Menyoal Konsep Adaptasi Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru Angkatan 2015/206 sedang menjalani INAP. dok/ PM UNPAR Mahasiswa Baru Angkatan 2015/206 sedang menjalani INAP. dok/ PM UNPAR

Oleh: Vincet Fabian*

Baru-baru ini, rangkaian orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) resmi berubah nama dari INAP menjadi SIAP. Perubahan itu terjadi lantaran akusisi pihak universitas terhadap program tersebut. Meskipun demikian, makna dari program tersebut tetap mengangkat inisasi dan adaptasi.

Dalam rangkaian yang disebut SIAP itulah, mahasiswa baru menjalani tahapan yang meresmikan dirinya sebagai mahasiswa. Di samping itu, seorang mahasiswa baru juga dituntut untuk menyesuaikan diri suasana kampus yang mereka masuki. Baik pergaulan, organisasi, maupun sistem pembelajaran yang lebih mandiri. Hal tersebut rasanya penting juga lantaran perbedaan situasi antara SMA dan universitas.

Akan tetapi, konsep adaptasi dirasa perlu disoroti sebab menyangkut makna menyesuaikan diri. Berbicara tentang manusia, kata “adaptasi” tentu kurang cocok mengingat adaptasi seringkali merujuk pada binatang. Meskipun terdengar sepele, Freire mengkritisinya sebagai upaya penjinakkan, penaklukan, dan domestifikasi.

Kritik Freire bisa jadi terkesan berlebihan. Namun, permasalahannya jika kata “adaptasi” digunakan berarti merujuk pada sebuah situasi yang telah lama ada dan diharapkan tidak berubah atau diubah. Alhasil, mereka yang baru masuk cukup menerima dan menyesuaikan dirinya. Dengan kata lain, ada keinginan untuk menjaga status quo dan menetralisir segala niat atau upaya mengubahnya.

Penyesuaian terhadap situasi yang baik dan pencegahan situasi yang buruk memang dapat dibenarkan. Namun, apa jadinya jika justru sebaliknyalah yang terjadi? Merujuk pada sikap universitas yang setengah-setengah untuk transparan dan enggan berdialog menjadi acuannya.

Hal tersebut rasanya semakin dipertegas mengingat hadirnya Spiritualitas Dan Nilai Dasar Unpar (SINDU). Dalam pandangan umum, program ini patut dipuji kalau perlu disanjung setinggi-tingginya. Tentu saja, tujuannya memang baik yaitu memberi refleksi dan bimbingan dalam berperilaku yang baik. Isinya saja nilai-nilai pendiri, gereja, dan budaya Sunda yang dianggap patut ditiru.

Terlepas dari tampilannya yang positif serta tanpa bermaksud sinis, SINDU dirasa menjadi upaya universitas untuk memaksakan tujuan baiknya. Seperti halnya P4 pada orde baru, persamaan antara SINDU dan P4 cukup kontras; tajam ke bawah, tumpul ke atas. Penekanannya hanya sebatas mampu dan tahu berperilaku baik, tetapi tidak cukup membangun kemampuan menilai situasi terlebih lagi kondisi universitas berdasarkan nilai SINDU. Oleh karena itu, keberhasilan SINDU justru ditentukan apabila pihak universitas terbuka untuk dikritisi sesuai nilai-nilai yang mereka ajarkan.

Sebaliknya konsep yang harus diterapkan adalah “Integrasi”. Integrasi meletakkan mahasiswa pada posisi seimbang dan sederajat. Hal itu ditegaskan pada penelitian Elizabeth Hurlock tentang usia remaja dalam Psikologi Perkembangan, “Usia dimana anak tidak merasa dibawah tingkat orang –orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang –kurangnya masalah hak.” Oleh karena itu, segala persepsi bahwa mahasiswa baru berada pada tingkatan yang lebih rendah adalah keliru. Di tambah lagi, menjelang atau saat mencapai usia tujuh belas tahun, mereka sudah dikategorikan sebagai orang dewasa.

