Pembangunan Demi Unpar yang Lebih Baik (?)

Suasana Gedung Serba Guna (GSG) Unpar saat proses perobohan, 20/4. Dok. MP Suasana Gedung Serba Guna (GSG) Unpar saat proses perobohan, 20/4. Dok. MP

Oleh: Persatuan Mahasiswa Unpar

Kampus kita tercinta, Universitas Katolik Parahyangan, telah berdiri sejak 17 Januari 1955 dan hingga kini telah memiliki berbagai program studi mulai dari pendidikan keprofesian hingga S3 dengan jumlah 10.000 mahasiswa dan angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat, mengingat UNPAR merupakan salah satu tujuan utama bagi mereka yang akan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Demi mengantisipasi permasalahan tersebut dan guna mendukung perwujudan visi UNPAR sebagai komunitas akademik yang humanum, dengan memfasilitasi proses pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa, pada tahun 2015 ini UNPAR membangun gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) di bekas lahan Gedung Serba Guna (GSG). Gedung ini juga akan mencerminkan tekad UNPAR untuk mewujudkan kampus yang sadar lingkungan (eco campus dan green building). Di samping itu, gedung ini rencananya akan dibangun dengan memperhatikan keselarasan, kesinergisitasan dan integrasi dengan tatanan bangunan di Kampus Ciumbuleuit serta sesuai dengan peraturan yang berlaku. Gedung ini juga dibangun dengan prinsip keberlanjutan, biaya pemeliharaan yang serendah mungkin, memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, serta komunitas disabilitas[1].

Namun sangat disayangkan, proses pembangunan sama sekali tidak mencerminkan prinsip keberlanjutan, keamanan, keselamatan, serta kenyamanan. Hal ini terihat dari proses pembangunan yang dilangsungkan bersamaan dengan proses belajar mengajar di UNPAR sehingga sangat mengganggu proses belajar mengajar yang disebabkan oleh suara yang sangat keras dan polusi suara yang sangat dirasakan di Fakultas Hukum (FH), Fakultas Teknik (FT), serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang notabene sangat dekat dengan tempat berlangsungnya pembangunan. Padahal di sisi lain, kegiatan belajar mengajar sangat membutuhkan ketenangan dan kenyamanan agar kami sebagai mahasiswa dapat belajar dengan optimal. Salah satu hak kami untuk dapat belajar dengan nyaman sudah dilanggar oleh karenanya. Fakta yang terjadi bahkan beberapa kelas di Fakultas Hukum (FH) beberapa kali harus dibubarkan akibat suara pembangunan yang terlampau mengganggu proses belajar-mengajar. Pembatalan atau pembubaran kelas ini menjadi fakta yang semakin membuat miris kondisi pembelajaran di UNPAR mengingat hak untuk mendapatkan pengajaran yang kami miliki menjadi sirna begitu saja.

Selain itu, pembangunan juga menghasilkan debu yang sangat banyak dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Pembangunan yang tengah memasuki proses penggalian guna membangun basement membuat debu tanah hasil galian menjadi hal yang akrab dengan masyarakat UNPAR. Tentu sebagai manusia pada umumnya dan mahasiswa UNPAR khususnya, paparan debu tanah galian ini mengakibatkan hak asasi manusia (HAM) untuk menhirup udara bersih terlanggar. Fenomena ini kemudian paling dirasakan oleh teman-teman kami di Fakultas Hukum (FH) yang sangat dekat dengan area pembangunan, yang selalu melewati jalur truk pembangunan, dan satuan pengamanan serta karyawan yang bertugas di area dekat Rektorat serta Fakultas Hukum. Produksi debu yang sangat berlebih dibandingkan hari biasa tanpa pembangunan kemudian menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan, karena memunculkan potensi penyakit bagi masyarakat UNPAR. Paparan substansi pencemar berupa debu yang terlampau banyak di udara mampu menyebabkan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk di antaranya meningkatkan potensi kambuhnya asma dan bronkitis yang memang telah terbukti dialami oleh beberapa teman kami.

Dampak lain dari pembangunan PPAG ini adalah hilangnya ruang komunal bagi kami seperti Plaza GSG, Plaza Hukum, Koridor Hukum, Letter T FISIP, dan Taman Gantung. Ruang komunal menjadi bagian dari kebutuhan sosial manusia khususnya kami untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Kini, kami memiliki ruang komunal yang sangat terbatas di lingkungan kampus. Area kampus yang semestinya menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul, kini malah mendorong kami untuk berpindah ke area sekitar UNPAR seperti di Indomaret, Circle K, berbagai tempat lain bahkan yang jauh dari area kampus sehingga membuat kami kian erat dengan istilah kupu-kupu atau kuliah-pulang-kuliah-pulang. Pembangunan ini kemudian juga berdampak pada aktivitas kami yang kesulitan menemukan tempat untuk rapat atau sekadar bertukar pikiran dan ide. Keterbatasan ruang komunal ini juga akan mengakibatkan kami beralih ke ruang virtual dan ini tentunya bukanlah kabar yang baik untuk didengar. Mengingat pembangunan PPAG yang direncanakan akan selesai pada tahun 2017, maka bisa dibayangkan bagaimana kami dalam 2 tahun ke depan. Kebiasaan apakah yang akan terbentuk, apakah kebiasaan kuliah pulang? Kebiasaan hidup di ruang virtual? Kehidupan kampus yang tidak lagi hidup? Menjadi pertanyaan juga apakah ke depannya PPAG menyediakan ruang bagi kami untuk berkumpul dan bersosialisasi?

