Polisi dan Regu Keamanan Unpar Himbau Mahasiswa Untuk Melaporkan Tindakan Pelecehan Seksual

Illustrasi Pelecehan Seksual dok./Erhui1979

STOPPRESS, MP -Terkait dengan kejadian pelecehan seksual yang menimpa beberapa mahasiswi Unpar di sekitar kampus Unpar, Ciumbuleuit, Kota Bandung. Inspektur Polisi Dua (IPDA) Dhenia Istika Dewi yang bergerak di unit Perlindungan Peremuan dan Anak (PPA) menghimbau agar kedepannya korban segera melaporkan kejadian pelecehan seksual agar segera di tindak lanjuti.

“Dari informasi masyarakat yang beredar, sejauh ini belum ada laporan baik dari pihak terkait maupun pihak yang dirugikan atau korban ke Polrestabes Bandung,” ujar IPDA Dhenia yang diwawancara di Polrestabes Bandung Unit PPA. Ia menyayangkan hal tersebut dan juga mengatakan bahwa unit PPA ini akan menindaklanjuti segala pelaporan dari masyarakat, namun tidak bisa menindak lanjuti jika tidak ada laporan.

“Kalau sudah dilaporkan biasanya akan kami konsultasikan lebih lenjut kepada pihak pelapor terkait kejadian tersebut kemudian akan dibuat laporan polisi dimana terdapat beban tanggung jawab untuk menyelesaikan kasus tersebut,” Jelasnya.

Dari wawancara yang dilakukan di Polrestabes Jalan Merdeka Bandung, IPDA Dhenia mengatakan ketika sedang mengalami kejadian tersebut ia menyarankan untuk mencatat informasi apapun seperti plat nomor kendaraan, melaporkan ke security terdekat hingga minta bantuan ke orang-orang sekitar area kejadian.

Sejalan dengan IPDA Dhenia, regu kemanan Unpar yang dipimpin oleh Dadan selaku kepala regu kemanan Unpar yang bertugas sejak tahun 2009 mengatakan bahwa urusan keamanan di sekitar Kampus Unpar hingga daerah kost mahasiswa akan dibantu oleh regu keamanan tersebut.

“Jangan sungkan laporkan pada kami kalau masih lingkup area cidadap meskipun itu di luar unpar. Misalnya ada kejadian seperti kemarin (red. pelecehan seksual) dengan pihak luar, silahkan laporkan,” Kata Dadan. Ia pun menjelaskan bahwa biasanya pihak keamanan akan menanyakan ciri-ciri pelaku dan akan menghubungi pihak RW, Ketua Pemuda dan Satuan kemananan lainnya.

“Jadi kami sangat menghimbau kepada mahasiswa meskipun kejadian sudah lewat tetap melaporkan ke kami (red. Keamanan Unpar) supaya kami bisa antisipasi dan ke depannya jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali.” Ujarnya.

“Sebenarnya kami peduli dengan lingkungan sekitar Unpar dan justru kami senang apabila ada laporan karena jadi ada kerjaan di luar unpar, kalau di internal cenderung kondusif paling hanya patroli rokok,” Tutur Dadan

Pelecehan Seksual di Sekitar UNPAR

Minggu, 3 Desember 2017, terjadi kasus pelecehan seksual di sekitar Jl. Bukit Indah (sekitar Warung Harmony) yang menimpa mahasiswi UNPAR Fakultas Teknik yang tiba-tiba diraba dadanya oleh pria bermotor yang tidak dikenal.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 11.45, Korban sedang berjalan sendirian di area Jl. Bukit Indah yang sepi menuju kos temannya. Saat kejadian, korban mengaku melihat pelaku tiba-tiba menyalakan motor dan mengarah ke arah korban.

