[Cerpen] Pena Tanpa Tinta

Ilustrasi Pena. Dok Podio/MP Ilustrasi Pena. Dok Podio/MP

 

Aku rasa sekarang sekolah hanya sekedar tempat bagi para guru untuk mencari uang, ketika mengajar, mereka hanya membawa buku atau laptop dan membacakan ulang setiap kata yang ada didalamnya. Jika menjadi guru hanya sedangkal itu, bagaimana dengan murid yang diajarnya? Mungkin mereka terlalu sibuk untuk memikirkan besok makan dengan apa, dibanding memikirkan apa yang akan dia ajarkan kepada muridnya nanti pagi.

Pikiran itu terbesit dan mengambang dalam bayanganku secara tiba-tiba,  mungkin karena pemandangan buku-buku bertuliskan “Latihan Ujian Nasional” yang tersusun sembarang di karpet merah kamarku, terhampar juga pemandangan seragam yang warna putihnya mulai kusam, dengan celana abu yang warnanya mulai luntur dimakan usia, bahkan terdapat beberapa sobekan di sekitar lutut,  seolah memperingatkan bahwa sebentar lagi ia akan angkat kaki dari kehidupanku

Keadaan seperti ini membuatku melamun dan bernostalgia mengenai hal-hal yang telah terjadi di Sekolah Menengah Atas, terutama kejadian bersama dengan ketiga sahabatku. Yang pertama Idris, seorang organisator ulung dan aktivis, mantan ketua osis, dan sangat ambisius dengan perguruan tinggi negeri. Yang kedua Bobi seorang atlet sepak bola, namun lemah dalam mata pelajaran eksakta. Yang ketiga Carli, seorang siswa terbodoh di kelasku, dengan perilakunya yang Bengal.

Yang paling selalu aku ingat dari mereka bertiga ialah perilaku mereka di kelas ketika sedang ulangan harian, Carli selalu memasang wajah sumringah seperti tidak akan terjadi apa-apa, dan yang paling mencengangkan, dia selalu keluar kelas paling awal, entah karena soal-soal yang terlalu enteng untuk dirinya, atau karena sudah merasa bosan mengarang jawaban.

Yang aku suka dari Carli, Ia tak pernah mau mencontek. Ketika ditanya kenapa alasannya ialah karena kepuasan adalah hal yang selalu Carli senangi, dan kepuasan itu bisa Ia dapatkan dalam kejujuran. Walaupun tak jarang Carli mendapatkan nilai terkecil di kelas.

Beda halnya dengan Idris, dia hidup penuh dengan gengsi, keadaannya sebagai ketua osis membuatnya merasa wajib untuk selalu baik dalam segala mata pelajaran, dan Ia lakukan segala cara untuk mendapatkannya, aku yang duduk satu bangku dengannya selalu menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan contekan. Tapi aku selalu rela untuk dijadikan sasarannya, karena pertemanan itu adalah hal terindah yang aku bisa dapatkan di Sekolah Menengah ini, nilai bagiku hanya sekedar angka-angka yang miskin makna.

Bobi adalah orang terunik, karena sifatnya yang konyol dan sering membuat semua orang tertawa, Ia juga dekat dengan guru-guru yang ada. Dia ketua murid di kelasku. Ketika ulangan harian ia selalu mengalihkan perhatian guru-guru, memberikan peluang untuk seisi kelas beraksi, entah itu membuka buku, membuka catatan kecil atau hanya sekedar bertanya pada teman sebelah. Ia selalu saja membuat celetukan-celetukan yang membuat seisi kelas riuh dengan tawa, ditengah ulangan Ia selalu mencoba mengobrol dengan guru, terutama pak Andi seorang guru fisika, dengan topik “pertandingan sepakbola semalam”. Meskipun Bobi selalu mendapatkan nilai pas-pasan ia selalu merasa puas melihat orang lain bahagia.

Kita berempat selalu bersama, entah itu bermain, belajar, atau hanya mengisi waktu luang, sudah hampir 3 tahun kita berada di kelas yang sama. Namun kebersamaan kita terdistraksi oleh ganasnya tekanan dan kesibukan berada di semester terakhir Sekolah Menengah Atas. Ruang kelas menjadi satu-satunya tempat kita untuk bertemu.

 

 

Ada hal yang membuatku semakin tertekan, aku teringat pada kejadian 3 hari yang lalu, ketika ada pertemuan wali kelas dengan orang tua siswa. Wali kelasku mengatakan hal yang aneh kepada  ketiga orang tua dari sahabatku, terutama yang paling terngiang adalah perkataannya pada Ibuku sendiri.

“bu, idris ini anaknya sangat aktif di sekolah, dan juga seorang yang rajin, ambisi dan semangatnya untuk masuk perguruan tinggi negeri sangat tinggi, walaupun ia tidak tahu apapun tentang jurusan yang ia inginkan, Saya rasa idris bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan kemauannya yang tinggi” ujar wali kelasku kepada orang tua Idris

Kepada orang tua bobi, wali kelasku mengatakan hal yang lebih singkat. “bu, bobi ini harus lebih rajin belajar untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri”

Yang terakhir kepada orang tua Carli “bu, Carli ini perlu diberi perhatian lebih, keinginannya untuk melanjutkan kuliah di jurusan teknik, tidak sebanding dengan kemampuannya” kata wali kelasku

Yang paling membuatku lemas dan keheranan adalah percakapan antara wali kelasku dengan ibuku Sendiri

“bu, aria ini anak terpandai di kelas ini, mau masuk jurusan apapun pasti bisa!” kata guruku

“iya bu, bagaimanapun anak saya ini  haruslah menjadi seorang dokter!” jawab ibuku dengan penuh semangat.

