Perjuangan Sosok Marlina Mencari Keadilan Di Tengah Rentannya Perempuan

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Dok/Pikselnesia

Film dimulai dengan dataran sabana pulau Sumba yang luas dan jauh dari peradaban modern di Jawa. Nada lagu bernuansa koboi mengiringi jalannya cerita. Dari jauh kita dapat melihat seseorang datang mengendarai motor trail. Pengendara motor tersebut kemudian turun dari motornya. Sambil memegang parangnya, ia masuk ke dalam sebuah rumah tanpa minta izin. Kemudian, pengendara motor bernama Markus mengancam Marlina, si pemilik rumah. Dengan tengik dan berkuasa, ia memberitahu Marlina bahwa ia dan komplotannya akan mengangkut ternak-ternak miliknya sekaligus menikmati tubuhnya ramai-ramai.

Pembukaan film tersebut mengingatkan saya kepada film-film bergenre western di mana orang-orang pada waktu itu masih belum dilindungi oleh hukum yang pasti. Sebagai gantinya, pistol pun menjadi pengacara untuk membela diri di depan hukum yang serba tidak pasti tadi. Kondisi yang sama tentu dialami Marlina yang merasa terancam keselamatannya saat telinganya mendengar ucapan perampok itu.

Apa yang bisa dilakukan Marlina untuk menyelamatkan diri dan mengejar keadilannya tidak bisa sekadar menelpon polisi karena polisi tidak dapat melindungi Marlina, Marlina pun harus mengejar keadilan dengan cara-cara perbatasan ketika parang harus menjadi pengacara di sebuah pengadilan bernama kehidupan. Sementara mati adalah satu-satunya hukuman yang tersedia. Sudah jelas kemudian Marlina akhirnya membunuh Markus dan komplotannya meskipun masih ada komplotan pencuri yang masih hidup dan mengejar Marlina.

Topik yang diangkat dalam film ini mengingatkan saya bagaimana banyaknya perempuan masih merasa tidak aman untuk tinggal sendiri, meskipun perempuan tersebut hidup di kota metropolitan. Jika di kota metropolitan saja banyak perempuan yang masih merasa tidak aman berjalan sendirian, bagaimana dengan Marlina yang tinggal jauh dari pusat kota. Bahkan di film itu, para penegak hukum lebih memilih bermain ping-pong dibanding melindungi Marlina sebagai seorang korban perampokan dan pelecehan seksual.

Selain itu, hal menarik yang saya temui dalam film ini adalah pengambilan gambar adegan di dalam film. Adegan-adegan banyak diambil dengan gaya still frame dimana kita disuguhi oleh komposisi-komposisi gambar yang mengingatkan saya kepada lukisan-lukisan Raden Saleh. Saat film dirangkai dengan adegan-adegan tersebut, kita diajak untuk memperhatikan objek-objek gambar yang berada di dalam layar. Dialog-dialog yang disuguhkan kepada penonton juga bukanlah dialog-dialog yang bersifat malas dan bersifat eksposisi semata. Dalam film ini dialog-dialog justru menyuguhkan cerita-cerita yang berkembang. Bukan hanya karakter-karakter di dalam film Marlina sendiri, melainkan juga cerita-cerita mengenai bagaimana kebudayaan, cara pandang, dan kebiasaan masyarakat di pulau Sumba.

Dalam film ini kehidupan dan kematian juga merupakan salah satu tema sentral yang diangkat dalam film ini, dimana kehidupan Marlina sebelumnya diwarnai dengan kematian anak dan suaminya. Simbolisasi kematian dapat kita lihat dari munculnya kuda dalam film ini. Di dalam kebudayaan Sumba, kuda muncul dalam upacara prosesi kematian sebagai tunggangan dari penjaga mayat dan bahkan dikorbankan jika kuda tersebut merupakan kuda kesayangan dari pemiliknya.

Simbolisasi (Dalam film. sejumlah adegan perjalanan menggunakan kuda atau setidaknya berdekatan dengan kuda seperti misalnya motor trail) tersebut juga dapat menggambarkan kemanapun Marlina pergi, kematian selalu menghantuinya. Meskipun demikian, dalam budaya Sumba, kematian juga dianggap sebagai proses transisi menuju alam Surga dimana manusia hidup kekal disana.

Berhubung dengan kebudayaan di Sumba juga, hal menarik lainnya terlihat ketika orang-orang yang meninggal dan belum dikuburkan seperti suami Marlina (dan pada akhirnya Markus juga), diposisikan duduk sesuai dengan adat di Sumba. Hal itu dilakukan untuk menyerupai keadaannya semula ketika masih di dalam kandungan sehingga diberi makna ‘Lahir Baru’.

Hal lain yang patut kita perhatikan yaitu film ini juga menyuguhkan tema tentang kehidupan. Tema itu terlihat melalui simbolisasi kehadiran anak-anak dalam film ini. Mulai dari bagaimana Novi yang sedang mengandung, anak-anak yang menaiki truk di sebelah Marlina yang sedang menunggangi kudanya hingga lahirnya anak yang dikandung Novi.

Simbolisasi-simbolisasi tersebut mengingatkan saya mengenai pepatah merdeka atau mati. Seseorang yang masih terjajah seolah-olah menjadi sama dengan sebuah alat walaupun alat adalah benda mati. Hal ini dapat kita temui dalam film ketika seorang perempuan masih dianggap objek dari laki-laki dalam budaya Sumba yang patriarkal. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Marlina langsung disuruh memasak di dapur dan “melayani” mereka di kamar. Marlina pun kemudian berusaha keluar dari kekangan itu dan memerdekakan dirinya dengan cara membunuh perampok tersebut satu-persatu.

Marlina dan Novi dalam memperjuangkan kemerdekaannya, hanya mendapatkan bantuan satu kali dari tokoh laki-laki (kebetulan orang tersebut sedang ingin menikah) dan sisanya berjuang dengan darah dan keringat mereka sendiri. Hal ini mencerminkan bahwa di tengah-tengah budaya yang menekan tersebut, masih ada orang yang peduli dengan perjuangan perempuan. Namun disisi lain, kemerdekaan perempuan sebenarnya harus diperjuangkan oleh perempuan itu sendiri bukan diberikan oleh pihak lain.

Apa yang dialami Marlina dan kematian-kematian penjahat yang kebetulan semuanya laki-laki serta lahirnya seorang anak setelah kematian-kematian tersebut dapat kita interpretasi sebagai harapan perempuan atas hadirnya transisi atas nilai-nilai patriarkal. Sebagai masyarakat yang modern kita perlu meninggalkan nilai-nilai yang bersifat menjajah tadi dan menuju lahirnya sebuah era baru dimana perempuan tidak perlu lagi mengangkat parang demi mempertahankan keamanan dirinya.

Andrian Dharmawan adalah mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2013 memiliki ketertarikan di dunia pefilman dan videografi. Andrian juga tergabung dalam salah satu komunitas bentukan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) bernama Parahyangan Cinematek (Partek).

Related posts

*

*

Top