Selain itu, melalui “Adaptasi”, kampus memang menginginkan mahasiswa berperilaku baik, tetapi tidak cukup baik untuk menghindari penyadaran akan kekacauan situasi yang ada. Jika menggunakan konsep “Integrasi” yang terjadi adalah upaya merangkul dan berdialog. Dibanding hanya terus mencekokkan apa saja yang harus mereka kenal dan lakukan di kampus, justru merekalah yang harus menyadarinya. Dengan kata lain, setiap besar pengetahuan yang dibawa mahasiswa baru harus dihargai dibanding memandang mereka sebagai pribadi yang kosong.

Upaya tersebut juga yang menentukan terbuka tidaknya pintu problematisasi bagi mahasiswa terhadap kampus. Problematisasi itu juga yang menentukan apakah mahasiswa dapat lebih jernih melihat persoalan atau hanya melihat semuanya baik-baik saja. Di samping itu, timbul juga keberanian untuk membicarakan, turun tangan, dan menghadapi masalah dibanding menyerah patuh terhadap putusan orang lain.

Konsep “Adaptasi” tentu tidak membuka kesempatan itu sebab goal akhirnya adalah menjaga status quo melalui sikap apatis. Hal itu terlihat jelas dalam pengenalan yang dilakukan selama SIAP. Beberapa di antaranya : Dwifungsi peran lembaga Majelis Persatuan Mahasiswa (MPM), latar belakang pembangunan gedung baru, dan posisi yayasan UNPAR (Tidak diperkenalkan, tetapi turut mempengaruhi kebijakan kampus). Dibanding hanya memperkenalkan, adakah ruang bagi mahasiswa baru untuk memberikan pendapatnya atau ia hanya boleh menerima mentah-mentah segala penjelasan normatif? Sebaliknya, konsep “Integrasi” menawarkan ruang bagi mahasiswa baru untuk berpikir ulang mengenai apa yang mereka lihat dan dengar. Tujuannya memberi sinyal bahwa kesempatan bertanya dan beropini adalah legal, tetapi tetap dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, melepas konsep “Adaptasi” dan mendekap konsep “Integrasi” tentu mendatangkan konsekuensi. Konsekuensi itu tidak lain berupa terguncangnya status quo dan tidak lagi dapat memberi penjelasan maupun jawaban normatif. Solusi integrasi memang belum tentu disenangi para pihak di tingkat struktural. Namun, jika mahasiswa adalah benar manusia, integrasilah yang terjadi bukan adaptasi.


* Penulis adalah mahasiswa Teknik Industri Unpar angkatan 2014

 

 

Related posts

One Comment;

  1. Johnson Huang said:

    “Berbicara tentang manusia, kata “adaptasi” tentu kurang cocok mengingat adaptasi seringkali merujuk pada binatang.”

    Bukankah justru manusia adalah “binatang” dengan kemampuan adaptasi tertinggi, membuatnya bisa hidup di berbagai lingkungan ekstrim? Tentu jika kita menerima evolusi sebagai kebenaran – maka manusia tidak lebih adalah binatang yang berbagi moyang dengan primata lainnya. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menempatkan dirinya di tempat yang lebih tinggi dari binatang – binatang lainnya.

    “Namun, permasalahannya jika kata “adaptasi” digunakan berarti merujuk pada sebuah situasi yang telah lama ada dan diharapkan tidak berubah atau diubah. Alhasil, mereka yang baru masuk cukup menerima dan menyesuaikan dirinya. Dengan kata lain, ada keinginan untuk menjaga status quo dan menetralisir segala niat atau upaya mengubahnya.”

    Tidak juga. Adaptasi juga akan terjadi bila situasi / lingkungan eksisting berubah bagi suatu individu dan maka karena itu individu tersebut akan beradaptasi agar dapat bertahan hidup di lingkungan yang telah berubah tersebut. Apakah MENGUBAH suatu lingkungan tersebut adalah suatu bentuk dari adaptasi tersebut, itu hal lain.

    Integrasi dan Adaptasi tidak harus dibuat menjadi sesuatu yang bertolak belakang – Keduanya sama – sama akan berlangsung pada suatu individu terutama yang menghadapi lingkungan baru dan keduanya dapat diterapkan pada program ospek yang ada sekarang ini.

*

*

Top