Pius Sugeng : Sabilulungan, Runtut Raut Sauyunan

Peringatan Dies Natalis FISIP Ke-54 bertempat di ruang audio visual FISIP pada Selasa (19/8). Dok. MP/ Hilmy Mutiara Peringatan Dies Natalis FISIP Ke-54 bertempat di ruang audio visual FISIP pada Selasa (19/8). Dok. MP/ Hilmy Mutiara

STOPPRESS MP, UNPAR – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNPAR merayakan Dies Natalisnya yang ke-54 pada Selasa (19/8). Acara ini mengangkat tema “Sabilulungan, Runtut Raut Sauyunan”  yang berarti “Melangkah bersama-sama untuk mewujudkan visi misi kita bersama”.

Acara dies natalis ini diisi oleh antara lain: Orasi oleh Banowati Talim dengan judul “Perubahan Diri yang Berkelanjutan dalam Rangka Mewujudkan Great UNPAR yang Humanum”, sambutan dari Rektor Universitas, Ketua Pengurus Yayasan Unpar, Dekan FISIP, dan juga Ketua Pengurus Ikatan Alumni FISIP, laporan perkembangan fakultas oleh Dekan FISIP, penyerahan buku perpustakaan kepada 5 sekolah dasar di Ciumbuleuit yang diterima oleh masing-masing kepala sekolahnya, Expo & Writing Competition Dies Natalis FISIP Unpar, penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, dan persembahan penampilan dari siswa SD di Ciumbuleuit.

Pada usia FISIP yang ke-54 tahun ini, Pius Sugeng, selaku dekan FISIP menyempatkan waktunya untuk diwawancarai MP di ruangannya yang terletak di gedung 3 di hari yang sama.

Apa tantangan yang FISIP sedang hadapi di usia ini?

Pius(P) : Memang tantangan yang sudah lama ada adalah isu kompetisi, suka tidak suka ya. Kompetisi itu tidak berarti mengalahkan satu dengan lain , tetapi sebuah kompetisi ketika kita juga bisa bertahan dan terdepan dalam konteks UNPAR yang ada di tataran local. Tataran tersebut yaitu Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia sebagai perguruan tinggi swasta serta pada tataran internasional, paling tidak di ASEAN.

Sampai sejauh mana Unpar mampu berperan dan punya daya saing. Kemudian yang kedua dari daya saing itu, Unpar harus meningkatkan mutu internalnya. Jadi kompetisi itu bukan sesuatu hal yang diraih begitu saja, tetapi yang harus dilakukan adalah secara internal seluruh aspek yang ada di UNPAR ini harus ditingkatkan mutunya. Dalam bahasa penjaminan mutu, semua standar yang ada di Unpar, mulai dari yang sifatnya akademik maupun nonakademik itu ditingkatkan baik manusianya maupun non-manusianya harus ditingkatkan kualitasnya, itu secara internal.

Tapi kemudian tantangan ke depan yang  jauh lebih penting adalah bagaimana UNPAR mempunyai komitmen terhadap kontribusinya untuk pembangunan bangsa Indonesia ini. UNPAR berada di Indonesia dan konteks ke-Indonesiaan itu harus tegas sekali bahwa UNPAR harus berkontribusi membangun bangsa ini. Ketika ada krisis masalah besar yang  berkaitan dengan krisis kepemimpinan dan krisis integritas maka UNPAR harus bisa jadi penopang terwujudnya pemimpin-pemimpin yang berintegritas. Makanya lulusan-lulusan kita harus menjadi orang-orang yang mempunyai integritas yang bisa diandalkan.

Cara menghadapi tantangan tersebut?

P : FISIP sendiri ingin terus melibatkan diri. Kita harus semakin terlibat terhadap persoalan-persoalan yang ada di masyarakat kita, baik tingkat lokal maupun nasional. Syukur-syukur kalau bisa memberikan kontribusi di tingkat internasional, jadi kita harus berkontribusi.

Kemudian untuk FISIP sendiri juga upaya meningkatkan mutu terus menerus kita lakukan, misalnya seperti dosen yang S2 harus segera lanjut S3. Supaya kita sedapat mungkin terkualifikasi, S3 doktor harus dipenuhi sehingga daya saing dari sumber daya yang kita miliki jadi bisa diandalkan. Demikian juga sarana dan prasarana yang kira-kira memang harus kita kembangkan ya harus kita tingkatkan.

Boleh tolong jelaskan slogan/tema Dies Natalis FISIP tahun ini??

P : Artinya sabilulungan adalah sebuah semangat kebersamaan (togetherness). Karena hanya dengan kebersamaan tersebut, kita bisa saling mengajak, membantu antarkolega itu. Akhirnya, akan membawa kita kepada kondisi yang kita inginkan. FISIP yang lebih baik lagi atau menjadi the great FISIP. Hebatnya dalam hal apa yaitu ketika kita semakin banyak bisa berkontribusi. Itu hanya bisa dicapai dengan sabilulungan runtut raut sauyunan. Secara kebersamaan melangkah bersama sama untuk mewujudkan  visi misi kita bersama. Tema ini  lebih pada ajakan ya, ajakan kebersamaan. Seperti di dalam pepatah Sund yaitu silih asih silih asah silih asuh. Intinya kan sebenarnya begitu. Mari kita saling sama-sama membantu, saling mengasihi, saling mengasah, juga saling mengasuh itu bagus sekali.

Harapan Anda bagi FISIP?

P : Kita punya harapan bahwa baik kinerja kita maupun karya-karya para dosen juga semakin meningkat. Baik itu di bidang pengajaran maupun dalam hal penelitian dan publikasi. Kualifikasi kepangkatan akademik para dosen dan kompetensi tenaga  kependidikan juga akan terus kita tingkatkan sehingga kita melayani lebih baik lagi dan lebih sungguh lagi. Untuk mahasiswa, diharapkan lebih semakin aktif lagi tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan akademik tapi yang non akademik pun itu sedapat mungkin ada keseimbangannya sehingga karakter terbangun di situ. Tidak hanya kemampuan intelektual, tetapi karakternya juga bisa dibangun di situ.

Pesan bagi civitas di FISIP khususnya?

P : Mari kita berkarya dalam kegembiraan. Seperti tadi ketika orasi ibu Banowati di Dies Natalis juga dikatakan di dalam orasi, tersenyum, tersenyum, dan tersenyum. Artinya apa? Marilah kita berkarya dalam suasana kegembiraan. Bukan berarti tidak ada konflik dan tidak ada masalah melainkan kalaupun ada masalah, konflik, dan hal-hal yang harus diselesaikan, kita kemas dalam sebuah irama kegembiraan bersama untuk berkarya. Akhirnya, kita saling diteguhkan ya saling didorong saling memotivasi untuk bisa berkarya dan melayani lebih bagus lagi.

HILMY MUTIARA

Tags , ,

Related posts

*

*

Top