Parahyangan Green Challenge : “Membangun Ecopreneurship Kaum Muda”

1398609169039

FEATURE MP, UNPAR- Parahyangan Green Challenge 2014 merupakan sequel dari acara serupa yang diselenggarakan Unpar satu tahun lalu. Acara yang diketuai oleh Stefi Listiani Santoso, salah satu mahasiswi Unpar jurusan Akuntansi angkatan 2010, ini mengambil tema  Ecopreneurship.  Ecopreneurship  adalah bidang kewirausahaan untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap masalah lingkungan.

“Akhir-akhir ini lingkungan sekitar kita sudah mengalami penurunan kualitas, dan yang mana kita kaum muda turut andil dalam merusak lingkungan. Itulah kenapa tema Ecopreneurship ini diambil, untuk meningkatkan kepedulian kita khususnya kaum muda terhadap lingkungan disekitar kita khususnya sampah”, ujar Stefi.

Acara ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh 100 orang peserta yang berasal dari 44 Universitas berbeda diseluruh Indonesia. 100 peserta yang hadir disini bukan orang sembarangan, mereka adalah kaum muda yang peduli terhadap lingkungan dan siap untuk sharing pengalaman mereka terkait apa saja yang sudah mereka lakukan untuk lingkungan. Sebelum menghadiri acara ini, 100 kaum muda ini harus melewati proses seleksi terlebih dulu, mereka harus membuat essay bertemakan lingkungan, dan terpilihlah 100 orang dari keseluruhan jumlah pendaftar 171 orang.

Acara yang dilaksanakan tanggal 25 hingga 27 April ini sebenarnya sekaligus memperingati Hari Bumi Internasional yang jatuh pada tanggal 22 April kemarin. Dalam 3 hari itu, pelaksanaan Parahyangan Green Challege ini terdiri dari beberapa rangkaian acara.  Berikut merupakan rangkaian acara yang mereka lakukan :

Di hari pertama, acara bertema Ecopreneurship ini menggelar talkshow yang dilaksanakan di ruang 9808 Fakultas Ekonomi Unpar. Talkshow yang menggundang 7 pembicara ini membahas bagaimana sudut pandang kaum muda, enterpreneur dan pemerintah terkait masalah sampah di lingkungan sekitar mereka, dan bagaimana cara memanfaatkan sampah menjadi barang yang mempunyai nilai guna. Contohnya adalah Nadia Syahib, salah satu pembicara sekaligus pengusaha yang memperoleh kesuksesan di usia muda ini, bisa memanfaatkan tangkai bunga mawar menjadi produk kecantikan.

Setelah talkshow yang dilaksanakan di Unpar mereka kemudian melanjutkan acara selanjutnya yang dilaksanakan di Lembang. Disana peserta akan diajak lebih mengenal lingkungan dengan hadirnya berbagai komunitas, seperti Koalisi Pemuda Hijau Indonesia, Indonesia Green Action Forum, dan masih banyak lagi. “Nanti komunitas-komunitas ini tuh bakal sharing, apa saja sih yang udah komunitas mereka lakukan terkait tentang sampah khususnya”, jelas Stefi.

Selanjutnya di hari kedua, acara dilangsungkan di Kota Baru Parahyangan Bandung. Disini ada serangkaian acara yang akan mereka lakukan, diantaranya seperti membuat kompos dari sampah rumah tangga, membuat biopori, dan mereka juga akan mengunjungi lahan pertanian organik. Mendengar kata lingkungan, budaya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan daripadanya, oleh karena itu dihari kedua ini akan ada performance dari Angklung Saung Udjo untuk lebih memperkenalkan budaya yang ada di tatar Sunda ini. Tidak hanya budaya di tatar Sunda, para peserta juga ikut menampilkan budaya dari daerah mereka masing-masing.

Nah acara puncak pada tanggal 27 April ini dilangsungkan di Lembang, disini mereka melakukan serangkaian games yang sudah disiapkan panitia. Mereka di tantang untuk kemudian dilihat siapa yang menjadi peserta terbaik. Di akhir acara para peserta diajak membuat suatu ide project didaerah mereka sekreatif mungkin.

Keseluruhan rangkaian acara Parahyangan Green Challenge ini mendapat dukungan penuh dari para alumni Tekhnik Sipil Unpar serta seluruh alumni Unpar. Link yang dimiliki membuat acara ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Dengan adanya acara ini diharapkan kaum muda dapat membangun jaringan lebih luas khususnya untuk masyarakat Unpar. Dengan adanya acara Parahyangan Green Challege ini akan membuktikan bahwa Unpar adalah universitas yang terbuka terhadap keberagaman. Di acara ini kepedulian terhadap lingkungan yang diwujudkan secara nyata menurupakan fokus utama yang ingin dicapai, diharapkan setelah berakhirnya rangkaian acara ini, kaum muda dapat lebih concern terkait masalah lingkungan disekitarnya. “Kita sebagai anak muda harus bisa beraksi lewat berbagai macam cara, nggak usah dengan cara yang berlebihan tapi pada akhirnya tidak terlaksana”, Stefi menambahkan.

VERONICA DWI LESTARI

Related posts

*

*

Top