Nyaris Turun Ke Jalan

Edisi 17 Maret 1998

Mimbar Bebas Mahasiswa Unpar, 17 Maret 1998

“Maju tak gentar… Membela yang benar…” Nyanyian tersebut mengawali aksi mimbar bebas yang dimulai pukul 10.00 WIB di Unpar Selasa (17/3) lalu.

Tak heran, aksi yang awalnya dilakukan belasan mahasiswa mengenakan ikat kepala bertuliskan “Reformasi” tersebut, menarik perhatian setiap mahasiswa yang dilewatinya. Dengan berkeliling kampus membawa spanduk “Bersama Menuntut Reformasi” dan bendera Merah Putih, Henry Ismail atas nama “Kelompok Untuk Tanah Air-Unpar” mengajak seluruh mahasiswa di sekitar kampus untuk turut hadir dalam acara mimbar bebas.

Mimbar bebas yang bertujuan menindaklajuti dialog pada Kamis (12/3) lalu, ternyata mampu menarik perhatian sekitar 200 mahasiswa. Namun, aksi tidakberhenti di situ saja. Melihat massa mahasiswa saat itu yang hanya mauberada di pinggir GSG saja, akhirnya kelompok tersebut mengajak seluruh mahasiswa untuk merapatkan barisan dan kembali berkeliling kampus. Kembali, lagu Maju Tak Gentar dinyanyikan pada pukul 10.20. Bedanya, kali ini jumlah mereka sudah tidak sedikit. Teriakan-teriakan seperti “Indonesia Reformasi!” terus dikumandangkan.

Akhirnya, mimbar bebas dilanjutkan kembali di pintu gerbang keluar Unpar. Tak peduli dengan teguran Satpam, para aktivis mahasiswa tetap melangsungkan mimbar bebas di pintu gerbang. Pintu gerbang keluar Unpar saat itu tertutup rapat oleh massa mahasiswa Unpar yang memadati. Pernyataan seperti Unpar tidak anti sosial, tidak eksklusif, serta mendukung reformasi dipekikan. Tak heran, mimbar bebas ini menarik perhatian tak hanya seluruh mahasiswa di Unpar, bahkan para supir angkot beserta bapak-ibu yang berada didalamnya. Ada juga seorang wartawan yang meliput, cemas dengan keadaan yang ada, mengingatkan seorang peserta untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya aksi-aksi provokatif yang bisa memancing keributan.

Suasana makin menghangat, ketika mulai terlihat mobil polisi menghampiri Unpar pada 10.30, disambut dengan sambutan “Huu…” oleh mahasiswa. Kembali, otonomi kampus dipertanyakan para peserta. “Karena kita tidak boleh keluar, berarti aparatpun tidak boleh masuk. Semua aparat kecuali satpam dan menwa kami persilahkan keluar,” ujar seorang peserta yang disambut tepuk tangan dari mahasiswa lainnya. Sayang, tidak satupun polisi di tempat tersebut yang mau di mintai keterangan oleh ParaHyangan tentang alasan keberadaan mereka. “Anda jangan paksa saya. Saya ini hanya pengamanan saja. Yang berhak menjawab adalah Kapolres,” tutur seorang polisi yang sibuk berjaga-jaga.

Terdengar kabar, bahwa Pangdam Siliwangi bersedia melakukan dialog dengan para mahasiswa. Akhirnya, pertanyaan seputar siapa yang akan mewakili mahasiswa pun muncul. Namun, hal ini tidak membuat para aktivis untuk tetap berdiam diri pada posisinya. Sempat ada keraguan dari para aktivis untuk tidak keluar kampus. Namun, keraguan ini berubah, setelah seorang aktivis meneriakkan “Ini tanah kita, Ayo Maju!”. Akhirnya para aktivis tidak turun kejalan, melainkan hanya melewati trotoar tanah Unpar yang baru diuruk. Walau diwarnai teriakan “Jangan ke jalan! Jangan ke jalan,” dari para aparat, para aktivis tetap melanjutkan perjalanan melalui trotoar ke pintu gerbang, lalu ke depan gedung rektorat.

Di depan gedung rektorat, dibacakan butir-butir reformasi oleh Kelompok Untuk Tanah-Air Unpar, dengan garis besar isi, penempatan kedaulatan rakyat seperti tercantum pada Pancasila dan UUD ’45, penekanan/pembangunan moral accountability dari seluruh kinerja sistem politik, dan himbauan agar slogan nasionalisme tidak dijadikan alat untuk mengelak dari tuntutan riil akan transparansi dan perubahan.

