Resensi Musik: Rekah-Berbagi Kamar

Cover Album Rekah - MP UNPAR Cover Album Rekah - MP UNPAR

Setelah sebelumnya merilis lagu Untuk Gadis yang Selalu Memakai Malam, band asal Jakarta, Rekah, merilis EP berjudul Berbagai Kamar. Antisipasi telah lama terbentuk sejak dilepasnya lagu tersebut, mengingat betapa rapi dan tidak banyaknya band bersuara serupa. Di perkenalan berikutnya ini, Rekah berhasil memuaskan sekaligus semakin membuat penasaran.

Terdiri dari 5 lagu, album pendek dari kuintet ini terdengar fokus sekaligus acak-acakan, dengan maksud positif. Maksudnya berbagai inspirasi dapat ditarik dari lagu-lagu yang ada di EP ini. Mulai dari emo, shoegaze, post hardcore, metal, hingga spoken word yang dilibatkan menjadi narasi kuat. Mungkin jika dibandingkan dengan band luar, Envy adalah nama yang paling pertama muncul, ditambah sentuhan berbagai sastrawan Indonesia.

“Lihat Aku Menghancurkan Diri” sebagai pembuka menunjukkan bagaimana ahlinya mereka membawa emosi naik turun dengan tepat. Diawali dengan dengan pelan melalui bantuan spoken word dari Diedra Cavina, kemudian suara gitar dari Tomo Hartono dan Marvin Viryananda masuk semakin lama semakin kencang dan intens, disertai gebukan drum ala black metal dari Johan Junior dan petikan bass dari Yohan Christian mengiringi nyanyian Faiz Alfaresi.

Penggunaan bahasa Indonesia pun terdengar tidak dipaksakan dan sama sekali tidak canggung. Lirik-liriknya cukup kelam, seperti gambaran kecemasan di Mengeja Langit-Langit, namun tidak semuanya terdengar sedih dan berat. Ada secercah harapan. “Aku tahu: akan selalu ada cahaya di ujung terowongan, walau kemudian gelap akan terbit lagi karena begitulah hidup; aku tahu: aku tak lagi sendiri, walau mungkin kegelisahan kami hanya akan menjadi kesunyian masing-masing” di Seribu Tahun Lagi serta “mungkin kita ditakdirkan karam agar belajar tenggelam,” di lagu penutup, Belajar Tenggelam.

Di bentuk album pendek debut ini, Rekah menjadi sosok yang menyegarkan di kancah tanah air. Lagu-lagu mereka cukup rapi tapi sekaligus terdengar seakan masih mencari jati diri, bagaimana mereka sebaiknya terdengar. Dikutip dari Vice Indonesia, Tomo, gitaris-vokalis sekaligus lirikus utama mengatakan bahwa, “yang tersulit sebenarnya adalah mencari formula musik Rekah sih—gimana caranya memadukan semua musik yang kita dengerin untuk jadi suatu bentuk baru, tapi tetap koheren sama narasi dari masing-masing lagu.”

Hal ini menjadikan Berbagi Kamar tidaklah se-polished seperti album milik eleventwelfth misalnya. Mereka tidak (atau setidaknya belum) terkotak dengan bagaimana mereka seharusnya terdengar menurut definisi suatu genre tertentu dan ini menjadikan mereka spesial. Mereka masih mencoba menjadi sesuatu dan menjadi menyenangkan untuk memperhatikan kiprahnya. Tak sabar bagaimana sajian mereka berikutnya terdengar, mungkin album penuh? Siapa tahu.

 

Tentang Penulis :

Zico Sitorus

Hubungan Internasional 2013, dapat dihubungi di @zicositorus

Related posts

*

*

Top