Pendapatan Secure Parking Menurun, Sejumlah Karyawan Diliburkan

Suasana Basement 3 Gedung Baru PPAG. Dok/MP Suasana Basement 3 Gedung Baru PPAG. Dok/MP

STOPPRESS MP, UNPAR –Turunnya income (pendapatan) Secure Parking akibat minimnya lahan parkir turut menyebabkan masalah penggajian karyawan. Selain akibat  naiknya Upah Minimum Regional (UMR) setiap tahun, tidak naiknya tarif parkir turut memperkeruh masalah. Untuk mengatasi masalah itu, Secure Parking pun mau tidak mau meliburkan sejumlah karyawannya.

“Sekarang, tiap Sabtu itu Sumber Daya Manusia (SDM) lapangan itu libur, no work no pay,” ujar Rudi Sucipto selaku Car Parking Manager (Wakil dari Secure Parking untuk Unpar) saat diwawancarai oleh reporter Media Parahyangan di ruangannya pada Hari Kamis (6/10).

Terkait peliburan itu, terdapat beberapa variasi jumlah hari peliburan tergantung situasi yang dihadapi. Rudi mencontohkan misalnya pada hari kuliah biasa, di setiap hari Sabtu, 20 dari 40 karyawan lapangan yang berstatus Pekerja Harian Lepas (PKHL) Secure Parking diliburkan. Meskipun kebijakan tersebut telah lama berlangsung, Rudi menjelaskan bahwa peliburan itu sebelumnya hanya berlaku pada masa-masa ujian saja, tetapi kini setiap hari Sabtu.

Berbeda halnya dengan pekan-pekan ujian seperti Ujian Tengah Semester bulan Oktober 2016 misalnya, Secure Parking dapat meliburkan 36 karyawannya dalam satu hari. Pada Semester Pendek (SP) 2016 lalu, karyawan hanya masuk Senin-Rabu dan selebihnya pada minggu itu diliburkan.

Pada hari libur kuliah seperti  libur Desember-Januari dan Inisasi dan Adaptasi (SIAP) 2016, 36 karyawan turut diliburkan dengan jumlah hari mengikuti jadwal akademik. Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya pemasukan uang parkir yang diperburuk dengan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) sehingga turut mempersulit biaya gaji karyawan dan biaya operasional lapangan. (Baca juga : Kekurangan Lahan, Pendapatan Bulanan Secure Parking Mulai Alami Penurunan)

Terkait Upaya menaikan tarif parkir, Rudi mengaku hal itu sulit dan belum dapat dilakukan. “Berrhubung Unpar sedang melakukan pembangunan maka sepertinya tidak etis untuk meminta kenaikan tarif. Sedangkan setiap tahun upah karyawan naik, maka uang untuk menggajinya dari mana?” ucap Rudi. Oleh karena itu, cara yang dapat dilakukan untuk mengatur jumlah gaji karyawan dan pemasukan uang parkir adalah dengan meliburkan karyawan lapangan.

Kenaikan tarif parkir hanya pernah diberlakukan satu kali, yaitu di tahun 2014. Pada saat itu, tarif mobil naik dari yang asalnya 4000 rupiah menjadi 8000 rupiah yang ditujukan untuk membatasi jumlah mobil yang masuk dan diinapkan. Meskipun sempat naik, Rudi menuturkan kala itu, kenaikan tarif tidak mudah sebab sempat mendapat protes dari presiden mahasiswa di masa itu. “Waktu itu semua complain pada datang ke sini. Kenapa begini kenapa begitu. Tapi akhinya mereka mengerti,” ucapnya.

Adapun ketika dimintai keterangan mengenai hal ini, Orpha Jane selaku Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya belum dapat ditemui reporter Media Parahyangan sejak 18 Oktober lalu.

SHAQUILE NORMAN

Related posts

*

*

Top