Peran Komisi Penyiaran Indonesia Dipertanyakan, Ini Kata KPID Jabar

Dedeh-Fardiah-ketua-KPID-Jawa-Barat-tengah-pada-Bincang-Isola-“Mendidik-TV”. dok/ISOLA POS Dedeh-Fardiah-ketua-KPID-Jawa-Barat-tengah-pada-Bincang-Isola-“Mendidik-TV”. dok/ISOLA POS

NASIONAL MP, UNPAR –Dede Fardiah, selaku perwakilan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menganggap masyarakat hanya menilai kerja KPI/KPID dari luar saja. Menurutnya, masyarakat tidak tahu menahu mengenai keterbatasan yang dimiliki KPI/KPID itu sendiri.

“Memang kalau tidak tahu kami bekerja, orang melihat hanya dari luar. Tapi perlu diketahui bahwa memang kondisi alat pemantau dan sumber daya manusia kita masih belum memadai,” ujar Dede saat ditemui seusai diskusi bertajuk “Mendidik TV” yang diadakan Pers Mahasiswa ISOLA  pada Rabu (30/3) lalu di Teater Terbuka Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),

Pernyataan tersebut dilontarkannya lantaran saat diskusi berlangsung, salah satu pembicara menyatakan bahwa KPI selalu bekerja setelah masyarakat ramai membicarakan dan menolak siaran yang kurang baik. “Kenapa KPI selalu bekerja setelah kejadian?” tutur Hary Santoni selaku ketua Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP).

Terkait pernyataan itu, KPI/KPID, menurut Dede, sudah bekerja semaksimal mungkin dengan program-program yang dimiliki. Dari program-program itu pun diharapkan dapat mewujudkan siaran TV yang baik sekaligus melahirkan masyarakat yang cerdas.

Dede pun juga menjelaskan bahwa pihaknya rutin menyelenggarakan workshop bagi pihak media. Selain itu, pihaknya juga mengaku aktif mengedukasi masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Mendorong Penyiaran Sehat dan Cerdas (Gemas Pedas) yang telah berjalan di 27 kota & kabupaten sejak tahun 2004. “Kami adakan workshop kepada lembaga penyiaran sekaligus mengadakan media literasi bagi masyarakat karena masyarakat pun harus cerdas,” tuturnya.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen komunikasi UNISBA ini pun menambahkan bahwa masyarakat juga harus becermin dan tidak melulu menyalahkan TV. Ia pun beranggapan bahwa ketika masyarakat cerdas, TV pun akan berpikir.

Selain KPID Jabar, Diskusi bulanan yang diprakarsai Unit Pers Mahasiswa (UPM) UPI menghadirkan Pakar Psikologi dari Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI  Engkos Kosasih, Ketua Ikatan Jurnalisme Televisi Indonesia (IJTI) Dicky Wismara, Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP), Hari Santoni, dan Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Budhi Purnama.

JAMIE WIJAYA | VINCENT FABIAN

Related posts

*

*

Top