Memaknai Sumpah Pemuda Melalui Puisi

STOPPRESS MP, UNPAR –  Seorang alumni mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia, Nuri Novianti Afidah, turut memeriahkan acara diskusi Sumpah Pemuda yang diadakan pada hari Rabu, 31 Oktober 2012, dengan membacakan dua buah puisi.

Nuri pada kesempatan kali ini turut membawakan puisi gubahan Chairil Anwar yang berjudul Persetujuan dengan Bung Karno dan juga puisi Tanah Air Mata yang merupakan karya dari Sutarji Calzoum Bachri.

“Khusus untuk puisi Chairil Anwar memang sengaja diminta oleh pihak panitia untuk saya bawakan, namun untuk Tanah Air Mata memang merupakan puisi pilihan saya, puisi ini saya pilih karena sarat makna dan dapat turut mengutarakan kecintaan saya terhadap Tanah Air,” ungkap Nuri yang ditemui setelah ia membacakan puisi-puisi tersebut.

Alumni jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengaku senang untuk ikut memeriahkan acara yang juga bertajuk anti kerasan dan anti korupsi. Baginya, acara ini sangat berhubungan dengan keadaan bangsa Indonesia, terutama kaum mudanya. Terlebih lagi pendekatan diskusi ini lebih merujuk pada pola bahasa dan budaya dan kaitannya dalam mencegah anti kekerasan dan anti korupsi.

“Selain itu, saya sangat senang telah menjadi salah satu pengisi acara ini karena saya berkesempatan untuk bertemu langsung, bahkan tampil di depan salah satu sastrawan favorit saya sejak dulu, Bapak Eka Budianta, yang juga menjadi pembicara,” tutup wanita berjilbab yang telah gemar membaca puisi sedari duduk di bangku Sekolah Dasar ini.

(Shafira Ayunindya/Adytio Nugroho)

Related posts

*

*

Top