Mengintip Kehidupan Albino di Afrika

Salah seorang orang Albino Afrika berpose dengan orang Afrika. Dok/ Claudio Simunno Mercury Press. Salah seorang orang Albino Afrika berpose dengan orang Afrika. Dok/ Claudio Simunno Mercury Press.

INTERNASIONAL, MP – Menjadi seorang albino di Afrika bukanlah hal yang biasa ataupun mudah. Eksistensi mereka meliputi satu berbanding 5.000 hingga 15.000 kelahiran di Afrika.  Hal ini pun kemudian menjadi momok menyeramkan karena perburuan terhadap orang-orang berkelainan pigmen ini kerap terjadi di Afrika, terutama di Tanzania dan Malawi. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahkan telah mengumumkan krisis albino di Malawi dimana para albino ini bisa punah. Lalu apa sebenarnya yang terjadi di Afrika?

Para albino di Afrika sering diburu untuk diambil bagian-bagian tubuhnya karena dipercaya dapat membawa keberuntungan, kekayaan, dan kesuksesan politik. Tulang dari para albino pun disebut-sebut mengandung emas serta kekuatan magis di dalamnya. Kepercayaan lokal lainnya juga mengatakan bahwa hubungan seksual dengan perempuan albino akan menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Maka dari itu, tak heran jika angka pemerkosaan dan pelecehan seksual pada perempuan albino pun meningkat.

Di Tanzania anak-anak albino dijuluki sebagai hantu sehingga sering kali diburu oleh dukun-dukun yang juga disebut sebagai albino hunters atau pemburu albino. Sama seperti sebelumnya, bagian tubuh dari anak-anak albino ini akan digunakan untuk menunjang ilmu gaib dan pembuatan obat-obatan. Bahkan pada tahun 2016, seorang dukun memotong tangan seorang anak berusia enam tahun di Tanzania agar dapat dijadikan jimat.

Bukan hanya itu, kepercayaan ini juga telah memengaruhi cara pikir sebagian besar orang dengan kelainan albinisme dan orang tua di Afrika yang mempunyai anak albino. Mereka hidup di bawah ketakutan akan risiko kematian yang dapat dihadapi kapan saja. Anak-anak albino di Afrika juga sering mengalami diskriminasi, baik di sekolah maupun di lingkungan bermain. Bahkan ada anak-anak yang tidak disekolahkan orang tuanya mengingat risiko besar yang harus ditanggung anaknya tersebut. Hal ini semakin dikuatkan oleh fakta pada April 2016 terdapat empat orang termasuk seorang bayi albino tewas dibunuh di Malawi.

Malawi sebenarnya termasuk dalam kategori negara tanpa konflik besar. Akan tetapi, pengaruh buruk datang dari tetangganya yaitu Tanzania terkait akan stereotip-stereotipe terhadap para albino yang disebabkan oleh kepercayaan setempat. Meski pemerintah Tanzania telah melakukan berbagai pencegahan serta penyelesaian akan masalah ini, di sisi lain pemerintah Malawi cenderung kurang mengambil tindakan. Hal ini terlihat dari tidak dimonitorinya para albino sehingga kejahatan kriminal terhadap mereka tidak ‘tertangkap kamera” dan tidak dapat dilaporkan pada hukum. Jika di Tanzania pemburu albino adalah mereka yang berprofesi sebagai dukun, hal berbeda terjadi di Malawi. Di Malawi orang-orang cenderung memburu albino karena diiming-imingi oleh uang semata.

Pada tahun 2015, Under the Same Sun (UTSS) melaporkan bahwa terdapat 448 kasus penyerangan terhadap albino di 25 negara di seluruh Afrika. Penyerangan ini mencakup mutilasi, kekerasan, pemerkosaan, dan penculikan. Disampaikan pula oleh Ikponwosa Ero yang merupakan seorang albino dan bekerja di PBB juga bahwa ada 10.000 albino yang terancam hilang keberadaannya. Tragisnya, setelah meninggal pun para pemburu albino tega mengambil apa yang tersisa di kuburan.

 

ERIANA ERIGE

 

Related posts

*

*

Top