Pengantar Redaksi

Sungguh, tidak ada edisi yang lebih tepat menerangkan tentang krisis daripada edisi ini. Dengan keterlambatan penerbitan sampai 5 bulan akibat “peng-nol-an” anggaran, akhirnya kita dapat menerbitkan satu lagi edisi baru yang diharapkan dapat memotret kondisi yang ada saat ini. Hambatan serius penerbitan kali ini membuat edisi ini merupakan edisi yang penuh dengan perjuangan maupun sebagai penanda akan “krisis” itu sendiri.

Setiap kali kita membuka koran maupun melihat televisi, maka hari-hari ini pun kita menjadi semakin was-was. Kita dihadapkan pada kondisi-kondisi yang begitu mengkawatirkan: Kekacauan system perekonomian dunia, harga minyak dunia yang tak menentu, ancaman krisis pangan, bencana alam akibat dari krisis lingkungan, kekacauan sistem pemerintahan, korupsi yang masih merajalela, massa yang tidak terkontrol, jumlah pengangguran yang bertambah, kasus HAM yang tak kunjung terselesaikan, dan hal-hal lain yang terus berkelanjutan.

Dengan diterbitkanya Media Parahyangan edisi krisis ini diharapkan sense of crisis manusia Indonesia yang kebanyakan hilang dalam kepalsuan hiperealitas media massa. Namun seperti yang dikatakan oleh (Alm.) Soedjatmoko: ketika kita mengatakan bahwa saat ini kita tidakberada dalam krisis, maka saat itu juga sebenarnya kita berada pada krisis itu sendiri.

Membicarakan Krisis adalah membicarakan diri kita sendiri sebenarnya. Kita tidak dapat menolak bahwa krisis adalah bagian dari diri kita. Kenyataan bahwa krisis dibuat oleh manusia, maka tidak mungkin tidak bisa diatasi. Masalahnya tinggal terletak pada diri kita sendiri, sadarkah kita akan kondisi tersebut atau tidak. Sekalipun bahwa kondisi krisis ini menandakan juga akan datangnya sebuah situasi yang lebih gemuruh: Revolusi, sebuah perubahan besar.

Dan kita pun fahum bahwa bagaimanapun krisis adalah sebuah proses untuk terus menjadi. Biarpun terus menerus dan tak kan pernah selesai, namun akhirnya pilihan terakhir terletak pada pilihan kita: apakah mau percaya akan “kutukan” terakhir yang tersisa dalam kotak Pandora, “Harapan”? Selamat Membaca!

Related posts

*

*

Top