Mengapa Kita Membutuhkan “Arief Sidharta”?

Prof. Arief Sidharta (alm.) selama masa aktifnya di Unpar. /Dok. MP Prof. Arief Sidharta (alm.) selama masa aktifnya di Unpar. /Dok. MP

Oleh: Tanius Sebastian 

Artikel ini pernah dipublikasikan dalam buku kumpulan tulisan mahasiswa dan alumni Fakultas Hukum Unpar yang dipersembahkan untuk ulang tahun ke-76, Pak Arief Sidharta, tahun lalu. Pada 24 November 2015 yang lalu, beliau telah berpulang. Kepergiannya yang seketika membuat banyak kalangan berduka dan bersedih. Melalui artikel ini, diharapkan kita dapat memahami alasan mengapa sosok dan pemikiran Pak Arief sedemikian berarti bagi banyak orang, khususnya bagi dunia Unpar.

Artikel ini juga sekiranya menjadi pengingat bahwa ada kelompok orang muda yang telah diinspirasi oleh Pak Arief. Mereka suka berkumpul, lesehan di lantai jalanan kampus Unpar, dan berdiskusi tentang masalah-masalah sosial dari berbagai perspektif, terutama perspektif ilmu hukum Indonesia. Pada mulanya, kelompok tersebut lahir dan menamakan dirinya “Lingkar Studi Arief Sidharta”. Waktu bergulir, generasi berganti, dan sayup-sayup kelompok itu kini dikenal sebagai “Ariefian”.

Mengapa kita membutuhkan “Arief Sidharta”? Ijinkan saya menjelaskan jawabannya berdasarkan kesan, memori, dan pengetahuan saya yang subjektivitas dan objektivitasnya saling silang. Sebab, beberapa fakta yang ada memang bergantung pada diri saya sendiri. Kendati ada pula fakta yang keberadaannya terlepas dari anggapan siapa pun dan yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

“Arief Sidharta” adalah sebuah nama. Pada Agustus 2007, sebagai seorang mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar), saya mengetahui bahwa pemilik nama ini adalah seorang dosen. Ia mengantarkan saya memasuki dunia ilmu hukum untuk pertama kalinya, lewat kuliah. Semuanya tampak biasa meski saya beberapa kali mendapati pertanyaan: “Pak Arief masih ngajar?!”

Dari nadanya, ini bukan sekadar pertanyaan tapi suatu keheranan. Sampai akhirnya saya mengetahui lebih lanjut bahwa ia adalah sosok yang pengabdiannya pada pendidikan ilmu hukum dihormati oleh banyak orang. Ia dirayakan. Yang saya ingat, pada 2008, seorang senior mahasiswa menjadi panitia perayaan 70 tahunnya di kampus. Lalu keheranan dan acara perayaan itu berlalu, sambil sedikit demi sedikit saya mulai makin mengenalnya dari berbagai buku kuliah.

Maka, “Arief Sidharta” merupakan sebuah nama yang membuat sekian pihak heran sekaligus merayakannya. Para mahasiswa/i – sadar atau tidak sadar – membutuhkannya. Begitu halnya dengan Unpar apalagi FH Unpar. Itu semua karena dedikasinya yang total. Ini adalah alasan yang pertama.

“Arief Sidharta” adalah sebuah pemikiran. Demikianlah saya mengerti karya-karyanya. Mulai dari Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum yang, bagi saya, adalah magnum opus-nya dalam usaha mencari karakter ilmiah ilmu hukum Indonesia. “Apakah ilmu hukum itu adalah ilmu?”, kira-kira begitu permasalahan yang digulati oleh pemikirannya. Lalu yang baru-baru ini – akhirnya – dipublikasikan, Ilmu Hukum Indonesia, yang mengetengahkan karakter ilmu hukum yang sistematis dan responsif.

Menurut saya, pemikiran dalam karya-karyanya itu adalah dialektika antara idealisme Pancasila dan filsafat ilmu pengetahuan. Soal Pancasila, kita bisa melihat adanya kandungan gagasan dari Soediman Karthohadiprodjo sedangkan mengenai filsafat ilmu, pemikiran dari C.A. van Peursen cukup berpengaruh, di samping dari filosof hermeneutika macam H.G. Gadamer dan Martin Heidegger.

Sederet karya dari tokoh-tokoh pemikir hukum, antara lain seperti Paul Scholten, Nonet-Selznick, Hans Kelsen, H.L.A. Hart, Ronald Dworkin, termasuk Sunaryati Hartono, Satjipto Rahardjo, Soetandyo Wignjosoebroto, dan tentunya Mochtar Kusuma-Atmadja, juga tampak memperkaya dialektika pemikirannya. Pada sebuah kesempatan diskusi, ia berujar bahwa Pak Mochtar telah mengajarkannya cara berpikir yuridis dan Pak Diman telah menanamkan kepadanya nilai dan idealisme.

