Resensi Buku: Urban Sensation

Urban Sensation


Penulis: Bre Redana
ISBN: 9-78792-690149
Ukuran & Hlm: 12,5 x 18,5 cm, x + 167 hlm
Harga: Rp 35.000

“Tapi menghapus kenangan yang pernah kami lalui ternyata tidak segampang seperti mencoret memori dalam komputer, pencet tanda delete dan semua lenyap belaka”. Kalimat itu akan anda temukan pada halaman 29 pada cerita “Bulan Di Atas Legian”. Itu adalah kalimat yang saya pilih dari buku bre redana, urban sensation. Terdiri dari 13 cerita pendek, semuanya bertutur tentang kenangan, tentang petualangan “lelaki”, dibanyak tempat dan waktu, kebanyakan bersama para wanitanya, tapi ada juga yang bersama dengan sahabat laki-laki, berbagi cerita atau berbagi kenakalan.

Membaca satu persatu cerita, meloncat dari satu cerita ke cerita lain, semua dibawa kembali pada satu waktu: detik, jam, hari atau tahun-tahun, pertemuan-pertemuan singkat dengan selingkuhan, selingkuhan dan selingkuhan. Kecuali di “Requim Untuk Mas Mar” dan “Suatu Petang Di Yogya” yang menceritakan kenangan tokoh penulis akan figur seorang sahabat lelaki dalam berbagi pikiran dan sosok ibu, semua cerita seakan membuat kita bercermin akan kerapuhan diri sendiri sebagai seorang manusia, kita selalu butuh tempat untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas, dari sebuah hubungan tetap yang membuat kita merasa tidak bisa bernafas.

Ini keistimewaan dari bre redana, membuat semuanya tampak biasa dan normal dalam sudut pandang yang abu-abu. Membuat kita kecanduan kompas hari minggu untuk membaca tulisan-tulisannya dalam berbagai rubrik hari itu, membahas satu persatu masalah remeh-temeh kehidupan perkotaan dan individunya. Hal ini yang juga tampak ingin dihadirkan dalam Urban Sensation dan seperti kata pengantarnya di halaman belakang yang mengatakan bahwa buku ini enak dibaca, itu benar. Kita tidak akan menemukan plot yang rumit, bahasa yang susah, cerita yang membuat kening berkerut, semuanya mengalir dan mudah. Kehidupan kelap-kelip, kehidupan permukaan yang tidak membahas pergulatan batin secara dalam, tidak hitam putih, terkadang tidak perlu alasan, tidak menghakimi dan menggurui, semuanya bisa terjadi.

Jadi, jika kamu, ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas dan dari kepenatan, untuk seakan-akan membaca cukilan buku harian seorang teman, ini adalah buku yang tepat.

Tentang penulis

Bre Redana adalah wartawan harian kompas. bukunya yang lain, Dongeng Untuk Seorang Wanita (1999); Sarabande (2002); Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002) dan Rex (2008). kini tinggal di ciawi, jawa barat.

Related posts

*

*

Top