Presiden Mahasiswa Unpar Periode 2015-2016 Kaget dengan Hasil Fit & Proper Test

Sumber: unpar.ac.id Sumber: unpar.ac.id

STOPPRESS MP, UNPAR –  Presiden Mahasiswa (Presma) Unpar periode 2015-2016, Stephen Angkiriwang kaget mengetahui hasil fit & proper test yang diadakan pada Sabtu (9/4) lalu. Dilansir dari data yang telah diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat, nilai standar pada fit & proper test tahun ini adalah 41,49.

“Kaget, tapi saya pun tidak bisa komentar banyak karena saya tidak terlibat langsung di KPU. Tapi, saya optimis kalau KPU punya pertimbangan sendiri mengenai nilai Standar 41 ini,” tutur Stephen Angkiriwang akrab disapa Ang ketika diwawancara di sekertariat Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) pada Rabu (13/4).

Ang juga menjelaskan bahwa nilai standar ini mengalami penurunan dari sebelumnya. “Tahun lalu nilai standar untuk Presma 70 dan Calon Ketua Himpunan (Cakahim) sekitar 60 atau 65,” jelasnya

Berkaitan dengan turunnya nilai itu, Ang menjelaskan bahwa Fit proper test ini tidak menunjukan kualitas kandidat, tapi hanya cukup menilai kesiapan seseorang kandidat. Menurutnya, tes itu hanya memberi gambaran para kandidat dari segi wawasan dan logika. “Karena Kepemimpinan itu tidak bisa diukur pake nilai,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh ketua KPU pusat yaitu Jonatan Silaholo (Hukum 2012). Ia beranggapan bahwa nilai uji itu hanya memberi gambaran kasar mengenai kualitas kepemimpinan tiap kandidat. “Apa yang kita uji belum tentu bisa sama hasilnya di lapangan,” ucapnya.  Menurutnya,  calon kandidat dengan nilai pas-pasan tidak bisa kita simpulkan bahwa dia memiliki kualitas yang buruk

Terkait nilai itu, Jonathan mengatakan bahwa penentuan nilai standar itu menyesuaikan dengan nilai keseluruhan yang telah diakumulasi dari fit & proper test. Baik melalui tes secara lisan maupun tulis. Adapun, Fit & proper test sendiri telah selesai dilaksanakan pada hari Sabtu (9/4) lalu.

FIQIH RIZKITA

Related posts

One Comment;

  1. BYS said:

    duh masa mahasiswa sekarang se’genius’ ini, calon pejabat publik yang dipiih melalui pemilu (elected-selected) tidak diseleksi berdasarkan skoring fit and proper test. pejabat publik yang melalui scoring adalah yang pejabat yang diangkat (appointed) misalnya Komisioner KPK, KPU, Dewan Pers, Gubernur BI dan lain lain. ini hebatnya demokrasi kampus generasi paska reformasi, mengkombinasikan keduanya secara asal dengan entah dasar argumentasinya apa.

    Presmanya anak FISIP yah? kacau juga cara berpikirnya. masa tidak diajarkan perkara demokrasi dan nilai-nilai keutamaannya? atau FISIP sekarang memang mengajarkan demikian? Jangan-jangan benar kata seorang kawan yang menuis di Opini Kompas tempo hari, bahwa gejala anti-intelektualisme terparah terjadi justru di kampus.

    para pengajar mohon perhatiannya, janganlah kesesatan pikir macam begini berkembang dan diinstitusionalkan di kampus saudara yang juga almamater kami tercinta.

*

*

Top