Presma Ari: "Mari Melihat dari Sisi Yang Berbeda"

Wakaji, Feb 08 – Kampanye Cinta Kampus 28 Jan 2008 : “Unpar in White”.

Akhir-akhir ini dapat kita saksikan banyak peristiwa yang terjadi di universitas-universitas dan perguruan setingkat lainnya dimana para mahasiswa ‘melempar’ kampusnya sendiri. Banyak sekali mahasiswa sendiri melempari kampusnya sendiri ujar Jupaka dari URS. Menganggap kinerja yang berada di kampus tidak berjalan dengan maksimal (bahkan bobrok), menganggap lebih banyak hal negatif yang terjadi di kampus dibanding hal positif, merasa terjebak dalam situasi tersebut, dan sebagainya. Para mahasiswa menunjukkan sikap ketidakberpihakannya pada kampus dimulai dengan mengedarkan segala ‘kebusukan’ kampusnya sendiri dari mulut ke mulut.

Menyadari situasi tersebut, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kampus, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Unpar menggagas program CINTA KAMPUS. Program tersebut, dengan bantuan berbagai anggota UKM dan Himpunan, berhasil diwujudkan dalam acara “Kampanye Cinta Kampus” pada hari Senin tanggal 28 Januari 2008 lalu. Dalam acara tersebut, para mahasiswa diajak untuk menunjukkan rasa cintanya pada kampus dengan memakai baju putih. Animo mahasiswa sangat besar ditunjukkan dengan banyaknya mahasiswa yang memakai baju berwarna putih pada hari itu.

Acara berlangsung selama beberapa jam di siang hari, dihibur dengan pengisi acara seperti  band-band, selingan dari UKM-UKM yang ikut berpartisipasi, dan foto bersama di plasa GSG dengan memakai baju putih. Diestimasikan sekitar 1200 orang dengan baju putih ikut berfoto bersama dengan baliho besar bertuliskan : ‘I Love Unpar’. “Secara organisasional, angka tersebut cukup bagus, tetapi secara individu saya merasa angka tersebut belum memenuhi target” kata Ari yang perfeksionis itu.

“Pemilihan warna putih tersebut karena warna putih adalah kesatuan seluruh warna Unpar bila dicampur, melambangkan kenetralan”, ungkap Ari Setya Wibawa selaku Presiden Mahasiswa Universitas Parahyangan sekaligus ketua panitia acara tersebut. Namun yang penting di sini bukanlah ‘warna’ yang menjadi lambang diri, melainkan makna dari acara itu sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa acara ini bermaksud untuk menyindir kampus Universitas Parahyangan dan memaksa pihak universitas mencintai mahasiswanya. Namun pernyataan ini disanggah oleh Ari. “Kampanye Cinta Kampus ini bukan salah satu gerakan melempar  kampus, tetapi sebagai gerakan memerangi sikap mahasiswa yang seringkali apatis terhadap apapun. Banyak yang berdalih bahwa tuntutan-tuntutan akademis kuliah menimbulkan sikap apatis dan kurang aktifnya mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan kampus seperti UKM, himpunan, lembaga-lembaga persatuan mahasiswa, ataupun kegiatan diluar lainnya. Oleh karena itu, LKM berusaha melibatkan setiap himpunan dan UKM dalam setiap kegiatan. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk membuat mahasiswa semakin aware terhadap sikap apatis tersebut” kata Ari.

“Melalui acara ini pun, kecintaan mahasiswa terhadap almamaternya diharapkan mulai bertumbuh. Dimulai dengan tidak melempari atau menyalahkan kampusnya sendiri” tandas Ari.  “Berhenti menuduh, berhenti menuntut, berhenti mencari-cari kesalahan, berhenti membesar-besarkan masalah yang ada. Caranya adalah dengan mencintai kampus selama masih menjadi bagian dari kampus, dan juga seterusnya. Mewujudkan kecintaan pada almamaternya dengan hal yang positif seperti menggagas atau memberikan berbagai solusi sehingga mahasiswa dapat menjadi partner universitas dalam pengambilan kebijaksanaan”, tambah Ari.

Mari melihat dari sisi yang berbeda, dimana ada penghargaan untuk kita”, begitulah ajakan Presiden Mahasiswa Universitas Parahyangan. Seperti melihat gelas yang hanya setengah terisi air. Bagaimana kita menggambarkannya: setengah terisi atau setengah kosong? Bila kita melihat dengan cara setengah kosong, kita akan menemukan banyak sekali kekurangan dalam kampus yang masih harus diperbaiki sehingga akan terasa sebagai beban yang akan sangat mempersulit mahasiswa untuk membuat kemajuan bagi kampus. Bila kita melihat dengan cara setengah terisi, kita akan menemukan banyak kemajuan dalam kampus yang akan semakin baik apabila didukung dengan lebih banyak kemajuan lainnya yang bisa kita usahakan sebagai seorang mahasiswa bagi kampus sendiri.

Dengan mengubah cara pandang, mahasiswa diharapkan akan menemukan semacam penghargaan yang akan memacunya untuk memajukan kampus dengan cara-cara yang positif. Cara pandang baru dalam melihat dan mengatasi permasalahan di dalam maupun di sekitar universitas tercinta. Cara pandang baru yang lebih baik. (Irene Renata & Amalia Septiana)

Related posts

*

*

Top