Penurunan Bendera Setengah Tiang, 9 Mei 1998: Penghormatan Untuk Mozes Gatotkaca

mozes

Edisi 9 Mei 1998

Sekitar 30 Mahasiswa berkumpul di depan Gedung Rektorat Unpar pada Sabtu (9/5) siang, menurunkan bendera setengah tiang tanda penghormatan kepada Mozes Gatotkaca yang meninggal di Yogyakarta pada hari Jumat (8/5) lalu.

Diawali dengan aksi mengelilingi kampus menggotong replika keranda jenazah sambil menyanyikan “Gugur Bunga” pada pukul 11.30 WIB, para mahasiswa Unpar menunjukkan rasa turut berduka-citanya menanggapi berita kematian Mozes Gatotkaca. Aksi lalu dilanjutkan dengan penurunan bendera setengah tiang, serta pembacaan puisi oleh Ruri Arianto.

Dalam aksi tersebut, Henry Ismail mewakili seluruh mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut, mengecam tindakan represif aparat keamanan yang diduga keras menyebabkan kematian Mozes Gatotkaca.

Aksi penurunan bendera tersebut, berlangsung sebentar, dan berakhir pada pukul 11.50 WIB. Selanjutnya, replika keranda jenazah ditaruh ditengah Plaza GSG Unpar, untuk memberi kesempatan kepada seluruh mahasiswa Unpar yang peduli untuk mengisi poster tanda turut berduka cita.

Mozes Gatotkaca, meninggal pada Jum’at malam, 8 Mei 1998. Menurut berita yang dihimpun redaksi melalui beberapa media massa, Mozes Gatotkaca ditemukan sekarat ditengah-tengah kegentingan menyusul unjuk rasa yang berakhir dengan bentrokan di sekitar Kampus Universitas Sanata Dharma (USD) di Mrican, Yogjakarta. Dengan menggunakan ambulans, korban dibawa ke rumah sakit Panti Rapih sekitar pukul 21.55 WIB. Tidak beberapa lama korban meninggal. Hasil visum menunjukkan, korban mengalami pendarahan telinga dan mulut, serta diduga mengalami retak dalam tulang dasar tengkorak akibat benturan benda tumpul pada bagian belakang kepala. Berita terakhir yang dilansir melalui Harian Bernas mengatakan, bahwa Mozes Gatotkaca adalah alumnus dari Akademi Perindustrian (Akprind) Yogyakarta, meralat berita sebelumnya yang menyebutkan Mozes sebagai Mahasiswa FMIPA Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Korban, yang juga anggota tim SAR DIY, — dikenal sebagai orang pendiam dan ramah. Seorang rekan dekatnya, Argoseto kepada Harian Bernas mengatakan, “Saya dan Mas Gatot merupakan rekan dekat. Dia tidak pernah membuat ulah yang meresahkan masyarakat. Setiap habis bekerja, dia langsung pulang dan diam di rumah.” (Erwin/e)

Related posts

*

*

Top