Rektor Unpar, A.P. Sugiarto, SH: “Silahkan Saja Menggelar Mimbar Bebas di Kampus, Asal…”

Edisi 8 Maret 1998

“Silahkan saja menggelar mimbar bebas di kampus, asal mematuhi aturan-aturan kampus dan tidak mengganggu proses perkuliahan…”

Demikian yang dilontarkan oleh Rektor Unpar, A.P. Sugiarto, SH di hadapan beberapa mahasiswa dan dosen pada forum dialog hari Rabu (18/3/98) kemarin. Dialog bertempat di aula gedung Fakultas Teknik tersebut berlangsung dari pukul 11:00-13:00 WIB, menampilkan seluruh pejabat rektorat baik dari Rektor hingga Pembantu Rektor IV sebagai pembicara. Agenda acara meliputi penyampaian aspirasi baik dari dosen maupun mahasiswa dan acara tanya jawab dengan pihak rektorat.

Acara dialog tersebut umumnya membicarakan isu-isu kampus yang aktual dan hangat. Mulai dari penyikapan mimbar bebas yang lalu, masalah pembangunan gedung baru hingga mempertanyakan kepedulian Unpar terhadap masyarakat sekitar, khususnya menghadapi krisis sosial-ekonomi saat ini. Seperti yang diutarakan Suroso, Koordinator Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPKM) Unpar yang juga mengajar di Fakultas Ekonomi Unpar, menurutnya selama ini kepedulian Unpar terhadap masyarakat sekitar sudah terwakili lewat kegiatan-kegiatan LPKM, seperti program pendampingan bagi masyarakat dalam hal pendistribusian air bersih dan pembangunan rumah tinggal. Namun selama ini kurang terpublikasi kepada mahasiswa atau masyarakat sehingga seolah-olah Unpar kurang peduli kepada masyarakat sekitar. Dari kalangan mahasiswa, umumnya mereka mempersoalkan sulitnya keleluasaan mahasiswa menggelar kegiatan-kegiatan seperti mimbar bebas. Lalu ada yang mempertanyakan dampak dari pembangunan gedung baru, hingga masih minimnya fasilitas-fasilitas kegiatan mahasiswa.

Komentar dan pertanyaan yang disampaikan kalangan dosen maupun mahasiswa itu, ditanggapi secara serius oleh Rektor Unpar, A.P. Sugiarto, SH. Ia sendiri merasa heran, apakah ada rambu-rambu yang melarang dan membatasi kegiatan-kegiatan mahasiswa. Menurutnya, selama ini pihak universitas tidak membatasi dan melarang segala kegiatan kemahasiswaan. “Jadi silahkan saja menggelar mimbar bebas di kampus, asal tetap mematuhi rambu-rambu yang ada di kampus. Jadi aktivitas yang kalian (mahasiswa) lakukan itu jangan sampai mengganggu proses perkuliahan yang juga dibutuhkan mahasiswa-mahasiswa lainnya,” ujarnya.

Selain itu ia juga meminta maaf kepada mahasiswa dan dosen atas ketidakhadirannya pada dialog intern di GSG tanggal 12 Maret yang lalu. Ia membantah kalau itu sengaja dihindarinya. “Selama ini saya tidak takut atas permintaan mahasiswa. Tapi waktu acara dialog itu saya dipanggil oleh Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) dan menyarankan agar tidak kembali ke kampus. Tapi saya sendiri merasa tidak enak. Jadi dalam kesempatan ini saya minta maaf,” tutur bapak rektor di hadapan forum.

Lalu rektor yang mengaku telah menggeluti kegiatan kemahasiswaan sejak tahun 1968 tersebut juga menyadari bahwa fasilitas kegiatan mahasiswa di Unpar masih sangat minim. Oleh karena itu, pihaknya sudah menyarankan yayasan agar di gedung baru nanti tersedia juga student center sebagai wadah kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Rektor juga menyangkal isyu dinaikkannya uang SKS ataupun Semester Padat seperti yang dilontarkan seorang mahasiswa. Menurutnya, pada rapat terakhir dengan pihak yayasan tidak disinggung kenaikan biaya SKS. (Renee/rra)

Related posts

*

*

Top