[Resensi] 12 Angry Men, Ketika Drama Persidangan Menentukan Hidup-Mati Seorang Anak

Ilustrasi 12 juri dalam film 12 Angry Men. Dok/ Infotainment News. Ilustrasi 12 juri dalam film 12 Angry Men. Dok/ Infotainment News.

Judul: 12 Angry Men

Tanggal Peluncuran: 13 April 1957

Sutradara: Sidney Lumet

Durasi Film: 96 menit

Budget Film: US$ 340.000

Aktor-aktor Utama: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Ed Begley, E.G. Marshall, dan Jack Warden

Seorang penulis dan filsuf asal Perancis bernama Voltaire pernah berkata, “It is better to risk saving a guilty man than to condemn an innocent one” yang berarti lebih baik menyelamatkan seseorang yang bersalah daripada menghukum yang tidak bersalah. Kutipan ini ingin memberi pesan bahwa walaupun tidak adil untuk menyelamatkan seorang terdakwa dari konsekuensi atas perbuatannya, tentu tidak akan sebanding apabila disandingkan dengan seorang yang tak bersalah untuk dieksekusi.

Konsep ini secara tidak langsung menjadi intisari dari gagasan juri nomor delapan dalam sebuah film bertajuk 12 Angry Men.  Di dalam film ini, terdapat 12 juri yang sedang berdiskusi untuk menentukan apakah seorang remaja pantas untuk dihukum mati di atas kursi listrik. Remaja yang berusia 18 tahun ini dituduh membunuh ayahnya dengan menusukkan pisau ke bagian dadanya.

Keputusan yang akan dihasilkan haruslah dilakukan secara konsensus. Hal ini berarti 12 juri yang ada harus setuju kepada keputusan tersebut. Mereka kemudian melakukan pemungutan suara ketika sebelas juri dengan lugas menyatakan bahwa anak itu bersalah. Tapi di pojok kanan meja dari tempat moderator berdiri, terdapat juri nomor delapan yang tidak menyuarakan pendapatnya dengan pasti. Bukannya ia merasa anak itu tidak bersalah, melainkan ia hanya tidak tahu apakah anak itu memang bersalah atau tidak.

Hal ini kemudian yang menyulut emosi tiap-tiap juri yang berada di ruang persidangan. Bagaimana tidak, bukti-bukti yang konkret telah disajikan. Mulai dari pisau lipat yang digunakan untuk membunuh, konfirmasi tempat di mana anak itu berada di detik-detik sebelum pembunuhan terjadi, hingga keterangan para saksi. Namun, juri nomor delapan tetap menegaskan keraguannya mengenai kasus ini.

Ketika menyangkut hidup dan mati, terlewatnya satu detail pun tidak bisa ditoleransi. Nalar kesebelas juri sangat terfokus pada poin-poin utama yang ditawarkan pada saat sidang. Mereka cenderung menilai sesuatu hanya dari kulitnya saja.

Entah karena mereka memang menganggap hal itu sudah cukup menjustifikasi keputusannya, ataupun karena mereka menyepelekan kasus seperti ini. Ironisnya, kedua hal ini menjadi alasan nomor satu yang menjelaskan mengapa para juri ingin cepat-cepat mengakhiri diskusi yang ada. Saat itu, latar cerita menunjukkan, bahwa hari itu adalah hari yang sangat panas.

Juri nomor delapan kemudian membuka satu per satu detail yang tidak diperhatikan oleh juri lainnya. Ia menyebutkan kejanggalan pada kesaksian dari sang pria tua dan wanita di seberang jalan, pisau lipat sebagai barang bukti. Hingga penyebab ketidakjelasan jawaban si anak ketika menjawab pertanyaan detektif mengenai saat-saat pasca tubuh ayahnya ditemukan.

Hal ini menjadi menarik ketika apa yang disampaikan para pemainnya seolah-olah membawa kita pada saat kejadian pembunuhan dan kembali menyaksikan rincinya. Meskipun dengan lokasi monoton selama 96 menit sekaligus sebagai durasi film, kisah ini berhasil menghipnotis penontonnya melalui tiap dialog, tiap argumen cerdas yang disampaikan para tokohnya.

Meskipun akhir dari film ini barangkali segera tertebak melalui sisi moral juri kedelapan, tetap saja film ini berhasil memikat penontonnya sampai pada akhir film ini sendiri. Hal ini dilakukan oleh sutradara Sidney Lumet dengan hanya menjelaskan proses pengambilan keputusan yang melingkupi sanggahan terhadap fakta-fakta yang ada berikut debat yang dipicu perbedaan persepsi.

Perhatian khusus pun diberikan dalam pemilihan karakter. Kedua-belas juri di sini dikisahkan berasal dari profesi yang berbeda dan memiliki kepribadian yang berbeda pula. Oleh sebab itu, perdebatan tidak dapat dipungkiri bahkan tidak terelakkan.

Perbedaan di tengah-tengah mereka tentu menjadi faktor lain yang memicu perdebatan, sehingga tidak melulu kasus pembunuhan tersebut yang menjadi sumber perdebatan. Setiap tokoh mengambil peran melalui dialog dan argumen mereka, dan tentu, dengan menggunakan cara penyampaian masing-masing. Di sinilah momen di mana ketegangan serta keseruan dibangun untuk memainkan emosi penonton.

Ber-genre serupa, A Few Good Men tak lupa untuk dijadikan pembanding dengan film yang satu ini. Pada umumnya film-film seperti ini membuat rasa penasaran kita menunggu hingga akhir supaya mengetahui “siapa pelakunya” atau “apa motifnya?”. Memang benar.

Namun, berbeda dengan film yang dirilis tahun 1992 ini, 12 Angry Men tidak menaruh jalan ceritanya pada siapa melakukan apa. Film yang dibintangi Henry Fonda ini fokus terhadap bagaimana seharusnya sebuah keputusan, dalam hal ini menyangkut hidup dan mati seseorang dibuat. Kekuatan plot dari film ini memang sangat diandalkan.

Inilah mengapa film ini menuai rating bagus dari berbagai pihak profesional di dunia perfilman. Terlepas dari citranya sebagai film klasik bernuansa hitam-putih keluaran tahun 1957, 12 Angry Men tetap menjadi film yang tidak boleh ketinggalan untuk ditonton.

 ERIANA ERIGE | TANYA LEE NATHALIA

Related posts

*

*

Top