Program Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM) = pemaksaan?

Wakaji, Feb 08 – Program Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM) ditawarkan Universitas kepada mahasiswa. Keaktifan mahasiswa  mengembangkan soft skill akan dinilai dengan angka.

Pada hari Senin 10 Februari 2008 diadakan pertemuan antara perwakilan rektorat, fakultas dan mahasiswa di ruangan audio visual FISIP Unpar. Kehadiran mahasiswa disana bermaksud memenuhi undangan rapat membahas program  Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (selanjutnya disingkat SKKM). Rapat tersebut cenderung mirip dengan forum sosialisasi program oleh Universitas. Rapat diadakan tanpa agenda yang terstruktur. Berlangsung alot karena ide dasar untuk menilai keaktifan mahasiswa dengan angka ditolak oleh mahasiswa.

Hadir mewakili pihak rektorat Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan Romo Tarpin, para Wakil Dekan dari jurusan Teknik, MIPA dan FISIP.  Rapat dihadiri juga oleh para perwakilan mahasiswa dari Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM), Ketua Himpunan setiap jurusan dan perwakilan dari tiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Rapat dibuka dengan penyampaian tujuan program SKKM oleh Romo Tarpin. Tujuan program SKKM ini yang pertama adalah untuk membekali dan mendorong mahasiswa meningkatkan soft skill untuk membentuk  karakter yang unggul melalui berbagai  kegiatan kemahasiswaan, yang kedua adalah untuk menanamkan nilai-nilai yang bermanfaat untuk hidup, dan yang ketiga adalah untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Program ini merupakan salah satu upaya pihak universitas meningkatkan keaktifan mahasiswa melihat adanya fakta yang memprihatinkan pihak rektorat. Berdasarkan  angket yang disebar oleh Pusat Kajian Humaniora, jumlah mahasiswa Unpar  yang aktif terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan hanya berkisar sekitar 30% .

Jika program ini sah dijalankan, SKKM ini akan menjadi suatu prasyarat kelulusan. “akan ada dua transkrip nanti ketika kalian lulus, yaitu transkrip nilai dan transkrip soft skill” tandas Romo Tarpin. Setiap mahasiswa pada saat yudisium (sidang) diharuskan untuk mencapai poin tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Mahasiswa memperoleh poin-poin tersebut dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang disediakan oleh Universitas, misalanya aktif di Himpunan, UKM, LKM, MPM, mengikuti kegiatan-kegiatan PKH seperti geladi-geladi, dll.

Kegiatan–kegiatan yang akan diperhitungkan oleh Universitas sudah termakhtub dalam tiga lembar draft yang dibagikan pada saat rapat. Perincian kegiatan mahasiswa dapat digarisbesarkan menjadi enam bagian yaitu (1) bidang penalaran, dan keilmuan seperti  mengikuti lomba karya ilmiah, lomba bidang ilmu, mengikuti seminar, dll. (2) Bidang minat dan bakat,  contohnya lomba-lomba olahraga, lomba pers mahasiswa, dll. (3)Bidang keorganisasian, seperti menjadi anggota MPM, LKM, UKM, HMPS, dll. (4)Bidang Pembinaan pribadi, seperti mengikuti geladi siritual, geladi mental, dll. (5)Bidang pengabdian kepada masyarakat seperti mengikuti program kakak asuh, menjadi mentor dll. Dan terakhir (6) Mengikuti kejuaraan.

Bagi mahasiswa yang telah aktif berkegiatan, akan diberikan sertifikat oleh penyelenggara yang bersangkutan. Sertifikat tersebut yang akan menjadi bukti keaktifan dan akan ditukarkan dengan poin yang kemudian dimasukkan ke dalam transkrip soft skill. Skala penilaian diurut berdasarkan tingkat prestise suatu kegiatan. Misalnya saja, mengikuti kejuaraan nasional tingkat prestise-nya lebih tinggi dibanding kejuaraan tingkat kotamadya, untuk itu poinnya pun lebih tinggi.

Usulan sistem kerja SKKM ini mendapat tanggapan yang beragam dari pihak mahasiswa.  Seorang perwakilan LKM menanggapi sistem pemberian poin ini dengan membandingkannya dengan sistem poin-poin prestasi di SMA-nya dahulu.  Sistem penilaian prestasi di SMA-nya tersebut ketika diaplikasikan ternyata masih mengalami berbagai kerancuan. Kerancuan tersebut terutama disebabkan oleh standardisasi poin yang masih belum jelas. Ia mengusulkan bahwa lebih baik jika ditentukan terlebih dahulu minimal poinnya, lalu dibagi-bagi kedalam setiap bidang.

Berbeda dengan tanggapan salah seorang perwakilan dari UKM. Ia menyatakan bahwa pelajaran yang mahasiswa dapat dari kegiatan diluar perkuliahan tidak dapat ditukar dengan satuan-satuan poin. Satuan-satuan poin tidak dapat merepresentasikan kemampuan sesorang. Dalam wawancaranya dengan MP ia menjelaskan bahwa setiap pengalaman dalam berorganisasi, berlomba, mengabdi pada masyarakat, atau lain sebagainya ditafsirkan secara berbeda oleh setiap individu, dan setiap tafsiran tersebut memberikan pelajaran yang berbeda pula bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, satuan-satuan poin tersebut tidak dapat merepresentasikan sejauh mana seorang mahasiswa memiliki soft skill yang baik.

Hal senada juga diucapkan oleh salah seorang perwakilan MPM. Penilaian secara kuantitatif dengan adanya poin-poin tersebut dianggap memaksa mahasiswa untuk hanya mengejar poin, bukan arti dari keterlibatanya mengikuti suatu kegiatan. Dengan begitu akan menimbulkan suatu rasa keterpaksaan dalam mengikuti suatu kegiatan di luar kegiatan akademis. Keterpaksaan tersebut pada akhirnya akan meningkatkan jumlah mahasiswa yang aktif tetapi tidak meningkatkan kualitas, ujarnya. Ia beranggapan bahwa yang dibutuhkan dalam suatu kepanitiaan bukanlah berapa banyak orang yang ikut, melainkan kualitas orang yang ikut terlibat.

Terlepas dari semua itu, Romo Tarpin menyatakan “SKKM bukan sebuah kebijakan yang definitif, terbuka untuk refisi, koreksi adisi bahkan eleminasi”. Realisasi program juga bergantung persetujuan dari pihak mahasiswa. Program SKKM ini sendiri masih jauh dari realisasi. Pihak rektorat dinilai telah melakukan langkah yang terpuji karena melibatkan mahasiswa dalam pengambilan keputusan terkait dengan realisasi program. Dikarenakan rapat agenda yang tidak jelas dan keterbatasan waktu, rapat tersebut tidak menghasilkan suatu kesimpulan untuk ditindaklanjuti. Harapan perwakilan-perwakilan mahasiswa yang hadir pada saat itu adalah diadakannya kembali rapat dengan agenda yang lebih jelas agar tercapai suatu kesimpulan dan solusi yang baik bagi semua pihak. (Fraya Mahalia Fauzani & Ananda Badudu)

Related posts

*

*

Top