Rencana lain yang masih menjadi rangkaian pembangunan PPAG adalah pembongkaran area sekitar gedung 4 dan gedung 5 yang kabarnya akan dilaksanakan pada bulan April-Mei 2016. Pembongkaran ini kabarnya juga akan menyebabkan ruang Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Industri menjadi hilang. Kemanakah ruang himpunan ini akan dipindahkan? Untuk kesekian kalinya kami terancam kehilangan ruang komunal lagi. Rencana lain ialah renovasi B2 Gedung 10 yang kabarnya akan dijadikan ruang kelas studio dan laboratorium hidraulika. Berdasarkan data yang dimiliki Biro Sarana dan Prasarana (BSP), saat ini lahan B2 Gedung 10 cukup untuk menampung 60 mobil. Satu hal yang menjadi pertanyaannya ialah kemanakah 60 mobil ini akan dialihkan mengingat lahan parkir di UNPAR saat ini saja sudah sangat terbatas?

Sekali lagi, pembangunan PPAG memang tidak semestinya menjadi suatu hal yang tabu dilakukan dan tidak semestinya ditanggapi secara reaktif dengan membatasi diri terutama oleh kami, mahasiswa. Pembangunan PPAG sama-sama kita pahami sebagai suatu pembangunan dan perubahan yang visioner guna menciptakan suatu kondisi pembelajaran yang memadai dan nyaman beberapa tahun ke depan. Satu hal lain yang semestinya kita pahami bersama ialah perubahan dan pembangunan pastilah membutuhkan pengorbanan. Namun yang menjadi pertanyaan, seberapa besar pengorbanan yang harus dilakukan? Bukankah perubahan dapat lebih dikomunikasikan agar lebih siap dilakukan? Bukankah situasi belajar yang nyaman tetap menjadi hak kami meskipun selama masa pembangunan? Bukankah polusi suara akibat pembangunan dapat diminimalkan? Bukankah hak menghirup udara bersih merupakan hak asasi manusia? Bukankah paparan debu pembangunan dapat diminimalkan? Bukankah ruang komunal untuk bersosialisasi dan berinteraksi menjadi hak kami? Bukankah lahan pengganti ruang komunal semestinya harus disediakan terlebih dahulu selama masa pembangunan?

Oleh karena itu melalui tulisan ini kami meminta pimpinan yayasan, pimpinan universitas, dan pimpinan pembangunan untuk memperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Meminimalkan proses pelaksanaan pembangunan selama jam kuliah terutama guna meminimalkan gangguan suara pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar dan meminimalkan debu yang akan mengganggu kesehatan masyarakat UNPAR;
  2. Memperhatikan keselamatan, keamanan, kenyamanan, serta kesehatan pihak yang terlibat dalam pembangunan yakni para pekerja dan terutama masyarakat UNPAR yang beraktivitas di sekitar lingkungan pembangunan;
  3. Menyediakan masker bagi masyarakat UNPAR, mengurangi laju kendaraan proyek selama jam kuliah, dan melakukan penyiraman dengan intens untuk meminimalkan polusi debu akibat pembangunan;
  4. Menyediakan ruang komunal sementara terlebih dahulu sebagai pengganti ruang komunal yang hilang akibat pembangunan sehingga kami dapat berpindah ke ruang komunal baru selama proses pembangunan sedang berlangsung;
  5. Melakukan pembangunan dengan transparan, terorganisir, teratur, dan sistematis;
  6. Mengadakan forum komunikasi antara pimpinan yayasan, pimpinan rektorat, pimpinan pembangunan, dan masyarakat UNPAR terutama kami sebelum serta selama pembangunan dilangsungkan agar kami siap dan mengerti dengan rencana serta proses pembangunan. Sebab, kami berhak untuk mengetahui rencana pembangunan sebagai orang-orang yang menjadikan kampus ini hidup. Dari hal ini diharapkan akan terjadi hubungan saling mendukung antara kami dengan proyek pembangunan.

Besar harapan kami UNPAR akan berkembang, maju dan menjadi ‘The Great’ UNPAR. Namun apabila hal-hal di atas tidak diperhatikan akan membuat kami bertanya-tanya apakah benar pembangunan ini demi UNPAR yang lebih baik (?)

 

BERPIKIR BESAR dan BERTINDAK

 

DIRJEN KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS
LEMBAGA KEPRESIDENAN KAMI 2015/2016

[1] “Menyediakan Infrastruktur Untuk Pembelajaran yang Optimal” Majalah Parahyangan, 30 Agustus 2015, hlm. 19.

 

* Tulisan diatas tidak mewakili pandangan organisasi Media Parahyangan.

2 Comments

  1. Monique said:

    Mungkin bisa mjd salah satu alternatif tempat kuliah saat renov adalah ged Unpar di Jl.Merdeka yg tentunya perlu koordinasi dg pengurus program magister.

  2. joseph said:

    Jangan terus ngeluh aja. Liat sisi positifnya… Harus cepet lulus dgn nilai yg bagus!!!

*

*

Top