Mimpi(kah) Revolusi Mental (?)

sumber: indoprogress.com sumber: indoprogress.com

Oleh Noorhan F. Pambudi*

 

“It is no single element,  but rather this whole combination, that contitutes scientific management, which may be summarized :

Science, not rule of thumb.

Harmony, not discord.

Cooperation, not individualism.

Maximum output, in place of restricted output.

The development of each man to his greatest efficiency and prosperity.”

Frederick W Taylor (1856-1915) dalam bukunya Princple of Scientific Management

 

Hiruk pikuk pemilihan presiden telah jauh meninggalkan kita, tapi saya tidak pernah lupa satu hal. Satu hal itu ialah terpekiknya revolusi mental saat presiden kita saat ini menjadi idola bagi sebagian masyarakat Indonesia. Kenapa saya tidak lupa? Jujur saja saya mengingat hal tersebut karena ada kaitannya dengan jurusan saya saat menjalani studi S-1 dulu di teknik industri. Jika anda membaca kutipan yang saya cantumkan di awal artikel ini, itu adalah tulisan yang berasal dari seorang yang tersohor bagi lulusan teknik industri. Frederick W. Taylor merupakan pencetus scientific management yang lebih kita kenal sebagai bapak teknik industri. Kutipan ini menggambarkan kondisi Indonesia dan cita-cita yang didengungkan pemimpinnya saat ini.

Semangat yang dibawa oleh jurusan saya selalu sama sampai teknik industri eksis hingga saat ini yakni : efisiensi. Saat dicetuskannya scientific management, semangat efisiensi dihembuskan ke dalam berbagai sistem yang ada. Bukan hanya lantai produksi di pabrik tetapi juga birokrasi pemerintahan. Taylor memang merupakan ahli dalam bidang manufaktur dan berfokus pada efisiensi di lantai produksi meskipun pada bukunya dia juga membahas efisiensi pada sistem lainnya. Namun saat itu pemikiran Taylor pun didukung oleh Max Weber yang tentu tak asing bagi orang-orang yang berlatarbelakang pendidikan ilmu sosial. Max Weber merinci kembali efisiensi yang dapat diterapkan pada birokrasi. Selain itu terdapat pula Henri Fayol yang mengedepankan efisiensi dalam manajemen. Bahkan hal ini didukung oleh politisi yakni Presiden Theodore Rosevelt yang menyebutnya sebagai national efficiency sebagaimana yang disebutkan Daniel Wren dalam bukunya The History of Management Thought. Sehingga semangat efisiensi tersebar luas dan menjadi tujuan bersama bagi semua pihak.

Banyak yang mungkin bertanya mengenai hubungan apa sebenarnya saya mengaitkannya dengan revolusi mental Joko Widodo. Saya hanya tinggal merujuk pada kalimat terakhir pada kutipan yang ada di atas : “The development of each man to his greatest efficiency and prosperity.” Semangat Taylor untuk mengembangkan scientific management di Amerika Serikat ialah untuk mengembangkan setiap orang dari berbagai unsur baik atasan maupun bawahan menuju kondisi efisiensi dan kemakmuran yang terbaik dalam menjalankan sistem yang ada. Poin inilah yang membedakan antara scientific management dan cara berpikir efisien yang biasa. Hal inilah yang dimaksud oleh Taylor sebagai great mental revolution alias revolusi mental. Entah apakah ini yang dimaksud oleh presiden kita atau bukan?

Jika ya maka sesungguhnya saya merasa terpanggil karena ini erat kaitannya dengan pendidikan yang saya lalui. Jika tidak maka apakah ini hanya sebuah janji palsu lainnya dari sebuah dinamika politik yang berjalan di negeri ini. Jujur hingga saat ini saya masih menunggu. Menunggu mimpi revolusi mental menjadi nyata. Namun beberapa kenyataan yang terjadi seiring berjalannya waktu menurunkan rasa optimis saya. Menunggu untuk menyambut mimpi-mimpi semu lainnya yang telah lama terlupakan. Menambah dosa yang sama bagi kita sebagai rakyat Indonesia : lupa akan janji dan akan selalu lupa untuk menagihnya. Menguatkan posisi kita sebagai rakyat pelupa dengan pemimpin yang juga seorang pelupa. Mimpikah revolusi mental? Akankah kita menunggu sekaligus berharap atau kembali bermimpi untuk tertidur.

 

*penulis adalah alumni Fakultas Teknologi Industri Unpar angkatan 2009.

Related posts

*

*

Top