Pelaku Pencoretan Terpilih Dalam Pemilu Unpar

STOPPRESS - Pencoretan Spanduk

Sub: Pelaku pencoretan Kena Pengurangan

STOPPRESS MP, UNPAR Salah satu pelaku pencoretan spanduk Ohim-Cilla serta Timothy tetap  terpilih dalam Pemilu Unpar 2014. Pelaku yang masih dirahasiakan  identitasnya oleh pihak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ini, hanya dijatuhi sanksi pemotongan suara sebesar 10%.

“Salah satu pelaku pencoretan dikenai pengurangan suara 10% dan ia tetap terpilih, ” jelas Lucia Sandra selaku ketua Bawaslu saat ditemui MP  di depan ruang Majelis Perwakilan Mahasiswa pada selasa (20/5).

Sebelumnya, pihak KPU pernah menyatakan bahwa apabila pelaku pencoretan merupakan kandidat dalam PU-PM, maka ia dapat dikenakan sanksi pengurangan suara sebesar 50%. Menanggapi hal tersebut, Sandra menjelaskan bahwa salah satu kandidat yang ikut dalam rombongan mahasiswa yang melakukan pencoretan tersebut telah terekam di kamera CCTV. Dalam rekaman tersebut, sang kandidat diketahui tidak mencoret bagian yang berbau asusila dan SARA di spanduk Ohim-Cilla maupun Timothy. “Iya, awalnya 50%, tapi setelah diinvestigasi lebih lanjut, ia bukan pelaku langsung yang mencoret bagian yang berbau asusila sehingga  dikurangi 10%”, ujar Sandra.

KPU juga mengatakan bahwa nama pelaku beserta permohonan maafnya akan diumumkan dengan ditempel. Namun hingga kini, pengumuman tersebut tak pernah ada. “Permintaan maaf yang akan ditempel itu adalah permintaan dari kahim-kahim (ketua himpunan- red) FISIP. Persoalan surat tersebut lebih diurus oleh MPM dari FISIP. Saya sendiri nggak terlalu tahu perkembangannya sampai mana soal surat itu”, ujar Sandra sapaan akrabnya.

Ketika diminta pendapat tentang terpilihnya si pelaku dalam pemilu Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar, Priscilla mengatakan bahwa dia tetap berhak menjadi calon kandidat. “Mungkin teman-teman yang memilih berpikir bahwa dia memang bagus dan pantas.”  ujar Cilla sapaan akrab Priscilla yang ditemui Kamis, 22 Mei 2014 di depan ruang Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM).

Cilla berharap kedepannya pelaku tersebut bisa diajak bekerja sama di PM Unpar untuk membangun Unpar yang lebih baik. “Ya, semoga kedepannya dia bisa membuktikan dan tidak mengulangi kesalahannya lagi karena kan lumayan fatal,” tambah Cilla. 

Kasus pencoretan ini terjadi pada masa kampanye Pemilihan Umum PM Unpar. Atribut kampanye milik pasangan tunggal Ohim-Cilla dicoret-coret dengan kata-kata yang tidak pantas. Selain milik pasangan kandidat tunggal Presiden dan wakil presiden mahasiswa, atribut kampanye lain yang turut dicoret adalah milik Timothy Ariel Wijaya yang merupakan salah satu kandidat calon ketua himpunan Hubungan Internasional (HI). Spanduk milik Timothy dicoret dengan tulisan berbau SARA. Lokasi spanduk mereka yang dicoret berada di Letter T FISIP.

LINTANG SETIANTI, ADYTIO NUGROHO

Related posts

One Comment;

  1. HIRAM SYAFA said:

    Saya prihatin sekali seorang perwakilan terpilih tidak memiliki moral yang baik. Walaupun ia tidak mencoret dengan kata yang berbau SARA, namun tetap saja ia melakukannya bersamaan dengan teman-temannya. Selayaknya seorang tauladan bisa menjadi contoh dan “mencegah” kejadian itu agar tidak terjadi. Sungguh saya sebagai mahasiswa hukum menyesalkan kejadian ini. Ingat kita berada di negara yang menjunjung tinggi demokrasi, apabila sejak mahasiswa saja sudah melakukan praktek seperti ini, mau jadi apa nanti saat terjun ke masyarakat ? Semoga nama UNPAR tidak menjadi korban.

*

*

Top