Maka, “Arief Sidharta” merupakan sintesis dari pemikiran yang ilmiah dan yang Pancasilais. Ia kembali dirayakan, yakni melalui karya-karyanya tadi, termasuk melalui sejumlah teks yang diterjemahkan olehnya dari bahasa Belanda dan Inggris tentang logika, teori hukum, dan filsafat ilmu. Dunia ilmu hukum Indonesia membutuhkannya. Ini adalah alasan yang kedua.

“Arief Sidharta” adalah seorang tokoh. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa ia adalah salah satu di antara tri sula pemikir hukum Indonesia. Dua tokoh lainnya adalah Satjipto Rahardjo yang merupakan Guru Besar Universitas Diponegoro dan Soetandyo Wignjosoebroto, Guru Besar Universitas Airlangga. Dengan respek yang diterimanya seperti itu, tentu beragam kesempatan, tawaran, dan fasilitas berdatangan kepadanya. Contohnya adalah antusiasme saat ia memberikan kuliah umum tentang pendidikan tinggi hukum dan filsafat hukum Pancasila.

Kuliah tersebut diselenggarakan oleh Business Law Binus University pada Oktober tahun lalu. Contoh yang lain adalah Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI) yang masih rutin mengadakan temu ilmiah tahunannya. Asosiasi tersebut lahir dari sebuah konferensi di FH Unpar pada 2011 dan ia menjadi ketuanya yang pertama. Akan tetapi, berbagai kehebatan yang melekat padanya itu bukanlah sebuah perayaan karena, secara kontras, ia toh masih seorang dosen biasa di almamaternya, sampai hari ini.

Di situ, ia bukan hanya mengajar di dalam kelas tapi juga bersikap; maju ke depan memprotes kedegilan penguasa otoriter. Di tengah gelora reformasi 1998, ia membacakan pernyataan sikap dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni Unpar, yang menuntut pemberhentian Presiden Soeharto.

“Arief Sidharta” merupakan kontra-argumen terhadap pandangan yang memisahkan ranah teori dan praktik dalam konteks pengembanan hukum. Ia mengatasi dualisme tersebut dengan memperlihatkan bahwa duduk perkaranya bukanlah mana yang lebih penting (teori atau praktik), melainkan bagaimana menghidupi hakikat pendidikan. Bahwa pendidikan tinggi hukum tidak hanya mengajarkan kepandaian keahlian hukum, tapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan serta mengasah hati nurani.

Bahwa berkecimpung dalam pendidikan tinggi hukum bukanlah prestise, tapi justru mengerjakan hal apa pun laiknya seorang dosen, bukan karena suka atau tidak suka, melainkan karena “harus”. Kalau kita percaya hakikat pendidikan seperti itu adalah kunci pemanusiaan manusia, maka kita membutuhkan “Arief Sidharta”. Ini adalah alasan yang berikutnya.

Masih ada lagi. “Arief Sidharta” adalah hasrat akan pengetahuan. Suatu waktu ia bercerita tentang perjalanannya berputar-putar mengelilingi wilayah Jakarta, sekadar untuk mengunjungi sebuah perguruan tinggi filsafat. Perjalanannya itu berujung dengan agak mengecewakan karena ia, bersama supir taksinya, tidak berhasil menemukan letak kampus perguruan tersebut. Boleh jadi ia kecewa lantaran belum bisa membaca satu atau dua buku di perpustakaan kampus itu.

Lalu “Arief Sidharta” adalah ia yang kepadanya saya berhutang dua hal. Hutang yang pertama, memfotokopikan buku-buku tentang universitas. Ia pernah bilang kalau ia ingin mempelajari sejarah dan gagasan-gagasan mengenai universitas. Hal ini menegaskan kembali hasratnya akan pengetahuan. Hutang yang kedua, meneliti dan menulis tentang metodologi ilmu hukum. Saya akan melakukannya dalam penulisan tesis saya.

Kemudian “Arief Sidharta” adalah…

Akhirnya, saya mesti memaksa diri sendiri supaya berhenti menyatakan alasan-alasan lain. Seandainya hal-hal di atas dirangkum, maka kita membutuhkan “Arief Sidharta” karena ia merupakan simbol yang merepresentasikan nilai-nilai yang diyakini pula oleh banyak pihak. Berkat simbol itu, kita memiliki sesuatu yang normatif, sebagai suatu ideal sekaligus sebagai sebuah kritik, atas refleksi apa itu hukum, apa itu pendidikan tinggi, dan apa itu Unpar.

Karena simbol itu mesti dihidupi supaya rohnya dapat menjelma menjadi bakti nyata bagi masyarakat – sebagaimana yang telah tampak dari sekian sosok muridnya, baik yang mengabdi sebagai dosen maupun yang berkarya di bidang-bidang lain – maka tentulah bahwa “Arief Sidharta” membutuhkan kita, sekarang dan selama-lamanya.

Jakarta, 6 Oktober 2014.

Tentang Penulis:
Tanius Sebastian
Kader Dosen Fakultas Hukum Unpar

Related posts

*

*

Top