Paska Aksi Massa, Pihak Telkom University Undang Mediasi Tiga Mahasiswa yang Dikenai Skorsing

Komite Rakyat Peduli Literas (KRPL) Universitas Telkom Bandung memprotes sanksi skorsing yang dijatuhkan Rektorat terhadap tiga mahasiswanya karena dituduh menyebarkan paham Komunisme melalui buku kiri di Bandung. Dok/ Kbr.id Komite Rakyat Peduli Literas (KRPL) Universitas Telkom Bandung memprotes sanksi skorsing yang dijatuhkan Rektorat terhadap tiga mahasiswanya karena dituduh menyebarkan paham Komunisme melalui buku kiri di Bandung. Dok/ Kbr.id

NASIONAL, MP –Paska aksi massa yang dilakukan oleh Komite Rakyat Peduli Literasi di Gedung Sate dan Graha Telkom, ketiga mahasiswa yang dikenai sanksi skorsing, Fariz, Lintang, dan Edo diundang mediasi oleh pihak rektorat Telkom University (Tel-U) pada Rabu lalu (15/3). Aksi massa itu ditujukan sebagai bentuk solidaritas terhadap tiga mahasiswa Tel-U yang diskors akibat tuduhan penyebaran paham komunisme.

Setelah mediasi  selesai pada pukul 13.30, ketiga mahasiswa beserta kuasa hukum mereka, Asri Vidya Dewi dan Komite Rakyat Peduli Literasi mengadakan konferensi pers di Gedung Indonesia Menggugat. Ketiga mahasiswa tersebut menjelaskan poin-poin penting terkait mediasi diantaranya legalisasi perpustakaan, skorsing, dan tuntutan pemberhentian rektor.

“Kebebasan literasi di Tel-U akan terbuka. Perpustakaan literasi ini akan menjadi komunitas berupa ruang diskusi dan ruang membaca,” ujar Lazuardi Adnan Fariz akrab disapa Fariz selaku salah satu mahasiswa yang dikenai sanksi skorsing di Perpustakaan Literasi.

Namun, kesepakatan yang merupakan hasil mediasi itu hanya sebatas pernyataan verbal dari pihak kemahasiswaan Tel-U tanpa ada penandatanganan perjanjian. “Kesepakatan tidak tertulis, tanpa hitam di atas putih,” Lanjut Fariz.

Absennya kesepakatan legal dalam mediasi tersebut disebabkan dalam mediasi tersebut hanya dihadiri oleh wakil rektor dua (Sumber daya dan keuangan) dan empat (Riset dan kemahasiswaan). Sedangkan diperlukan kehadiran seluruh wakil rektor yang berjumlah empat untuk ada kesepakatan hitam diatas putih.

Perihal skorsing, belum ada kesepakatan yang dicapai antara ketiga mahasiswa dengan pihak kampus, masih ada mekanisme yang perlu diikuti. “Untuk mekanisme masih ada mekanismenya, dari kampus mengatakan akan ada proses banding. Jadi, skorsing saya, Edo dan Lintang masih berupa tanda tanya belum ada kesepakatan,” ucap Fariz menjelaskan perihal skorsing.

Surat Keputusan Pencabutan (SK Pencabutan) masih diperlukan untuk mencabut skorsing mahasiswa tersebut “Untuk proses registrasi dan daftar ulang masih perlu SK Pencabutan, itu hanya berupa kesepakatan ‘secepatnya’, belum ada tanggal pasti,” ucap Fidocia Wima Adityawarman akrab disapa Edo  selaku salah satu mahasiswa yang diskorsing pihak Tel-U.

Tuntutan lain dari ketiga mahasiswa yaitu penurunan wakil rektor 4 dan permintaan maaf tidak dibahas dalam mediasi kali ini. “Mediasinya cenderung membahas skorsing dan buku,” ucap Lintang terkait pokok pembahasan mediasi.

Fariz, Lintang, dan Edo menilai pihak kampus telah melunak paska berlangsungnya aksi massa sebagai bentuk solidaritas terhadap mereka, akan tetapi penekanan masih tetap ada. “Sangat melunak, Tetapi masih menekankan jangan sampai membawa kasus ini ke media,” ujar Fariz.

(Baca juga : Komite Rakyat Peduli Literasi Anggap Kasus Skorsing Mahasiswa Telkom Sebagai Isu Nasional)

MIFTAHUL CHOIR | VINCENT FABIAN

Related posts

*

*

Top