubungan Internasional 2013, dapat dihubungi di @zicositorus

Related posts

*

*

Top