Munir, Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun. Bagaimana seorang pahlawan mesti dikenang? Saya tak pernah suka pada konsep pahlawan. Pahlawan cenderung membentuk imaji sesosok manusia yang superior, seringkali egois, dan kadang melahirkan jarak.  Mereka adalah manusia pilihan yang menolak bekerja secara komunal. Lebih sering bekerja sendiri karena menilai tak ada manusia lain yang setara dan bisa bekerja sebaik dirinya.

Kepahlawanan adalah bahasa lain fasisme. Konsep ini cenderung melahirkan kebanggaan semu. Tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau mendefinisikan pahlawan. Ia merupakan terma yang abstrak, cair, dan multiinterpertasi. Konsep demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak jarang malah hanya membawa kemudharatan.

Tapi, bagi saya, ada konsep sederhana tentang pahlawan, yakni orang-orang yang mampu membawa kita keluar dari kegelapan. Cahaya terang setelah lama takluk pada sesuatu yang suram. Pahlawan yang demikian tidak mengadili, ia menunjukkan jalan dan memberi contoh dengan berjalan seiring.

Namun, mengharapkan pahlawan yang demikian di Indonesia sama seperti menunggu Gajah Mada Bangkit kembali. Kita akan dipaksa berhadapan dengah harapan dan hasil akhir yang sudah ditentukan. Kepahlawanan hanya sekadar alas yang diinjak-injak. Nilai disusun, jasa dibuat, dan klaim perihal sejarah diplintir.

Tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau mendefinisikan pahlawan. Ia merupakan terma yang abstrak, cair, dan multiinterpertasi. Konsep demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak jarang malah hanya membawa kemudharatan.

Tapi, bagi saya, ada konsep sederhana tentang pahlawan, yakni orang-orang yang mampu membawa kita keluar dari kegelapan. Cahaya terang setelah lama takluk pada sesuatu yang suram. Pahlawan yang demikian tidak mengadili, ia menunjukkan jalan dan memberi contoh dengan berjalan seiring.

Bagi saya kata pahlawan adalah sinonim untuk munir , Kegelapan membuat kita ragu dan cahaya memberikan kita kepastian. Apakah kita akan menyerah? Kita Semua tahu kata munir berarti penerang , untuk saya ia menjadikan kita tidak takut akan kegelapan , perjuangan di negeri ini adalah perjuangan melawan kegelapan dan ketakutan terhadap teror.Usaha usaha orang orang di negeri ini bermacam macam dan dibidangnya masing masing Ada yang keras berteriak di jalan sembari mengangkat toa; ada yang saleh membaca lantas menulis usaha keadilan; ada pula yang berjuang dengan diam-diam seraya memberdayakan masyarakat sekitarnya.Dalam banyak hal, Munir berusaha menyadarkan pada kita, mereka yang ditindas adalah manusia yang sama dengan kita. Namun, seperti biasa, suaranya barangkali sudah redup, mulai hilang di tengah hiruk-pikuk televisi dan struk tagihan kartu kredit.

Mungkin kalian semua memang mempunyai satu atau dua teman yang menganggap remeh beberapa permasalah dinegeri ini seperti contoh masalah papua sebagai usaha merongrong nasionalisme.Kita hidup sepanjang hari dengan ratusan hiburan yang memborbardir imaji bahwa negeri ini baik-baik saja. Berapa persen dari penduduk negeri ini yang tahu jika pernah ada kasus Talangsari, kasus pembantaian di Aceh, kasus Tanjung Priok, Sum Kuning, Tragedi Semanggi, Marsinah, dan kasus pembantaian atas nama PKI. Seolah-olah label komunisme memberi kita kewenangan untuk membunuh, memperkosa lantas merebut hak hidup orang lain.

Semoga dari sekian banyaknya penduduk di negeri ini sadar bahwa dengan mereka tidak peduli dengan kejahatan yang terjadi, mereka turut andil di dalamnya.

Related posts

*

*

Top