Menjelang Acara “Gelora Reformasi”: Kegiatan Seni Untuk Reformasi di Tengah Ancaman

Edisi 31 Mei 1998

“Tanggal 4 Juni bakal ada apaan sih?”, tanya seorang mahasiswa, melihat selebaran kertas bertuliskan “Gelora Reformasi” yang tertempel di papan pengumuman fakultas di Unpar.

Komite Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan akan menyelenggarakan kegiatan seni bertajuk “Gelora Reformasi” pada 4 Juni 1998 malam, di Plaza GSG. Acara yang diketuai oleh I. Loyola I.K. tersebut digelar, dengan tujuan untuk mengingat kembali belum selesainya perjuangan menyuarakan reformasi, menjaga semangat reformasi yang telah ada, serta mempersatukan kembali visi tentang reformasi.

Acara yang dipersiapkan hanya sekitar 2 minggu tersebut, akan menghadirkan Teater Musikal dari Arsitektur Unpar, Teater Puncta, Dede Haris, dan beberapa partisipan lainnya. Namun, yang paling dinanti dalam acara tersebut adalah kehadiran Harry Roesli bersama Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), yang berencana untuk menayangkan film dokumenter Peristiwa Insiden 12 Mei 1998, diiringi dengan pertunjukkan musik lagu-lagu perjuangan versi Harry Roesli, seperti “Bharata Yudha” dan “Jangan Menangis Indonesia”.

Seperti yang diberitakan di Pikiran Rakyat (27/8), Harry Roesli sempat mendapat serangkaian aksi teror, melalui telepon gelap maupun lemparan batu ke halaman rumah, sehubungan niatnya untuk menayangkan kembali tayangan berita insiden 12 Mei 1998. “Oo, sudah merasa kuat, ya? Jika masih berniat memutar berita-berita tersebut kami tak segan-segan melibas Anda,” kata Harry kepada Pikiran Rakyat (PR) menirukan ucapan seorang penelepon gelap.

Sekalipun mendapatkan ancaman, namun Harry Roesli tetap akan menayangkan potongan-potongan berita audio visual tersebut. “Tujuan saya bukan untuk mencari permasalah baru. Tetapi untuk bersama-sama merenung bahwa lahirnya tindak represif yang diakibatkan oleh arogansi kekuasaan hanya akan menciptakan penderitaan bagi rakyat banyak. Pada titik inilah kita perlu berdialog dengan batin kita, atau dengan siapa saja untuk menyelesaikan segala persoalan dengan musyawarah mufakat, bukan dengan kekerasan,” paparnya kepada PR. (e)

Related posts

*

*

Top