Banyaknya tuntutan agar ketua senat mahasiswa universitas (SMU) hadir, memaksa Erwin Elias selaku ketua SMU untuk tampil di depan rektorat membacakan pernyataan sikap SMU. Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa SMU pada dasarnya menghargai hak-hak mahasiswa berekspresi mengeluarkan pendapat. Ditambahkannya, bahwa aksi-aksi yang bersifat demonstratif secara sadar maupun tidak akan menimbulkan efek destruktif secara moral dan material. Di akhir pernyataan, ketua SMU menyebutkan bahwa pihaknya mendukung kegiatan yang ditempuh dengan prosedur yang berlaku, serta mengajak untuk melakukan perubahan sikap konstruktif dimulai dari diri mahasiswa sendiri.

Tak pelak, pernyataan tersebut mengundang banyak sorakan “Huu…” oleh para mahasiswa. Di depan mahasiswa, Henry Ismail menyayangkan pernyataan sikap SMU yang dianggap menuduh mimbar bebas sebagai tindakan yang destruktif. “Padahal kita tidak melakukan hal destruktif, kan,” ujar Henry Ismail, disambut tepuk tangan dari para mahasiswa.

Lalu massa yang hadir meminta agar ketua SMU mau berdialog dengan Pangdam Siliwangi mengenai butir-butir reformasi yang telah dibacakan. Akhirnya Erwin Elias mengeluarkan pernyataan “Jika Pangdam menghendaki dialog, kami bersedia.” Sempat terjadi perdebatan akan kapan seharusnya SMU berdialog dengan Pangdam Siliwangi, akhirnya salah seorang aktivis mengusulkan untuk memberikan kebijaksanaan kepada SMU untuk memberikan waktu kapan bisa berdialog dengan Pangdam dan sesegera mungkin. Namun, pernyataan tersebut diralat oleh Erwin dengan mengatakan, “Tadi saya mengatakan bersedia menerima bila ada tawaran dialog dari Pangdam, bukan bersedia mendatangi Pangdam.” Tak heran, pernyataan tersebut membuat beberapa mahasiswa kesal. “Bagaimana terjadi dialog, kalau SMU tidak ke Pangdam?” ungkap Ruri, salah seorang aktivis, kepada ParaHyangan.

Namun, massa pengunjung tetap menuntut agar SMU berdialog dengan Pangdam. Akhirnya, acara diakhiri dengan pembacaan doa, dan nyanyian lagu “Bagimu Negeri”.

Mengenai tidak ada ijin rektorat untuk menggelar mimbar bebas ini menurut Roy Taufan, salah seorang koordinator, mereka memang tidak meminta ijin. “Dasar pemikirannya, ijin itu sesuatu yang memang dilarang, baru kita ijin. Saya pikir untuk mengemukakan pendapat tidak ada larangan. Jadi kita tidak meminta ijin, hanya sekedar pemberitahuan saja.” Ketika ditanya mengenai kelanjutan dari acara mimbar bebas ini, Henry Ismail menjawab, “Kita akan melakukan Aksi Simpatik sehabis Ujian Tengah Semester.” Henry menjelaskan, aksi tersebut akan langsung turun ke masyarakat, berupa penyediaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. “Mungkin ke mahasiswa dahulu, kan sekarang harga kertas sudah melambung,” tambah Henry.

Ketika diminta tanggapannya mengenai mimbar bebas tersebut, Erwin Elias menjawab, “Kami tidak pernah menyetujui aksi seperti ini karena efeknya terhadap proses belajar mengajar otomatis terganggu.” Ditambahkannya, ia merasa kecewa dengan koordinator mimbar yang dianggap telah melanggar prinsip kejujuran. “Mereka bilang tidak minta dukungan SMU. Mereka hanya minta agar SMU tidak melarang kegiatan tersebut dan tidak memanggil aparat. Tapi nyatanya, Anda lihat sendiri, kan. Saya tadi ditodong agar mendukung butir-butir reformasi ini untuk disampaikan ke Pangdam.” Ketika ditanya tentang akan disampaikan atau tidaknya butir-butir reformasi tersebut, Erwin Elias menjawab, “Belum diputuskan.”

Bagaimana dengan tanggapan mahasiswa yang hanya menonton? Sebagian menjawab bahwa mereka mendukung apa yang dilakukan Kelompok Untuk Tanah Air-Unpar tersebut. Namun, tak kurang pula dari sebagian mereka yang sinis. Bahkan ada mahasiswa yang menyatakan kebingungannya dengan tujuan mimbar bebas tersebut. “Ngapain sih begituan, gua ngga ngerti…” (Erwin/e)

Related posts

*

*

Top