Pemilu PM Unpar di Fakultas Hukum Ricuh, Pencoblosan Diperpanjang Satu Hari

Massa di fakultas hukum berteriak-teriak (Dok MP/Rara Sekar)

Stoppress, Selasa 27 April – hari kedua adalah hari terakhir pencoblosan kandidat Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa Universitas Parahyangan (PUPM Unpar), setidaknya begitulah seharusnya, kecuali untuk Fakultas Hukum Unpar.

Setelah berjalan melewati kelas-kelas kosong di gedung hukum akibat separo mahasiswa sibuk mengurus kepentingan pemilu fakultas, saya berjalan ke luar. Saya bertemu seorang teman yang sedang mengantri untuk mencoblos. Antrian masih panjang, meliuk dan padat, tanpa sela sedikitpun.

Animo mahasiswa FH tetap sama, tinggi dan menegangkan. Seolah-olah pemilihan umum adalah persoalan hidup dan mati. Wajah para pemilih yang mengular itu keras dan merengut hanya beberapa yang tersenyum. Itupun setelah disapa.

Pukul 12.33 siang, massa mengerumun di bagian utara parkir hukum, berteriak dan memaki, menyumpahi para panitia penyelenggara pemilu fakultas. Tak lama kemudian, gerombolan mahasiswa mulai berhamburan dari koridor belakang –koridor hukum sebelum tangga menuju student center-, berlari dan menghampiri sumber teriakan tadi. Wajah-wajah yang sudah tegang semakin mengencang, mereka memandang nanar, bersiap menerjang lawan yang entah siapa.

Seorang panitia diprotes, dan hampir menjadi korban amuk massa. Tapi kemudian kerumunan mereda. Satpam sampai turun tangan mengamankan pihak-pihak yang dianggap penyebab keributan.

Pada saat yang sama masih di bagian utara tempat parkir hukum tampak Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan, Rosmaida, Dekan FH, Bayu Seto, Wakil Dekan III, A. Joni Minulyo, beserta beberapa pegawai Tata Usaha berbincang dengan beberapa mahasiswa. Seorang di antaranya adalah Rama (Hukum 07).

Sebuah cerita keluar dari mulut Rama mengenai keributan tadi, “Masalahnya adalah perbedaan teknis mengantri antara hari pertama pemilu dan hari kedua pemilu.”

Rupanya, tali pembatas yang pada hari pertama hanya membagi koridor menjadi dua, hari ini bertambah menjadi tiga lapis. Selain perubahan itu, sistem joki (menitipkan antrian pada orang lain) yang selama ini digunakan tidak diperbolehkan lagi.

“Yang kami sayangkan, kenapa peraturan itu tidak disosialisasikan, dan diberitahukan tidak lama sebelum pemilu dimulai?” Tanya Rama, anggota partai Biru, dengan raut muka penuh kecewa.

Partai Padu, yang diwakili oleh Reny Isyana mengaku bahwa memang ada perubahan teknis pelaksanaan antrian, karena pada hari pertama, satu orang pengantri dapat mengantri dua sampai tiga jam, sedangkan hari ini, satu orang mengantri sekitar setengah jam.

“Yang ngasih tahu soal perubahan teknis ini Ketua Komisi Pemilihan Umum Fakultas (KPUF)-nya, jam Sembilan pagi tadi.” Dikonfirmasikan kepada Billy (hukum 06), selaku Ketua Himpunan Hukum.

Perubahan itu dilakukan setelah ada masukan dari para pemilih hari pertama yang merasa dirugikan karena tidak tertibnya antrian yang menghambat proses pemilihan sehingga suara yang masuk kurang maksimal. “Itulah kenapa KPUF memutuskan untuk memberlakukan sistem yang sekarang, karena kondisinya seperti itu. Apalagi kertas suara tahun ini lebih besar dan tidak langsung terlipat, jadi waktu yang dibutuhkan pemilih untuk melaksanakan pemilihan lebih lama.”

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 14.15, pemilu seharusnya dimulai kembali satu jam 15 menit yang lalu. Namun massa bergeming, bilik suara tak juga dibuka, rupanya Ketua KPUF, Abraham masih melakukan rapat konsolidasi di ruang MPM.

Massa yang hendak memilih masih setia mengantri, namun tidak sepanjang sebelumnya, mungkin mereka lelah, lalu melepaskan diri dari barisan. Banyak yang masih bertahan di barisan mulai duduk, lelah dan lunglai menunggu suara mereka dipungut, namun hingga satu jam kemudian, bilik suara belum juga dibuka. Pemilu masih belum dilaksanakan kembali. “Bram masih rapat dengan MPM,” demikian konfirmasi dari Hanum Puti Umari, anggota MPM saat didatangi ke kantor sekretariat MPM.

Massa menegang kembali. Pukul 15.20 massa partai biru meluapkan kekesalan mereka dan menerobos pembatas dari tali raffia yang sebelumnya melintang membelah koridor utara. Mereka kembali berteriak, dan memaki. Amarah kembali mengudara saat massa partai biru tumpah ruah di depan ruang himpunan dan memrotes macetnya pemilu. Mereka meminta konfirmasi dari Ketua KPUF mengenai kelanjutan pemilu FH.

Massa di fakultas hukum berteriak-teriak (Dok MP/Rara Sekar)

Para satpam menguatkan garda mereka, jumlah mereka ditingkatkan dua kali lipat, dan saat kejadian kedua ini terjadi, mereka langsung berdiri di barisan terluar dari kerumunan dan pasang badan dan bersiap akan terjadinya keributan lain. Tapi toh tak terjadi, hanya makian-makian yang beberapa kali mengudara. Tak lebih.

Hampir setiap tahun saat Pemilu Unpar, keributan di Fakultas Hukum terjadi. Seorang dosen hukum, Elly Erawaty mengakui “ritual” itu.

“Sejak saya masuk tahun 1979, keributan itu selalu ada.” kata Elly.

Sungguh sebuah “ritual” besar yang telah mengakar selama berdekade lamanya, dan tak tampak akan pudar.

Setelah penantian yang melelahkan selama kurang lebih empat jam, sekitar pukul 17.00 para pihak yang tadi dipanggil konsolidasi dengan pihak fakultas dan rektorat, mengumumkan penundaan pemilu khusus untuk FH.

Sebuah eksklusifitas yang ironis, karena terjadi akibat keributan. Besok, Rabu 28 April 2010, –seperti dikatakan Theo Ketua KPU Unpar- akan menjadi hari ketiga bagi FH Unpar dalam melaksanakan demokrasi kampus melalui pemilu yang dimulai dari pukul 09.00 hingga 12.00. (Yehezkiel Paat & Lalola Easter)

dok MP/Rara Sekar

dok MP/Rara Sekar

Massa ramai mengamati (Dok MP/Rara Sekar)

Related posts

5 Comments

  1. Natasha said:

    Tulisan anda terlalu subjektif. Bahasa yang digunakan terlalu berlebihan, cocok jadi penulis gosip.

  2. ape aje said:

    woy fotonya mana nih, jgn cuman berita doang, ngaa seru.

  3. suka2 gw said:

    kocak2…..kaya orang2 confuse.
    sibuk bgt lo pada ngurusin pemilu padahal kandidat lo pas udh naik kaya peduli sama lo aja….sedih bgt lo

  4. Fairy Of Love said:

    ko ane setuju ya sama agan suka2 gw…hmmm begitulah mahasiswa,kelakukan kadang masih kaya siswa -_-

*

*

Top