Mengenal dan Mendalami Pemikiran Arief Sidharta lewat “Malam Ariefian”

Suasana acara Malam Ariefian, Dok. MP Suasana acara Malam Ariefian, Dok. MP

STOPPRESS MP, UNPAR – Dalam rangka memperkenalkan dan mendalami pemikiran dan sosok Almarhum Arief Sidharta, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Humaniora Unpar menyelenggarakan acara “Malam Ariefian” di ruang 2305 gedung Fakultas Hukum Unpar pada Jumat (19/2). Selain kegiatan diskusi, “Malam Ariefian” juga  diisi dengan pertunjukan musik dan musikalisasi puisi.

“Acara ini dibagi atas 2 sesi diskusi. Kedua sesi diskusi menggunakan topik yang sama yaitu Melanjutkan Pengembanan Hukum Indonesia. Disajikan pula pertunjukan musik, pemutaran video, serta pembacaan puisi oleh Romo Fabianus S. Heatubun untuk menghibur tamu undangan yang hadir,” ungkap Ray Andrew Manuela selaku ketua pelaksana acara.

“Malam Ariefian” lahir dari para inisiator yang tetap menginginkan pemikiran Almarhum Arief Sidharta tetap “hidup”. Salah satu inisiator sekaligus moderator diskusi, Tanius Sebastian, mengungkapkan bahwa pemikiran Bapak Arief sangat menginspirasi banyak pihak. “Meskipun beliau telah tiada, tetapi dengan kita mengenal, mengkritik, membaca, dan menulis pemikiran-pemikirannya,  akan sangat berguna khususnya bagi pengembanan hukum di Indonesia,” ujar salah satu dosen di Fakultas Hukum ini saat diwawancara MP seusai acara.

Diskusi pada malam itu mengundang Shidarta dan Tristam P. Mulyono sebagai pembicara di sesi pertama, dilanjutkan oleh Donny Danardono dan Herlambang P. Wiratraman sebagai pembicara di sesi kedua. “Kami (inisiator dan panitia -red) memilih para narasumber tersebut karena mereka sangat dekat dengan Pak Arief. Keempat narasumber pernah menggantikan almarhum Arief Sidharta sebagai ketua Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia,” imbuh Tanius.

Acara ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari tamu undangan yang hadir. “Topik diskusinya sangat menarik. Saya dapat mengenal lebih dalam dan semakin kagum dengan sosok Bapak Arief Sidharta. Acara ini juga berhasil memadukan antara teori-teori hukum yang rumit itu dengan adanya pertunjukan seni musik dan pembacaan puisi yang membuat saya merinding,”  ujar salah satu tamu undangan dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Lovina, saat dimintai tanggapan soal acara.

AGNES FAKHIRA | HILMY

Related posts

*

*

Top