Mediji Perkenalkan Dunia Film Dokumenter Kepada Mahasiswa

Mediji - Vincent F Mediji - Vincent F

STOPPRESS MP, UNPAR – Workshop Mediji (Mengenal Dokumenter Film Dengan Jitu) menghadirkan pengenalan seputar dunia dokumenter. Peserta yang hadir disuguhkan dengan wawasan tentang definisi dan teknik pembuatan film dokumenter. Bertempat di ruang Audio-Visual Gedung 3 kampus Ciumbuleuit Unpar, acara berlangsung pada Sabtu (14/11).

“Sebenarnya film dokumenter itu kan sebagai dokumentasi peradaban. Film dokumenter menjadi penting kalau arahnya mengubah sesuatu ke arah yang lebih baik,” ucap Tedika Puri Amanda selaku narasumber sekaligus praktisi film dokumenter saat ditemui seusai acara berlangsung. “Hari ini manfaatnya tidak tampak secara besar tapi minimal kita sudah mendokumentasikan peristiwa kecil yang sedang berlangsung di negara yang kita,” tambahnya.

Acara dimulai dengan pemutaran film dokumenter tentang seorang korban pembantaian tahun 1965 yang tidak dendam kepada negara. Melalui film itu, peserta diajak untuk menemukan langsung definisi film dokumenter. Pria yang juga bekerja sebagai kepala program Eagle Awards itu menjelaskan bahwa sebuah film dokumenter memiliki syarat wajib. Syarat wajib itu terdiri dari penafsiran, riset, dan kedekatan personal pembuat film. Menurutnya, hal itu yang membedakan film dokumenter dengan film dokumentasi yang ditampilkan mentah-mentah.

Selain itu, Tedi juga menguraikan teknis pembuatan film. Dimulai dengan ide cerita yang berangkat dari fakta dan didukung keberadaan konflik cerita seperti kegelisahan. Selanjutnya, film dibuat dengan memperhatikan elemen film seperti tokoh, cerita, ruang, dan waktu berikut struktur film yang terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. Disamping itu, Tedi juga menambahkan, bahwa sebagai pembuat film harus dapat menyesuaikan dengan keadaan dan level subjek. Tujuannya, agar subjek merasa nyaman sepanjang pembuatan film.

Terkait acara, Adriana Anjani (Ilmu Hubungan Internasional 2014) selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa mempelajari film dokumenter dapat membantu mengungkapkan sisi kehidupan manusia yang tidak disadari sehari-hari. “Film dokumenter itu mengangkat isu-isu kehidupan. Dengan film dokumenter itu, ya kita jadi sadar kalau ‘oh ada ya sisi kehidupan seperti itu’,” ucapnya.

Selain itu, Christian Nathael Wijaya sebagai salah satu peserta menyambut baik acara tesebut. Menurutnya, ia memerlukan ilmu dokumenter untuk menambah wawasannya di dunia pefilman. “Gue tuh sekarang kebuka tentang film dokumenter. Awalnya sih awam banget tapi sekarang udah mulai cerah,” ucap mahasiswa Jurusan Televisi dan Film, Universitas Padjajaran itu.

Adapun acara itu merupakan kerjasama Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HMPSIHI) dan Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI).

VINCENT FABIAN

Related posts

Top