Pemimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro Meninggal di Usia 90 Tahun

Castro saat sedang berada di Istana Presiden di Havana Tahun 1985. Dok/Charles Tasnadi/AP. Castro saat sedang berada di Istana Presiden di Havana Tahun 1985. Dok/Charles Tasnadi/AP.

INTERNASIONAL MP, UNPAR – Pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro, meninggal pada usia 90 tahun di hari Jumat (25/11) pukul 22.29 waktu setempat. Castro juga akan di kremasi pada hari Sabtu (26/11). Berita ini disebarkan oleh adiknya, Raul Castro, dari stasiun televisi nasional Kuba. Belum ada berita lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya ini.

Kematian Castro mengundang reaksi dari berbagai belahan dunia, terutama dari pemimpin negara-negara Latin Amerika. Presiden Meksiko, Enrique Pena, menyatakan bahwa Castro adalah teman yang sangat baik bagi Meksiko. Sementara Presiden El Salvador, Sanchez Ceren, mengatakan bahwa Castro adalah seorang teman yang sejati.

Kesehatan Castro memang sudah menurun sejak tahun 2006, dimana beliau memberikan kekuasaannya kepada adiknya, Raul, sementara. Tindakan ini dilakukan agar Castro dapat fokus kepada kesehatannya dan juga menjalani beberapa operasi pada ususnya.

Sebelum kematiannya, pada April 2016, Castro memberikan pidato di hari terakhir Kongres Partai Komunis di negaranya. “Sebentar lagi saya akan berumur 90 tahun, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Saya akan menjadi seperti yang lainnya, waktu saya akan datang,” Ujar Castro.

Fidel Castro sendiri merupakan pemimpin dari revolusi Kuba yang berhasil mengguling pemerintahan Batista dengan cara perang gerilya dan menjadi perdana menteri Kuba pada tahun 1959. Karier politik Castro pun makin meningkat ketika dirinya dipilih menjadi presiden oleh Majelis Nasional Kuba. Castro memimpin selama  hampir 50 tahun sampai akhirnya benar-benar memberikan kekuasaannya secara penuh kepada Raul Castro pada taun 2008.

Selama hidupnya, Castro tidak disukai oleh Amerika Serikat (AS). Maka dari itu, beliau tak jarang jadi target pembunuhan intelijen AS. Sebanyak 638 cara telah dilakukan untuk membunuh Castro tapi tidak ada yang berhasil. Krisis Misil Kuba merupakan salah satu peristiwa terpenting selama hidupnya. Pada tahun 1962, Kuba yang sudah menjadi pendukung dan partner dagang Uni Soviet, menerima dan menyimpan rudal balistik.

Rudal itu bisa dipakai untuk menyerang ke kota-kota AS dan hampir menciptakan perang nuklir global. Peristiwa ini berakhir ketika Uni Soviet mengambil kembali senjata-senjata nuklirnya dengan imbalan AS tidak akan menggulingkan pemerintahan Castro serta AS juga mengambil kembali misil bersenjata nuklir mereka dari Turki.

Sumber: BBC WORLD NEWS | NEW YORK TIMES | TANYA LEE NATHALIA

Related posts

*

*

Top