No Tipping, But You’re Still Giving

“Bagi kami pekerja yang bekerja di lapangan parkir, kalimat No Tipping yang tercantum pada seragam yang kami pakai itu tidak ada nilainya sama sekali.”

Tertulis jelas pada bagian depan belakang dan depan seragam pekerja parkir UNPAR tertera tulisan “No Tipping”. Mahasiswa yang datang lebih awal datang ke kampus akan lebih beruntung, karena mereka hanya dikenakan biaya Secure Parking sebesar Rp 4.000,-. Namun sialnya bagi mahasiswa yang terlambat datang ke kampus dan harus menitipkan kunci mobilnya kepada pekerja lapangan parkir karena tidak mendapatkan lahan parkir terpaksa harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 5.000,- yang pada akhirnya masuk ke saku pegawai lapangan parkir. Padahal tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan mahasiswa membayar Rp 5.000,- untuk biaya “titip kunci”.

UNPAR tidak memakai sistem vallet seperti halnya yang dilakukan di mall-mall atau hotel-hotel. UNPAR menggunakan sistem “titip kunci”. Sistem vallet sudah jelas dikenakan biaya tergantung aturan yang berlaku, namun mengapa masih ada pungutan diluar aturan?

Salah satu pekerja parkir di lapangan yang sudah bekerja di UNPAR dari awal tahun 1990 menyatakan bahwa gaji yang ia dapat dari pihak atasan itu sudah mencukupi kehidupannya sehari-hari. Jika dihitung dari penghasilan uang Secure Parking, dalam satu hari bisa mendapatkan uang sekitar Rp 1.100.000,-. Namun, jika ada mahasiswa yang memberi uang tip, pasti ia akan menerimanya dengan tangan terbuka. Karena menurutnya, jika ia menolak pemberian orang lain itu sama artinya dengan menolak rezeki. “Bagi pekerja kami yang bekerja di lapangan parkir, kalimat No Tipping yang tercantum pada seragam yang kami pakai itu tidak ada nilainya sama sekali,” ujarnya.

Jadi apa tujuan adanya bordiran kalimat “No Tipping” yang tertempel pada seragam mereka? Para pekerja parkir sebenarnya sudah meminta kepada pihak atasan untuk mengganti seragamnya dengan meniadakan kalimat “No Tipping” tersebut. Namun mereka masih belum mendapat jawaban pasti dari pihak atasan.

Lain halnya dengan yang dikatakan Pak Agiw Capalera Sukarta (27), koordinator pekerja di lapangan parkir UNPAR yang mengatakan bahwa seragam itu merupakan ciri khas SPI (Secure Packatama Indonesia), perusahaan yang bekerja sama dengan UNPAR dalam mengelola hal perpakiran. Ia memang ingin menghilangkan kalimat yang tercantum dalam seragam tersebut, namun ia tidak menginginkan adanya sistem dalam sistem.

Selain biaya “titip kunci” yang bisa dikatakan sebagai uang tip “paksaan”, ada juga pegawai parkir lapangan motor yang memaksa meminta bayaran Rp 5.000,- karena ada barang yang tertinggal di pos motor, seperti yang dialami oleh mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang menolak disebut namanya. “Tukang parkirnya minta upah kali, kan dia udah mau jaga barang saya,” ujar mahasiswa tersebut.

Banyak keluhan terlontar dari mulut mahasiswa. Selain biaya “titip kunci” dan biaya lain-lain yang mahal, mahasiswa juga banyak merasa dirugikan oleh pegawai lapangan parkir di UNPAR. Salah satunya adalah yang dialami oleh mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis yang enggan disebut namanya. Ia mengaku bahwa fasilitas air conditioner (AC) dalam mobilnya pernah digunakan oleh pegawai parkir di lapangan tanpa izin. Karena menurut mahasiswa tersebut, ia selalu mematikan AC sebelum mesin mobil dimatikan.

Pak Agiw mengeluarkan pendapat tentang masalah ini. Ia mengatakan bahwa mahasiswa masih enggan mengeluarkan unek-unek dan komplain tentang kekurangan pelayanan parkir di UNPAR, sehingga pihak lapangan parkir UNPAR merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. (US)

Related posts

One Comment;

*

*

Top