“Motornya mengarah dekat banget ke aku, dan tiba-tiba semua jadi cepat sekejap mata. Salah satu tangannya tiba-tiba aja mengarah ke dada aku dan meraba kencang ke dada sebelah kiri aku, terus kabur gitu melaju cepat ke arah Jl. Ciumbuleuit.” ujar Korban saat diwawancarai via Line.

Korban mengaku sangat shock dan gemetaran saat itu, dan kejadian tersebut berhasil membekaskan luka trauma bagi korban. Korban pun berkeinginan dan bertekad untuk melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib nantinya.

Yenti Amelia (Arsitektur 2014) menceritakan bahwa Ia pernah melihat kejadian serupa yang menimpa salah seorang temannya. Ia menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 9 malam, ketika Ia dan korban pulang dari sombar dan berjalan menuju kostnya yang berada ke arah yogya.

“waktu itu ada motor ngedeket, setelah jaraknya sekitar 1 meter dari kita, dia lewat sambil nyentuh gitu,” ujar Yenti yang diwawancara melalui Line. Selain itu dia pun menjelaskan bahwa sebelumnya Ia dan temanya telah melihat pelaku sedang duduk di motor. “motor gede orangnya pake baju lumayan rapih, helm fullface dan pake kain item nutup mulutnya jdi matanya doang yg keliatan,”

Di  tempat yang sama, Sherlly (Arsitektur 2014) pun mengatakan bahwa Ia pernah melihat kejadian serupa pada hari selasa (5/12), “ada motor dari bawah , arah naik. Dia pake helm jaket item, pas dia agak deket ke arah kita, gue otomatis menyingkir. Eh gataunya ga lama temen gue yg jalan di belakang bilang dia dipegang di bagian dadanya,” Ujarnya

Sherlly pun mengatakan setelah kejadian itu Ia jadi lebih waspada. “selama ini suka jalan disitu, karena ga pernah ngalamin atau liat langsung. Setelah kejadian itu kayanya gamau lewat situ lagi deh kalau malam,” katanya.

Tidak jauh dari tempat tersebut, seorang mahasiswi Unpar juga mengalami kejadian yang serupa di sekitar Jalan Rancabentang, ia mengaku melihat pelaku mengeluarkan alat vitalnya dan melakukan masturbasi di depannya.

“Ya awalnya ga mencurigakan sama sekali, di turunan OBC itu loh tempatnya. Gelagatnya kaya orang bingung nyari alamat terus minggir buat nanya-nanya ke aku, tapi tiba-tiba dia mengeluarkan alat kelaminnya,” Ujarnya.

Ia pun memberikan sedikit ciri-ciri pelaku tersebut yang menggunakan sepeda motor matic, warna kulit hitam, postur tubuh kurus dan ponsel tua berwarna merah. “hanya itu yang diingat, selebihnya lupa karena pada saat kejadian cukup kaget dan tidak menyangka,” jelasnya

Mahasiswi tersebut juga mengaku jika tidak merasakan sendiri Ia tidak akan mengerti rasanya seperti apa mengalami hal seperti itu. Ia juga mengatakan untuk lebih berhati-hati saat berjalan di sekitar lokasi tersebut dan harus lebih berani untuk kedepannya. “jangan sampai ada korban lagi yang diperlakukan lebih dari itu,” ujarnya

Hal senada juga disampaikan oleh Evelyn Tanissa (Fakultas Hukum UNPAR). Evelyn beranggapan bahwa sudah saatnya kaum perempuan berani berbicara untuk menekan para pelaku pelecehan yang berpikiran sempit, agar kejadian seperti ini dapat diminimalisir hingga tidak terulang lagi.

“Hal tersebut bisa terjadi bukan karena salah cara berpakaian, bukan juga salah perempuan. We respect men. So why they don’t respect us?” ujar Evelyn.

 

Baca Juga: Wawancara Anita Dhewy : Penanganan Pelecehan Seksual Harus Berangkat Dari Perspektif Korban

 

BRENDA CYNTHIA ATMADJA | FIQIH R PURNAMA | GALING GANESWORO