Politik Mahasiswa di Unpar, Mau Kemana?

Mahasiswa dan Politik - Ilustrasi: Abdullah Adnan Mahasiswa dan Politik - Ilustrasi: Abdullah Adnan

Oleh: Petrus Richard Sianturi

“Politik itu harus kita jalankan bukan untuk menginjak-injak orang, tetapi agar kita tidak diinjak-injak orang.”

– Ernest C. Layman (Wakil Presiden Mahasiswa Unpar 2014/2015)

Suasana politik dari lingkaran kita mahasiswa Unpar mulai terasa. Setidak-tidaknya sejak diumumkannya pembukaan pendaftaran untuk menjadi kandidat calon presma dan wapresma, anggota MPM dan kahim. Puncak sementaranya adalah pada tanggal 11 maret 2015 yang lalu, saat semua kandidat calon memasukkan data-data yang dibutuhkan. Nama-nama kandidat calon dengan sendirinya menyebar dimana-mana. Omongan-omongan tentang mereka juga begitu saja muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. Suasana politik mahasiswa Unpar makin terasa, pertanyaan kemudian muncul, kondisi perpolitikan seperti apa yang sebenarnya diperlukan di Unpar untuk mencapai tujuan yang sebenarnya dari organisasi kemahasiswaan?

Mendiskusikan tentang politik itu terkadang menyenangkan sebab di dalam politik setiap yang terlibat saling beradu kepentingan dan berjuang untuk mempertahankannya, dan ketika sudah menang mereka bisa menjalankan apa yang menjadi tujuannya dan pada akhirnya mendapatkan kepuasan. Namun terkadang juga (maaf!) menjijikkan, sebab persaingan demi mempertahankan kepentingan itu cenderung dilakukan dengan menghalalkan segala cara, semau-maunya sampai sekotor-kotornya. Sikut kanan-sikut kiri, menjelek-jelekkan pesaing, sampai melontarkan fitnah-fitnah. Lihatlah betapa politik memiliki dua sisi yang saling bertentangan satu sama lain. Sisi mana yang mau kita pilih, itu tergantung dari kita sendiri.

Kemungkinan akan terjadinya keadaan seperti itu (yang menjijikkan itu) bisa saja terjadi dalam proses politik mahasiswa di Unpar. Kemungkinan tidak kecil, tetapi besar. Mengapa? Ingat, ini soal kepentingan yang mau diperjuangkan. Siapa yang mau kepentingannya dapat direalisasikan, dia harus memenangkan proses politiknya. Dan inilah yang sesungguhnya menjadi tantangan besar kita mahasiswa se-civitas untuk bertarung mencegah terjadinya kemungkinan itu. Karena itu, kemungkinan terjadinya proses politik yang “kotor” harus diantisipasi oleh semua pihak terlibat. Contoh antisipasi konkret sudah dilakukan KPUPM pusat dengan mengadakan workshop bersama seluruh kandidat calon. Tensi politik dalam diri masing-masing kandidat calon bisa diturunkan karena saat bertemu dengan kandidat calon yang lain, perbincangan dan tujuan ingin memimpin di PM sebenarnya satu: saya mau melakukan sesuatu demi almamater saya Unpar yang lebih baik. Hal ini sangat tepat dilakukan sebagai awal dan karenanya sangat patut diapresiasi.

Tapi tidak bisa selesai di situ saja, dari sisi semua kandidat calon, peranan mereka begitu penting untuk mencegah terjadinya politik yang “kotor” tadi. Kandidat calon sampai nanti menjadi calon sudah sepantas dan selayaknya memulai proses politik dengan kesadaran penuh bahwa politik yang akan dia jalankan semata-mata sarana untuk mencapai apa yang diimpikannya. Karena mimpi-mimpinya untuk Unpar yang lebih baik itu, maka seharusnya jangan dirusak dan dikotori oleh tindakan-tindakan tercela dalam politik itu sendiri. Intinya: saling memiliki komitmen bahwa saya yang mau mencapai dan menciptakan yang baik demi Unpar harus memulai proses pencapaian itu dengan tindakan-tindakan yang baik pula, alias politik yang sehat dan tidak saling menjatuhkan apalagi merendahkan. Ini juga catatan penting untuk para tim sukses kandidat.

Lalu dari mahasiswa pada umumnya? Satu hal yang mungkin bisa dijadikan pedoman adalah proses menentukan pilihan dengan tegas-berani sambil mendengarkan hati nurani. Kita bertanggung-jawab untuk Unpar ke depannya. Masa depan Unpar juga tergantung pada kita di saat sekarang. Perlu disadari, kedudukan organisasi kemahasiswaan memiliki peranan yang sangat besar demi keberlangsungan Unpar, jadi yang ada di dalam organisasi kemahasiswaan tidak lagi boleh sekadarnya, harus yang sungguh-sunggu serius. Bagaimana pengurus PM Unpar seperti itu bisa kita dapatkan? Satu-satunya cara dengan melihat dan menimbang betul-betul dalam masa pemilu. Jika Anda yakin, pilihlah mereka.

Kalau perpolitikan mahasiswa di Unpar bisa mulai diusahakan untuk diperbaiki, kita akan masuk kembali ke suasana yang kondusif sebagai satu kesatuan civitas akademika Unpar. Perpolitikan mahasiswa di Unpar bukan lagi lahan kotor yang menjijikkan tetapi sarana perjuangan bersama mewujudkan tujuan yang sebenarnya satu: Unpar yang lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini mungkin untuk dilaksanakan mulai tahun 2015 ini untuk memilih pengurus PM Unpar periode 2015/2016? Sangat bisa. Setidaknya saya sendiri sangat menyakininya, bisa. Kita harus memulainya sekarang.

Apa yang sudah saya tulis sebenarnya mengerucut pada satu titik: seperti di awal saya sudah sampaikan bahwa politik itu tergantung dari siapa yang menjalankan, maka perpolitikan mahasiswa di Unpar juga tergantung dari kita-kita mahasiswa Unpar itu sendiri. Pilihannya hanya dua: kalau kita bertindak kotor, maka politik mahasiswa di Unpar akan otomatis kotor secara keseluruhan. Atau sebaliknya, kalau kita bertindak bersih, konsekuensinya cuma satu: Unpar yang lebih baik dapat tercapai. Dan karena yang disebut terakhir itu yang kita harapkan, maka mulailah dan jalankanlah semua proses politik di kampus kita dengan bersih. Semoga.


Tentang Penulis: Petrus Richard Sianturi adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unpar angkatan 2012

Related posts

*

*

Top