Mengintip Isu Pedofilia di Indonesia

sumber: pedofilia. Dok./18karatreggae sumber: pedofilia. Dok./18karatreggae

Nasional, MP – Mengunggah foto anak-anak di dunia maya sudah merupakan suatu hal yang dianggap biasa oleh para orang tua. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai ranah mengekspresikan kesayangan kita kepada sang anak dan juga memperlihatkan perkembangan sang anak kepada teman-teman kita. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bahwa foto-foto yang telah di­unggah sedang disebarkan, diperbincangkan, dan dinikmati oleh para pedopfil dimanapun mereka berada.

Risrona Simorangkir merupakan seorang ibu terhadap dua anak yang telah mengunggah foto kedua anaknya di Facebook sejak kelahiran keduanya. Melalui BBC, cerita sang ibu pun dipaparkan ketika dirinya bersinggungan dengan kasus pedofilia di negaranya. Dirinya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu grup pedofilia setelah menemukan suatu blog mengenai sebuah grup yang membagikan foto-foto pelecehan seksual terhadap anak-anak.  Sang ibu pun bergabung dengan grup tersebut selama empat jam saja. Dirinya mengaku para bahwa anggota mendiskusikan bagaimana cara mendekati, merangsang, dan berhubungan intim dengan anak-anak. Grup ini kemudian dilaporkan kepada Facebook dan juga polisi.

Selanjutnya seperti yang dilansir dari The Jakarta Post, grup yang telah ditutup oleh Facebook ini beranggotakan lebih dari 7.000 anggota dan bernama Official Candy’s Group. Grup ini mengharuskan anggotanya untuk mengunggah tautan-tautan berisi video pornografi anak-anak secara rutin. Terkadang video-video yang diunggah pun dibuat sendiri oleh para anggotanya. Sang anggota pun akan mendapatkan Rp 15.000,- dengan setiap klik yang dilakukan terhadap tautan videonya.

Perlu diketahui bahwa grup ini ditemukan setelah pada tahun 2016 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan kebijakan pengibirian secara kimiawi kepada para pelaku kejahatan seksual. Sang presiden pun menyampaikan kepada BBC bahwa konstitusi Indonesia sangatlah menghormati Hak Asasi Manusia (HAM), akan tetapi Indonesia tidak mengenal kompromi mengenai isu kejahatan seksual. Kebijakan yang juga diterapkan di Polandia, Turki, Korea Selatan, Rusia, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) ditentang oleh Ikatan Dokter Indonesia karena melanggar etika profesi. Akan tetapi, Presiden Jokowi tetap ingin menjalankan kebijakan ini karena dinilai dapat menurunkan dan bahkan menghilangkan kejahatan seksual di Indonesia.

Kasus pedofilia di Indonesia menjadi perhatian internasional sejak tahun 2001. Pada tahun tersebut, Seorang turis dari Italia bernama Mario Manara melecehkan seorang anak lelaki berumur 12 tahun di Pantai Lovina, Bali. Kasus-kasus pedofilia ini pun mencapai puncaknya pada tahun 2014, dimana Polisi Internasional (Interpol) dan juga Biro Investigasi Federal (FBI) mempaparkan bahwa kasus pedophilia di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia. Tempo mengutip bahwa Suhardi Alius sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri tidak percaya dengan data tahun 2014 tersebut dan merasa bahwa Thailand masih menjadi Negara dengan kasus pedofilia tertinggi di Asia. Ketidakpercayaan Suhardi pun hilang ketika kedua agensi menyodorkan data-data kasus yang bersangkutan kepadanya.

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus-kasus kejahatan seksual terhadap minor di Indonesia memang telah merajela, dimana daerah-daerah terpencil pun dapat mengakses pornografi anak-anak. Selain itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun menyarankan bahwa orang tua haruslah mengajarkan anak-anak mereka mengenai tubuh mereka sendiri. Terutama mengenai bagian-bagian mana saja yang harus mereka lindungi dan tidak boleh dilihat atau dipegang oleh orang lain.

TANYA LEE NATHALIA

Related posts

*

*

Top