Parkour: Bercerita Lewat Gerak

“Parkour is the art of movement..”

Pada petang hari itu, sekelompok mahasiswa mulai melompat dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga menggelantung siku baja penopang shelter. Kadang gerakan-gerakan nyeleneh, namun terasa menantang juga dilakukan. Bukan untuk dipertunjukan, bukan untuk menyombongkan diri, hanya untuk sebuah kesenangan yang tak dapat dijelaskan lewat ucapan, ‘hanya di dalam hati’.

Asik dengan aksi-aksi semi-akrobatik tersebut, para mahasiswa seakan tak menghiraukan keramaian di sekitarnya. Padahal di lokasi tersebut sejumlah besar mahasiswa lain ada di sana. “Ada foto jurusan”, gosip seorang mahasiswa yang sedang istirahat sejenak, lalu kembali melompat lagi. Keragaman aktivitas ini terjadi di atap Gedung 10 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

Aksi lompat-melompat ini populer dengan sebutan parkour. Istilah ini muncul dari Perancis nun jauh di sana, dan berhasil menjadi bagian baru budaya pop yang merambah hingga ke Paris van Java. Kata parkour sendiri dapat diartikan dalam Bahasa Indonesia sebagai halang rintang. Komponen utama parkour adalah gerak dan seni, seiring dengan filosofi parkour; ‘seni dalam pergerakan’.

Dalam kesejarahannya, orang yang dianggap sebagai yang memperkenalkan parkour adalah David Belle, seorang kewarganegaraan Prancis. Master parkour ini muncul memperlihatkan aksinya pada film B-13. Sementara untuk di Bandung, parkour mulai berkembang dan sudah terbentuk kelompok Parkour Bandung, yang berkegiatan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Awalnya, beberapa mahasiswa Unpar ikut serta dalam Parkour Bandung tersebut. Melihat animo yang cukup besar dan kebutuhan atas komunitas baru, maka dimulailah usaha untuk membentuk Parkour Unpar dari awal bulan puasa 2009 ini. Dari sekedar kegiatan iseng belaka hingga kini mampu merangkum sekitar 18 anggota, dari hampir semua fakultas dalam lingkup Unpar, hanya lewat obrolan mulut ke mulut saja.

Ada yang menarik pada sore hari itu, pemuda dan pemudi Parkour Unpar tersebut melakukan atraksi dengan memanfaatkan setiap fasilitas yang ada pada lapangan atap tersebut. Tidak ada istilah senioritas di sana. Yang fasih melakukan teknik yang mengajarkan kepada yang kurang mahir. Acapkali anggota yang baru ikut pun bisa menjadi pengajar, jika memiliki teknik baru. Hal ini dimungkinkan karena Parkour Unpar diciptakan sebagai sarana belajar bersama.

Melihat aksi parkour saat itu terasa paradoks dengan sekumpulan mahasiswa lain yang sedang berfoto di sudut lain tempat itu. Cucuran keringat mengalir dari peserta parkour, dibandingkan dengan tawa riang peserta foto. Melihat keterlibatan fisik secara keras itu, kadang ada kekhawatiran dapat terjadi musibah saat bermain parkour. Resiko itu memang selalu ada, dan sampai saat ini tanggung jawab masih bersifat pribadi masing-masing saja.

Melihat antusiasme seperti ini timbul pertanyaan mengapa tidak membuatnya menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru saja di Unpar. Menurut anggota parkour, yang tidak mau disebutkan namanya, wacana tersebut telah ada dan siap digodok jika anggota tetapnya sudah mencapai angka 25. Sambil bersiap kembali ber-parkour ia menambahkan; bagi yang tertarik untuk datang ke atap Gedung 10 setiap hari Kamis mulai pukul 15.30.

Pada akhirnya, parkour memang menjadi alternatif kegiatan positif untuk generasi masa kini. Parkour muncul menjadi sebuah olah raga simpel dengan prinsip menyatu dengan alam sekitar. Terutama memiliki nilai plus untuk mengembangkan fisik. Menjaga kebugaran adalah penting dan parkour dapat menjadi salah satu candunya.

Kamis, 12 November 2009

(noviandrianus)

*artikel ini dibuat berdasarkan latihan parkour dan obrolan dengan anggota parkour pada tanggal di atas

Related posts

*

*

Top