Pemerintah Suriah Dituding Bertanggungjawab Atas Penggunaan Senjata Kimia di Negaranya

Seorang Pria sedang Bernafas melalui Tangki Oksigen sementara yang lainnya mendapatkan Perawatan. Dok/ BBC.

INTERNASIONAL MP, UNPAR — Serangan senjata kimia terjadi di kawasan Khan Sheikhoun, Suriah pada Selasa pagi (04/04). Presiden Suriah, Basshar Al-Assad dianggap sebagai bertanggung jawab atas peristiwa yang menyebabkan 89 orang meninggal dan 541 orang terluka.

Para korban serangan senjata kimia ini mengalami gejala seperti kejang-kejang, mengeluarkan busa dari mulut, mengecilnya pupil mata, dan kesulitan bernafas karena dampak dari serangan tersebut. Organisasi Dokter Lintas Batas mengungkapkan gejala tersebut sebagai gejala gas beracun, yaitu sarin yang 20 kali lebih mematikan dari sianida. Mereka juga menyatakan bahwa serangan yang terjadi minggu lalu tersebut adalah serangan kimia terparah dalam sejarah perang Suriah.

Pemerintah Suriah dianggap bertanggung jawab atas penyerangan tersebut. Pihak militer Suriah membantah tuduhan atas penyerangan dan menyatakan tidak pernah dan tidak akan pernah menggunakan senjata kimia di manapun dan kapanpun. Sementara itu, Moskow yang merupakan sekutu Suriah justru menyatakan bahwa angkatan udara Suriah menyerang Khan Sheikhoun antara pukul 11.30 sampai 12.30 waktu lokal Suriah dengan menargetkan gudang besar amunisi milik teroris bukan menargetkan warga sipil.

Serangan senjata kimia selasa lalu ini bukanlah yang terjadi pertama kali. Sebelumnya, ISIS pernah bertanggung jawab dalam penggunaan senjata kimia kepada warga sipil. Pemerintah Suriah dituding memiliki persediaan senjata kimia karena serangan oleh kelompok terror terjadi setelah penghancuran gudang senjata kimia oleh pemerintahan Suriah.

RANESSA NAINGGOLAN | TANYA LEE NATHALIA | BBC NEWS | CNN INDONESIA |

Related posts

*

*

Top