“Aria! Bangun! Sudah pagi, nanti terlambat sekolah!” ibu berteriak dari luar kamar, dengan dentuman ketukan yang menghujam pintu kayu yang sudah tua. “apa?! Ini sudah pagi?” aku berteriak dalam hati. Persetan dengan waktu! Kenapa malam begitu tidak adil padaku, mengizinkanku tertidur pun ia tak mau. Saat terakhir kulihat jam dinding di kamarku, jarum pendeknya masih tertuju kearah angka 8, dan sekarang aku kaget karena jam itu tiba-tiba menunjukan angka 6! Lamunanku yang sederhana ini menghabiskan waktu 10 jam? Aku tak percaya! Aku rasa itu hanya 10 menit.

Ketukan dari arah pintu kembali terdengar dengan volume suara yang lebih besar “duk…duk…duk..” “aria cepet bangun! Udah jam 6 lebih ini” suara ibu sekarang terdengar seperti orang marah. “iya bu, sebentar…!” aku menjawab, dengan suara agak sumbang, “kamu kenapa aria?” tiba-tiba ibu bertanya, mungkin karena dia mendengar nada dari suaraku yang agak rancu.

Aku berdiri dengan lutut yang lemas kearah pintu, lalu menggerakan kunci pintunya perlahan “jeglek…jeglek….” “aku tidak apa-apa bu…” jawabku. Sebenarnya, aku bukan seorang yang tertutup, aku bahkan menceritakan kepada ibuku ketika aku mempunyai kekasih ketika aku berada di kelas 3 SMP, tapi untuk masalah yang satu ini, aku benar-benar tidak bisa menceritakannya, karena aku rasa ibuku tidak akan dapat mengerti mengenai masalah ini.

Dengan segera aku bersiap untuk pergi ke sekolah, tak lupa aku membawa semua buku pelajaranku, biologi, kimia, fisika, matematika, bahasa inggris, dan bahasa Indonesia, aku membawa masing-masing 2 buku dari setiap mata pelajaran, kecuali matematika, aku membawa 4 buku dari penerbit yang berbeda-beda. Tas yang kubawa terlihat sesak, menjadi fokus perhatian teman-teman di sekolahku. Bahkan ada seseorang yang berteriak “mau sekolah atau camping boss!??” dengan suara tertawa di ujung perkataannya yang terdengar seperti ejekan.

Tapi apa daya, untuk mengatasi masalahku ini aku harus membawa buku sebanyak itu. aku adalah orang yang tak bisa mempercayai guru-guru di sekolah ini. Teman-temanku pun banyak yang merasakan hal sama, namun mereka memilih jalan yang lebih konyol, mengikuti rumah belajar dengan membayar 2 sampai 3 kali lipat uang sekolah negeri selama 3 tahun, salah satunya ialah Idris.

Aku pernah berbicara mengenai hal ini dengan Idris

“kamu ngapain ikutan les di tempat itu?! Kamu lihat harga bayarannya, 18 juta dris! Itu sama dengan gaji 5 bulan ayahku!”

“bukan gitu ar, apa salahnya berinvestasi 18 juta demi perguruan tinggi negeri?” idris menjawab dengan ringan.

“aku hanya mengingatkan, semua itu tergantung dirimu sendiri. Percuma kamu bayar mahal, jika tetap tidak ada niatan dari dirimu sendiri untuk belajar!”

“iya ar, kamu banyak omong! Lihat saja nanti ketika kita melihat hasil tesnya!” jawab idris dengan sedikit nada menantang.

 

 

 

Besok adalah apa yang aku selalu cemaskan selama ini, yang membuatku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Orang-orang berkata bahwa besok adalah penentuan dari masa depan seseorang, terutama seorang siswa kelas 12. Besok adalah pengumuman hasil Ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Aku tidak terlalu peduli mengenai hasil yang aku dapatkan, yang menjadi fokus perhatianku ialah hasil dari ketiga sahabatku, dan ternyata hasil yang mereka dapatkan sangat mengejutkanku.

Aku melihat Idris terduduk sendiri didepan masjid sekolah, dia mengangis karena tidak berhasil masuk perguruan tinggi negeri yang sangat ia dambakan, dia sangat kecewa dan terpukul. Di sisi lain Bobi merasa bahagia karena dia tidak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, menurutnya dengan kegagalan ini ia bisa melanjutkan karir Sepak bolanya, sekarang bagi bobi yang terpenting ialah berlatih untuk menjadi pemain nasional. Dan yang paling mencengangkan si Carli, orang terbodoh dikelasku berhasil masuk jurusan teknik mesin perguruan tinggi negeri, sekarang dengan bangga ia melangkahkan kaki didepan guru-gurunya, dan baru kali ini nama carli di eluk-elukan oleh para guru.

Sedangkan aku, dengan buku yang selalu kuperlajari sendiri berhasil masuk Fakultas Kedokteran. Tapi itu tidak membuatku senang, juga tidak membuatku tenang. Hasil itu membuat tubuhku semakin bergetar, bahkan sekarang mulai keluar sedikit keringat. Membayangkan harus melawan keinginanku, belajar dan berkembang sesuai dengan apa yang tidak aku inginkan.

Mungkin hasil itu membuat teman-temanku bangga, membuat sekolahku mengagungkan namaku di baligho-baligho yang akan mereka buat beberapa saat lagi, dan membuat orang tuaku menangis terharu. Itu semua karena mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dariku. Tapi itu semua bukan keinginanku! Karena yang kuingin hanyalah menjadi seorang pahlawan super, seperti spiderman atau iron man, atau yang lebih realistis menjadi seorang guru sekolah dasar.

Tentang Penulis:

Fiqih R. Purnama, Arsitektur 2014

 

Related posts

*

*

Top